Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pengusaha Handicraft Berbahan Tembaga yang Langka

Choirurrozaq • Rabu, 3 Februari 2021 | 19:54 WIB
pengusaha-handicraft-berbahan-tembaga-yang-langka
pengusaha-handicraft-berbahan-tembaga-yang-langka

Butuh waktu setahun lamanya bagi Yuyun Nurmiati bersabar sampai usaha aksesorinya berkembang. Selama memulai usaha, berkali-kali Yuyun merasa pesimistis karena produknya tidak kunjung laku di pasaran. Kini, omzetnya mencapai jutaan meski terdampak pandemi Covid-19. 


 


HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Kampak, Radar Trenggalek 


 


MINAT usaha Yuyun Nurmiati tumbuh ketika mengikuti pelatihan yang diadakan Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskomidag) Kabupaten Trenggalek pada 2016 lalu. Dulu, Yuyun adalah satu di antara 10 peserta yang mendapat kesempatan mengikuti magang di Surabaya untuk mempelajari kerajinan aksesori berbahan tembaga. Kesempatan itu pun tidak disia-siakannya karena dia kini sukses mengembangkan usaha aksesoris.


Ketika mengikuti pelatihan handicraft, Yuyun tidak memiliki pengetahuan apa pun. Dia memulai dari nol untuk mempelajari kebutuhan alat dan desain. Bahkan, warga Desa Bendoagung, Kecamatan Kampak, itu tidak mengetahui ke mana arah pemasaran produknya nanti. "Saya cuma meyakini kalau handicraft berbahan tembaga ini belum banyak dikembangkan di Kabupaten Trenggalek," kata warga RT 33/RW 07 tersebut.


Bagi Yuyun, tidak sulit mempelajari usaha handicraft. Hanya memerlukan tang sebagai alat yang digunakan untuk memasang manik-manik ke tembaga yang sudah memiliki desain khusus. Inspirasi model dan lain-lain itu didapatkannya dari sharing dengan sesama penghusaha dan YouTube. "Tapi saya kadang terheran, ketika teman dan tetangga yang pernah saya ajarin itu. Di antara 10 orang, cuma satu yang bisa bisa. Padahal prosesnya tidak terlalu rumit," ungkap wanita berjilbab ini.


Biasanya Yuyun memproduksi manik-manik pada malam hari karena pagi-sore, dia disibukkan dengan keluarga. Sehingga dia memilih waktu sekitar pukul 21.00-01.00 untuk memasang manik-manik. "Kalau pagi itu juga buka warung makan dan ada si kecil juga. Jadi menunggu anak tidur baru bisa kerja," ucapnya.


Usaha handicraft Yuyun cukup sukses. Dalam produksinya, misal bros, cincin, gelang, dan kalung, Yuyun dibantu dengan dua karyawan. Tiap bulan, aksesori yang dijual mulai Rp 5 ribu-Rp 100 ribu itu terjual minimal 100 unit. Omzetnya pun menyentuh Rp 2 juta per bulan.


Wanita kelahiran 1985 itu mengaku, pelaku usaha pasti mengalami penurunan omzet saat awal-awal kemunculan pandemi Covid-19. Bahkan, kata dia, omzet itu menyisakan 20 persen saja. Kondisi terpuruk itu tidak mematahkan semangat Yuyun mengembangkan usahanya. Justru dengan serba keterbatasan selama pandemi Covid-19, menginspirasinya bisa mengambangkan pemasaran melalui marketplace, reseller, sampai menitipkan ke outlet milik Pemkab Trenggalek. "Selama ini pemasaran dengan dua cara, offline dan online. Ada juga toko di rumah," ujarnya.


Kegigihan Yuyun yang tidak mudah berputus asa dalam mengembangkan usaha itu muncul saat menjalani tahun pertama memulai usaha. Dia ingat, setelah bisa memproduksi handicraft sendiri, ternyata tidak langsung laku. Butuh sekitar setahun memasarkan produk ke konsumen. 


Kurun setahun pertama itu sempat membuat Yuyun merasa pesimistis. Sebab, ke mana harus memasarkan produknya agar bisa dibeli konsumen. Ibu yang memiliki satu anak itu pun mencoba memasarkan produk melalui orang-orang terdekat. Mulai dari tetangga yang mengadakan acara sampai memasarkan ke guru-guru sekolah. "Sekitar setahun baru mulai banyak konsumen yang tertarik. Dari situ menjadi lebih semangat ternyata produk saya diterima konsumen," kata dia.


Menurut Yuyun, unsur lain menjadi pelaku usaha adalah mengikuti tren. Unsur itu penting untuk menyikapi minat konsumen yang berangsur berubah sehingga pelaku usaha dapat menyediakan produk-produk yang terus dinikmati. "Mengikuti tren itu penting agar produk kita tidak kedaluwarsa," tuturnya. (*)

Editor : Choirurrozaq