Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Keuletan Eva Juliana Menekuni Kerajinan Mahkota Pengantin

Choirurrozaq • Senin, 25 Januari 2021 | 20:00 WIB
keuletan-eva-juliana-menekuni-kerajinan-mahkota-pengantin
keuletan-eva-juliana-menekuni-kerajinan-mahkota-pengantin

Bertahan di masa pandemi bukan perkara mudah. Namun dengan keuletan, semua dapat dilalui. Begitulah yang dirasakan Eva Juliana, seorang perajin mahkota pengantin selama melewati masa pandemi. Dia memilih memperbanyak desain baru untuk menarik minat pelanggan.


 


ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Boyolangu, Radar Tulungagung


 


Sebuah mahkota berhias bunga berwarna biru muda tampak cantik ketika melingkar di sebuah manekin. Tak jauh dari sana, aneka manik-manik dan mutiara tampak sedang dirangkai menggunakan kawat oleh seorang wanita berjilbab. Dia adalah Eva Juliana, seorang perajin mahkota pernikahan asal Desa Pucung Kidul, Kecamatan Boyolangu. “Mari silakan masuk. Mau lihat-lihat dulu boleh. Ini yang sudah siap dipakai. Kalau yang biru ini tinggal finisihing,” sapanya ramah seraya menunjukkan beberapa hasil karya mahkota miliknya.


Bisnis mahkota pengantin telah digelutinya sejak 2014 silam. Bermula dari hobinya membuat bros untuk jilbab, dia pun mengembangkan sayap dengan membuat hiasan kepala (headpiece) hingga mahkota pengantin.


Kini, akibat pandemi Covid-19, wanita kelahiran 10 Juli 1993 ini harus memutar otak untuk mempertahankan bisnisnya. Bagaimana tidak, selama pandemi semua kegiatan masyarakat dilakukan secara terbatas. Termasuk untuk menggelar pesta pernikahan. Tak pelak, kondisi ini berimbas pada pendapatannya yang turun mencapai 50 persen selama pandemi. “Dibandingkan pendapatan sebelum pandemi jelas jauh sekali. Sekarang omzet bisa turun 50 persen,” jelasnya.


Dia mengaku sempat berhenti berbisnis lantaran kesulitan mendapat bahan baku. Saat itu dia yang sedang berada di Kalimantan mengikuti sang suami kesulitan untuk pulang karena adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB). “Mau lanjut bisnis bingung bahan baku, mau pulang juga sulit. Akhirnya November baru bisa pulang dan coba mulai lagi,” curhatnya.


Wanita 27 tahun ini mengaku melanjutkan bisnis di tengah pandemi bukan perkara mudah. Sebab, dia harus memulai dari nol seperti saat mulai awal bisnis. Dia pun memutuskan untuk mencari desain dan bahan baru. “Saya coba buat desain-desain kekinian yang sekiranya bisa menarik perhatian pelanggan lagi. Bahan juga saya siapkan dari awal lagi,” imbuhnya.


Berkat ketelatenannya, usahanya mulai membuahkan hasil. Terlebih kini pemerintah memberi kelonggaran untuk penyelenggaraan hajatan. Bahkan, pesanannya banyak dari luar kota. Seperti Jakarta, Malang, dan Surabaya. “Akhirnya saya buat model yang baru yang cocok untuk akad nikah. Karena kondisi saat ini, yang diperbolehkan hanya akad. Jadi saya berusaha mengimbangi itu,” ungkapnya.


Untuk proses pembuatan, semua dilakukan sendiri dan manual. Sebab, dia ingin setiap mahkota yang dibuat dapat menjadi penunjang penampilan pengantin di hari besarnya.


Untuk bahan baku pun tak sembarangan, Eva memanfaatkan kain broklat atau kebaya untuk membuat mahkota. Dia sengaja mengambil desain bernuansa bunga sebagai ciri khasnya. Nantinya setelah kain ini disusun sesuai desain, barulah ditambah dengan jahitan manik-manik maupun payet untuk mendukung desain. “Paling rumit ya saat menjahit manik-manik ini. Apalagi kalau manik-maniknya kecil. Karena benar-benar harus detail dan rapi,” urainya.


Selain membuat desain lebih baru, wanita berkulit putih ini juga mengandalkan media sosial Instagram untuk pemasaran. “Alhamdulillah sekali sekarang sudah sedikit demi sedikit bisa pulih. Pelanggan lama saya yang dari perias juga mulai kembali,” imbuhnya.


Ke depan, Eva berencana untuk membuat produk selalu tersedia. Ini dikhususkan bagi para calon pengantin yang ingin menyewa mahkota secara personal. “Jadi tidak termasuk pada pesanan di salon atau perias. Ini mewadahi mereka yang ingin tampil beda dan lebih personal,” tandasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq