Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pengalaman Petugas Penanggulangan Bencana di Musim Penghujan

Choirurrozaq • Senin, 8 Februari 2021 | 19:00 WIB
pengalaman-petugas-penanggulangan-bencana-di-musim-penghujan
pengalaman-petugas-penanggulangan-bencana-di-musim-penghujan


Rela berkorban dan siap menerjang segala rintangan dan bahaya, dilakoni para petugas penanggulangan bencana. Keselamatan banyak orang menjadi tanggung jawab mereka dalam menangani musibah. Mereka dituntut siaga setiap saat dan harus saling memberi motivasi.


FIMA PURWANTI, Wlingi, Radar Blitar


Mungkin mereka kurang terkenal. Tapi di setiap lokasi bencana, para petugas dengan ciri khas seragam oranye, rompi cokelat, dan helm kuning itu selalu hadir. Mereka adalah pahlawan penyelamat. Seragam dengan bertuliskan BPBD (badan penanggulangan bencana daerah, Red) di bagian punggung menjadi salah satu logo mencolok mereka.


Petugas penanggulangan bencana akan selalu ada, kapan pun, dan di mana pun ada kejadian bencana, baik bencana alam muapun kejadian lainnya. Mulai bencana tanah longsor, banjir, pohon tumbang, gunung meletus, dan sebagainya. Bahkan, orang yang hilang terseret air sungai ataupun ombak di laut juga menjadi bagian tugas mereka.


"Selalu siap on call, kalau ada panggilan bencana langsung didatangi," tutur salah satu staf kedaruratan, BPBD Kabupaten Blitar, Lukman Ruba'i.


Satu tim dengan empat orang petugas penanggulangan bencana diterjunkan setiap kali ada panggilan kejadian atau bencana. Para petugas dalam tim itu, akan melakukan pengecekan, pengamatan, serta melaporkan kejadian pada petugas di kantor pusat. Jadi, jika bencana dirasa ringan, maka bisa diatasi oleh satu tim yang ditugaskan itu.


"Kalau bencananya cukup besar dan memerlukan banyak penanganan lain, maka tim yang di lapangan akan segera koordinasi. Kemudian tim berikutnya akan menyusul dan saling bekerja sama," bebernya.


Lelaki yang telah bergabung dengan tim BPBD Kabupaten Blitar itu menyebutkan, ada sekitar 20 orang petugas yang menjadi rekannya. Mereka merupakan petugas yang telah dipilih dan siap memberikan seluruh kemampuannya untuk membantu korban terdampak bencana.


"Kami sudah dibagi menjadi beberapa tim. Meskipun tidak jatah sif, kami harus selalu ready. Handphone harus selalu nyala karena harus berangkat kapan pun saat ditelepon tim lainnya," akunya.


Ya, para petugas harus siap mendapat panggilan darurat kapan pun. Entah itu pagi hari, malam hari, atau dini hari sekalipun. Sebab, meskipun dapat diprediksi, kejadian bencana tak dapat dijadwalkan sesuai dengan harapan.


Lukman mengaku tak sedikit kejadian bencana yang telah terjadi pada awal tahun ini. Banyaknya kejadian bencana juga menjadi tantangan tersendiri bagi para petugas penanggulanan bencana. Tak hanya harus siap siaga, mereka pun juga harus dapat menjaga daya tahan tubuh.


"Tentu tenaganya harus ekstra apalagi di tengah pandemi seperti ini. Sempat juga kemarin kami berangkat tengah malam karena ada pohon tumbang di Kecamatan Doko. Setelah itu langsung meluncur ke Kecamatan Sutojayan karena banjir," papar pria ramah ini.


"Setelah itu, kami pulang ke kantor, tapi di tengah jalan ada panggilan pohon tumbang di Kecamatan Kademangan. Ya sudah langsung putar balik, disitu sampai pagi," ceritanya. 


Musim penghujan menjadi salah satu momen yang paling menyibukkan bagi para petugas penanggulangan bencana. Sebab, banyak kejadian yang akan terjadi di musim penghujan, mulai angin kencang hingga banjir dan pohon tumbang. Namun, musim kemarau pun juga tak bisa diremehkan. Pasalnya, pengiriman air ke daerah pelosok juga menjadi tanggung jawab petugas agar masyarakat dapat mengakses air bersih.


"Sampai saat ini kalau untuk terjalnya jalan atau akses masuk ke daerah pelosok, baik di bagian selatan maupun utara hampir sama saja. Jalannya berkelok dan terjal, itu juga menjadi tantangan dan tanggung jawab kami," terangnya.


Usai menuntaskan tugas yang berat, nampaknya menjadi waktu yang paling berharga bagi para petugas penanggulan bencana. Saling memotivasi, memberi saran, mendukung, dan bercerita menjadi kegiatan untuk saling menyemangati para anggota tim. Berolahraga ringan dan menyusun laporan juga dilakukan bersama untuk menjaga kekompakan tim.


"Tugas kami pasti berat, tapi kami yakin yang kami kerjakan adalah untuk keselamatan banyak orang dan untuk kemanusiaan. Kami terus saling memotivasi dan memberi semangat satu sama lain. Bantuan dan apresiasi dari masyarakat sekitar juga menjadi satu kebahagian tersendiri bagi kami," akunya. (*)

Editor : Choirurrozaq