Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai mengharuskan para pelaku usaha untuk memutar otak agar usahanya tak gulung tikar. Meski sudah banyak pelaku usaha yang harus berhenti, masih ada pula melanjutkan usaha. Yakni dengan membuat gebrakan baru atau inovasi untuk menggaet para pelanggan.
Siti Purwanti, satu di antara pelaku usaha yang mampu membangkitkan geliat usahanya saat pandemi. Warga Dusun Tumpuk, Desa Tangkil, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar itu justru memilih untuk berinovasi dan tidak mandeg di tengah usaha frozen food-nya yang harus mangkrak akibat virus korona.
Berawal dari keresahan persediaan atau stok ikan patin yang budi daya sang suami yang tidak laku, wanita berusia 33 itu mencari celah agar bisa menjual ikan-ikan tersebut dengan cara yang berbeda. Hasilnya, dia mencoba membuat makanan olahan berbentuk mi instan dari daging ikan patin.
"Di rumah suami ada ikan patin dan lele. Tapi karena pas pandemi gini penjualan turun, jadi stoknya banyak. Terus frozen food saya agak macet juga, ya sudah, kami putar otak sampai ketemu mi instan dari ikan," tuturnya.
Masyarakat yang gemar mengonsumsi mi instan menjadi target pasarnya. Selain itu, mi instan buatannya juga dibuat sepraktis mungkin, seperti halnya mi instan buatan prabrik. Sehingga kian menarik para pelanggan untuk menjajal produk buatannya.
Wanita yang juga biasa dipanggil Siti itu mengaku, proses pembuatan mi instan yang memanfaatkan ikan patin itu hampir sama dengan mi pada umumnya. Pertama-tama, ikan patin yang sudah dibersihkan dikukus di dalam dandang. Kemudian, air kaldu yang dihasilkan itu dicampur dengan tepung dan telur, menjadi adonan yang siap dicetak menjadi mi.
"Mi enggak digoreng, tapi dipanggang pakai oven. Jadi lebih tahan lama meskipun enggak pakai pengawet. Terus untuk daging ikannya itu dicampur dengan bumbu lain, habis itu dibuat serbuk bumbu kering pelengkap mi," ujarnya.
Dalam sekali produksi, Siti mampu membuat 60-90 paket mi instan, yang menghabiskan hampir 4 kilogram (kg) lebih daging patin. Pembuatannya dilakukannya seorang diri. Beberapa kerabat akan dipanggil untuk membantunya saat menerima banyak pesanan.
Ibu satu itu menegaskan, menjajal usaha mi instan dari ikan patin itu dilakukan sejak 5 bulan terakhir. Tepatnya pada Oktober 2020. Meski tergolong usaha baru, siapa yang sangka produknya banyak digemari. Bahkan oleh masyarakat di luar Blitar.
"Jujur kalau untuk di Blitar justru belum banyak yang tahu. Kebanyakan pelanggan itu dari Kediri, Madiun, Solo, pernah juga kirim ke Tangerang," ceritanya.
Media sosial diakui menjadi lahan utama untuk memasarkan produknya. Dari situlah produknya dapat dijangkau oleh para pelanggan dari luar kota. Selain itu, menggunakan kemasan yang menarik juga dilakukan agar menarik minat banyak orang.
"Di rumah ada galeri kecil-kecilan, tapi untuk memasarkannya pakai media sosial. Jangkauan juga luas. Yang jelas kalau namanya usaha harus bisa dijangkau dengan mudah, termasuk harganya," ujar tersenyum. (*)
Editor : Anggi Septian Andika Putra