Lebih dari 20 tahun bergelut dengan dunia pertanian, membuat Hari Budiharto banyak makan “asam garam”. Berawal menjadi penyuluh pertanian, kini dia memiliki lahan sendiri sebagai tempat riset. Pensiunan PNS itu ingin memajukan dunia pertanian di Blitar, dengan beberapa inovasi yang terus dikembangkannya.
MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH, Sukorejo, Radar Blitar
Deretan tanaman cabai subur itu menghiasi jalan gang masuk menuju Alam Lestari. Yakni sebuah pusat pelatihan pertanian dan pedesaan swadaya (P4S) di Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo.
Setibanya di sana, langsung disuguhi pemandangan sejumlah tanaman sayuran dengan sistem hidroponik di halaman rumah. Di sekeliling juga terpajang tanaman hias berbagai jenis, salah satunya anggrek.
Pusat pelatihan pertanian itu berdiri di lahan milik Hari Budiharto. Dialah sang empu pengelola tempat pelatihan pertanian tersebut.
Sejak dibuka pada Maret lalu, tempat itu resmi menjadi pusat pelatihan pertanian untuk masyarakat. Meski keberadaannya di kota, tempat itu terbuka untuk seluruh warga Blitar Raya. Terutama mereka yang ingin menambah wawasan serta keterampilan dalam bidang pertanian.
Karena bersifat swadaya, tentunya siapa saja yang ingin berkunjung ke sana tidak perlu merogoh kocek atau uang, alias gratis. Yang penting, seluruh ilmu yang telah ditularkan di Alam Lestari wajib diaplikasikan.
P4S ini salah satu program dari Kementerian Pertanian. Di sini mereka yang berkunjung bisa belajar tentang seluk beluk pertanian. “Mulai dari teknik menanam hingga membuat pupuk organik dengan bahan limbah,” ungkap Hari Budiharto kepada Koran ini ditemui pekan lalu.
Pengunjung tidak hanya belajar secara teknis. Namun juga dibekali semangat kemandirian. Dengan harapan, apa yang sudah dipelajari di Alam Lestari bisa dipraktikkan di rumah. Syukur-syukur bisa menghasilkan manfaat secara ekonomi.
Melalui Alam Lestari, Budi berusaha mengubah cara berpikir masyarakat, terutama petani Indonesia agar tidak ketergantungan. “Khususnya soal pupuk. Bahwa petani harus bisa mandiri dan bisa memproduksi pupuk sendiri,” ungkap pria 60 tahun itu.
Pusat pelatihan pertanian yang didirakannya telah dipersiapkan cukup lama. Yakni sejak dirinya masih aktif sebagai penyuluh pertanian di Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Blitar.
Budi memanfaatkan lahan miliknya seluas 1.500 meter persegi di samping rumahnya itu untuk tempat pelatihan. Di sana ditanami beragam jenis tanaman. Ada tanaman hias, buah-buahan, bunga, hingga tanaman pangan. Selain itu, juga ada beberapa petak kolam ikan. Di kolam itu dipelihara ikan lele, mujair, dan koi.
”Yang harus diketahui, pertanian itu bukan berbicara soal tanaman saja, tetapi juga tentang perikanan. Sebab, fokus kegiatan kami di sini tentang integrated farming (pertanian terpadu, Red),” kata pria yang pensiun PNS pada 2019 lalu itu.
Jauh sebelum Alam Lestari menjadi pusat pelatihan secara umum bagi masyarakat, Budi sudah mengawali dengan sejumlah kegiatan dan riset bidang pertanian. Lahan itu juga dijadikan tempat riset kala bertugas sebagai penyuluh pertanian di Kabupaten Blitar.
Berbagai ilmu pertanian yang diperoleh di lapangan selama menjadi penyuluh dijadikan bahan riset. Kelak, bisa menjadi temuan baru atau inovasi bermanfaat di dunia pertanian khususnya untuk petani Blitar Raya. Karena itulah, tak ada salahnya jika selepas pensiun dirinya ingin menularkan seluruh ilmunya kepada masyarakat.
Berkat usaha kerasnya membangun Alam Lestari, banyak lahir inovasi-inovasi pertanian. Di antaranya, menaman padi dengan sistem hidrogranik. Yakni menanam padi di atas kolam ikan dan membuat pupuk organik dari berbagai limbah sampah organik.
Kini, pusat pelatihan pertanian Alam Lestari milik Budi terus dikembangkan. Dia dibantu salah seorang rekannya, Dadang. Rekannya tersebut lebih fokus membantu bidang nutrisi. Baik itu nutrisi pertanian maupun perikanan. Di tempat tersebut, juga dijadikan Dadang untuk meriset tentang nutrisi khusunya pupuk organik cair buatan sendiri.
Sejumlah nutrisi atau pupuk organik yang dihasilkan oleh Alam Lestari juga telah diujicobakan ke tanaman petani. Salah satunya petani tembakau. Hasilnya, tembakau tumbuh subur dan berkualitas. Tak berbeda dengan penggunaan pupuk kimia bantuan pemerintah yang beredar. ”Kami tak sekadar mengujicobakan kepada petani dan lalu berhasil. Tetapi, kami ajari mereka (petani, Red) untuk bisa membuat sendiri. Jangan beli ke kami. Kami tidak mau,” ujar Budi, yang juga lulusan S2 Pertanian di Uniska.
Meski telah berhasil membuat nutrisi pertanian, Budi tidak berniat mematenkan. Sebab, butuh biaya tidak sedikit untuk memiliki hak paten. Terlebih biaya untuk meriset. Selain itu, dia juga tidak ingin memperjualbelikan nutrisi tanaman tersebut. ”Kalau nanti saya jual belikan, nanti petani tidak bisa mandiri, tetap ketergantungan. Meski saya bisa untung, tetapi kami ingin mereka mandiri dengan hasil keringatnya sendiri,” tuturnya.
Alam Lestari kini menjadi jujugan sejumlah kelompok petani di Blitar Raya untuk berlatih dan meningkatkan kemampuan dalam bertani. Terkadang, Alam Lestari juga diundang untuk mengisi pelatihan di suatu wilayah. “Tetapi saya lebih senang kalau mereka datang langsung ke sini. karena bisa melihat langsung,” ungkapnya.
Selain kelompok tani, Alam Lestari kini juga menyasar kaum muda untuk belajar tentang pertanian. Dia ingin merubah cara berpikir anak muda. Bahwa pertanian itu tidaklah pekerjaan kuno, tetapi menyenangkan dan bisa dipadukan dengan teknologi modern saat ini.
Kini Alam Lestari sedang mencari anak-anak muda yang memiliki semangat di bidang pertanian. “Ini sesuai dengan program Kementerian Pertanian RI. Kami sedang mencari anak muda untuk dikirim ke Jepang. Mereka belajar tentang sistem pertanian di sana selama beberapa bulan,” tandasnya.
Melalui Alam Lestari ini, Budi ingin mendedikasikan hidupnya untuk dunia pertanian Indonesia. Harapannya, agar semakin maju dan berkembang sesuai cita-cita pemerintah. (*)
Editor : Choirurrozaq