Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

David Kurniadi Petik Hasil Jerih Payah Menekuni Kerajinan Batu Akik

Choirurrozaq • Selasa, 19 Januari 2021 | 21:00 WIB
david-kurniadi-petik-hasil-jerih-payah-menekuni-kerajinan-batu-akik
david-kurniadi-petik-hasil-jerih-payah-menekuni-kerajinan-batu-akik

Kendati sudah tidak lagi booming seperti sekitar lima tahun lalu, kerajinan batu akik tidak ada matinya. Hal ini yang dibuktikan David Kurniadi. Pasalnya, sampai kini dirinya tetap menekuni kerajinan batu tersebut. Alhasil, jerih payahnya berbuah hasil, dengan banyaknya pelanggan. Bahkan bisa kirim hingga luar negeri.


 


ZAKI JAZAI, Kota, Radar Trenggalek


 


Bunyi mesin penghalus terdengar ketika Jawa Pos Radar Trenggalek melintasi jalan yang berada di wilayah Desa Rejowinangun, Kecamatan Trenggalek kemarin (17/1). Sepintas terlihat dua pria sedang sibuk menghaluskan batu pada mesin pompa air yang dimodifikasi menjadi mesin penghalus batu. Di sisi lain, ada seorang pria lagi tengah mengamati bebatuan yang ada di depan rumah.


Sesekali pria tersebut memberi instruksi kepada dua pria lainnya untuk lebih teliti dalam menghaluskan batu yang dipegangnya. Ternyata mereka tengah memoles batu untuk dijadikan akik yang merupakan pesanan pelanggan dari Kanada. Pria yang memberi instruksi tersebut adalah David Kurniadi, salah satu perajin batu akik yang masih bertahan. “Saya dapat pesanan batu akik 500 keping dan harus siap dikirim akhir bulan ini. Makanya pekerja di sini dan 10 pekerja lain yang berada di rumah terus berusaha untuk memenuhinya,” ungkap David Kurniadi kepada Koran ini.


Setelah itu, sambil menunjukkan contoh batu akik hasil kreasinya, dirinya bercerita mengenai kegiatannya tersebut. Dari situlah diketahui jika dia sebenarnya tidak mengerti mengenai ilmu tentang bebatuan dan memulai menjadi perajin batu akik dari nol. Itu bermula ketika saat menjadi seorang pengangguran karena kebingungan membeli rokok, dirinya minta uang ke sang istri sebesar Rp 15 ribu. Setelah itu, ada seorang temannya menghampiri dan mengajaknya pergi ke suatu tempat. “Saat itu karena sebagai pengangguran saya mau saja. Sebab, pastinya di tengah perjalanan bisa mampir di toko untuk membeli rokok,”katanya.


Ternyata temannya tersebut mengajaknya ke penjual batu akik. Karena saat itu pasar batu akik mulai turun pasca-booming sekitar 2015 lalu, koleksi batunya dijual harga murah. Dari situ dengan berbagai pertimbangan, atas saran temannya tersebut karena juga pencinta batu akik, akhirnya dirinya membeli satu bongkah batu seharga Rp 12.500. “Saat itu uang saya sisa Rp 2.500. Sisanya itu yang saya belikan rokok ecer atau uthilan,” imbuhnya.


Setelah itu, baru dirinya meminjam peralatan dan mesin untuk memotong dan mengolah batu tersebut milik tetangga. Karena pasar batu akik sedang menurun, peralatan juga mesin milik tetangganya tersebut tidak digunakan lagi. Dari situ, dengan kemampuan seadanya dan nasihat teman, dirinya mulai memotong satu bongkah batu tersebut untuk menentukan pola yang indah dan memulai proses pengerjaan.


Beberapa saat kemudian, satu bongkah batu itu berhasil dijadikan satu buah akik. Tanpa pikir panjang, karena membutuhkan uang, dirinya mendatangi penjual batu akik di pasar untuk menjualnya dan batu akik buatannya dibeli seharga Rp 60 ribu. Dari uang tersebut, kembali dibelikan bongkah batu dan sisanya digunakan untuk membeli keperluan lainnya. Sedikit demi sedikit, akhirnya dirinya mulai terampil dalam membuat akik hingga ingin menekuni  perajin akik.


Karena tidak enak jika terus-terusan meminjam mesin dan peralatan, David pun memutuskan membeli peralatan dan mesin sendiri. Karena keterbatasan modal, bukan mesin jadi yang dibelinya, melainkan mesin pompa air bekas yang selanjutnya dimodifikasi menjadi mesin penghalus batu. Sedikit demi sedikit David terus memproduksi akik dan mencari pasar lain seperti melalui online hingga teman-teman penyuka batu akik.


Gayung pun bersambut, karena jerih payahnya tersebut akhirnya David berkenalan dengan seorang pemborong yang juga memiliki galeri batu akik di Surabaya. Saat itu pemborong tersebut langsung menawari kerja sama sebagai penyetok batu akik di galerinya. Itu terjadi karena dirinya begitu cermat dalam menyeleksi batu-batu yang dibelinya untuk dijadikan akik.


Karena kejeliannya dalam memilih batu, namanya juga dikenal dengan penikmat atau pebisnis batu akik dari luar negeri. Sebab, kualitas batu akik dari Indonesia disukai masyarakat luar, apalagi batu Trenggalek yang memiliki ciri khas tertentu, yaitu keindahan pada coraknya. Sehingga hampir setiap bulan mereka selalu meminta dikirimi batu akik buatannya.


“Dulu sebelum pandemi korona, saya selalu mendapartkan tamu pebisnis batu akik dari luar negeri. Seperti Kanada, Prancis, Hongkong, Rusia, dan sebagainya. Mereka tertarik untuk menjalin kerja sama. Dan hingga kini saya mengirim batu untuk mereka,” jelas pria 37 tahun ini.


Itu terjadi karena selain pandai memilih corak, juga ketersediaan bahan yang dimilikinya pasti tetap ada. Sebab bisa dikatakan, dalam membuat kerajinan batu akik, dirinya mencari jenis batu yang dirasa sudah tidak dipakai oleh perajin lainnya. Sehingga karena bisa dikatakan sebagai batu afkir, pastinya memiliki harga yang murah dan ketersediaan barang banyak. Maka, David bisa terus produksi untuk memenuhi pesanannya hingga bisa meraup omzet sekitar Rp 150 juta. “Karena itu bisa sekitar 6 kilo batu, hanya 1 kilo batu yang bisa dibuat. Sebab, kami selalu menjaga kepercayaan pembeli, dengan selalu jeli dalam memilih corak yang nantinya dibuat batu akik,” tandasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq