Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Lia Dwi Purwanti, Penyandang Tunarungu Kreatif Pembuat Boneka Rajut

Choirurrozaq • Senin, 1 Februari 2021 | 18:10 WIB
lia-dwi-purwanti-penyandang-tunarungu-kreatif-pembuat-boneka-rajut
lia-dwi-purwanti-penyandang-tunarungu-kreatif-pembuat-boneka-rajut


Keterbatasan indra pendengaran atau tunarungu tidak menghalangi Lia Dwi Purwanti untuk terus berkarya. Warga Desa Butun, Kecamatan Gandusari, ini sangat kreatif membuat kerajinan boneka rajut dari Jepang, yakni Amirugumi.


 


MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH, Gandusari, Radar Blitar


 


Meja sederhana berukuran 1x2 meter itu menjadi tempat Lia Dwi Purwanti berkarya. Meja yang terletak di pojok ruang tamu itu penuh dengan berbagai peralatan menjahit termasuk mesin jahit manual.


Di sekeliling meja, terlihat sejumlah boneka rajut hasil karyanya. Mulai dari ukuran besar, sedang, hingga paling kecil untuk gantungan kunci. Boneka-boneka rajut itu dibuat secara manual dengan tangan terampil. "Saking semangatnya, tangan saya sempai lecek (luka, Red). Bahkan juga sampai sering begadang," jelas Widya Wahyuningsih, adik Lia, kepada Koran ini ditemui di rumahnya Jumat lalu (29/1).


Widya yang saat itu duduk berdampingan dengan kakaknya, Lia, membantu berkomunikasi dengan Koran ini. Sebab, sang kakak memang penyandang tunarungu sejak lahir.


Dia memang agak sulit berkomunikasi secara umum. Untuk berkomunikasi harus menggunakan bahasa isyarat. Sehingga hanya yang menguasai bahasa isyarat yang bisa berkomunikasi. "Meski begitu, semangat Mbak (kakak, Red) itu sangat tinggi untuk berkarya. Hari-harinya selalu diisi dengan merajut. Telaten banget," bebernya.


Keterampilan merajut Lia itu didapat ketika duduk di bangku sekolah menengah atas luar biasa (SMALB) pada 2011. Kala itu merajut menjadi salah satu materi ketrampilan pembelajaran para siswa. Lia begitu tekun mempelajarinya.


Selepas lulus SMA, keterampilannya merajut itu terus diasah. Berbagai karya dari seni merajut itu dihasilkannya. Mulai dari boneka untuk aksesori gantungan kunci, tas rajut, hingga boneka berukuran jumbo.


Lia terus mengembangkan kemampuannya dalam merajut. Karya demi karya dihasilkan. Mulai dari yang tingkat kesulitan sedang hingga paling rumit. "Untuk mengerjakannya itu ada rumusnya. Saya tidak paham. Biasanya sebelum merajut Mbak Lia mengggambar dulu dan hitung rumus," tuturnya.


Semua hasil karya boneka rajut yang dibuatnya itu ternyata tidak asal-asalan. Ada perhitungan rumus terlebih dulu agar boneka yang dihasilkan lebih presisi. "Jadi, memang ada ilmunya. Di sekolah diajari itu," jelasnya menerjemahkan bahasa isyarat yang diungkapkan sang kakak.


Selama ini, istri dari Widodo Dwi Sasongko ini membuat boneka rajut sendirian. Hampir setiap hari selalu merajut. Entah mengerjakan pesanan orang atau untuk menambah stok. Namun, selama pandemi Covid-19 melanda, permintaan boneka rajut sedikit menurun.


Boneka-boneka rajut yang dibuat Lia beragam ukuran. Mulai ukuran tinggi 20-40 centimeter (cm). Untuk membuat boneka tersebut, bahan utamanya adalah dakron. Baru kemudian dilapisi dengan untaian benang rajut policeri.


Boneka yang dibuatnya sesuai karakter yang diinginkan konsumen. Paling banyak karakter kartun-kartun ternama. Ada Sponge Bob, Mickey Mouse, hingga Mario Bros.


Untuk harga bonekanya bervariasi. Tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Jika tingkat kerumitannya tinggi, maka harganya juga semakin mahal. "Harganya mulai Rp 75-150 ribu," beber Widya.


Satu karakter boneka, biasanya dikerjakan 4-5 hari. Tergantung tingkat kerumitannya. Begitu tanggung jawabnya dengan pesanan, terkadang Lia harus lembur mengerjakan hingga larut malam.


Selama ini, Lia memanfaatkan paltform media sosial untuk pemasaran karyanya. Biasanya, Lia juga dibantu adiknya untuk memasarkan. Sebab, terkadang sang kakak terkendala dalam komunikasi dengan pelanggan. "Bahasa yang disampaikan Mbak itu kadang sulit dipahami pelanggan. Tetapi biasa Mbak sudah menjelaskan jika tunarungu," akunya.


Selama berjualan boneka rajut, ada pengalaman yang tidak mengenakkan dialami Lia. Putri kedua dari tiga bersaudara ini menjadi korban penipuan pelanggan.


Salah satu pelanggan yang tidak bertanggung jawab itu bertindak tidak jujur. Pelanggan itu membawa sejumlah boneka dan berjanji menjualnya. Tetapi hingga kini uang hasil penjualan juga belum diserahkan. "Nilainya mungkin sekitar Rp 400 ribu. Sudah saya bantu hubungi, tapi hanya janji akan segera dibayarkan. Tapi sampai sekarang juga tidak ada kabarnya," ungkapnya.


Selain menjual boneka rajut, Lia juga menjual produk lain. Seperti tas rajut dan konektor masker hijab yang sekarang banyak diminati di masa pandemi korona.


Sejauh ini, hasil karya rajutan Lia itu sudah dijual hingga luar daerah. Terjauh sementara masih Semarang dan Solo. Ada juga pelanggan lokal. Karena boneka rajut belum dikenal banyak orang, maka pelanggannya hanya orang-orang tertentu. (*)

Editor : Choirurrozaq