Meski sudah ratusan tahun membaur dengan budaya asli Indonesia, keberadaan barongsai juga tak ubahnya seperti budaya lokal yang berupaya tetap eksis agar tak tergerus zaman. Beruntung Kota Blitar masih memiliki beberapa pegiat barongsai yang tetap berusaha agar kesenian barongsai cuma jadi cerita saja. Salah satunya adalah Daniel, salah seorang pengurus Kelenteng Poo An Kiong Kota Blitar.
ADITYA YUDA SETYA PUTRA, Sukorejo, Radar Blitar
Jalan Merdeka Barat tampak lengang sore itu. Di salah satu sudut jalan tersebut, terlihat sebuah bangunan dengan ornamen-ornamen khas negeri Tirai Bambu. Juga terlihat gapura besar dengan ukiran naga berwarna emas di kedua sisinya. Itu adalah Kelenteng Poo An Kiong.
Mulai masuk ke dalam kelenteng, warna merah mendominasi di seluruh bagian bangunan itu. Patung-patung dewa lengkap dengan dupa dan sejumlah perlengkapan ibadah lain tertata rapi di bagian tengah kelenteng. Bergeser sedikit ke sisi utara, terlihat sebuah ruangan kecil. Di dalamnya tampak seorang pria tengah sibuk menata berkas-berkas di meja. Dia adalah Daniel, pelatih barongsai di kelenteng itu.
Dengan ramah Daniel berbagi kisahnya dengan wartawan Koran ini. Memulai ceritanya, Daniel mengajak kita kembali ke tahun 2001 lalu di mana dirinya baru bergabung dengan perkumpulan barongsai Poo An Kiong. Alasannya, seperti remaja pada umumnya, Daniel begitu tertarik setiap kali menonton pertunjukan barongsai. "Iya dulu saya ikut di sini. Tahun 2001 masih jadi anggota. Lalu tahun 2008 dipasrahi buat melatih," ujar pria asli Kota Blitar ini.
Mulai 2008 itulah Daniel aktif sebagai pelatih barongsai. Dia menyebut, cukup banyak anak-anak yang tertarik untuk berlatih dan menjadi pemain barongsai. Tapi, tak sedikit pula yang memutuskan untuk berhenti bermain karena faktor kesibukan. "Itu campur dari yang kerja, sekolah sampai kuliah. Jadi kebanyakan begitu lulus sekolah rata-rata mereka berhenti," kata Daniel.
Beruntung setiap tahunnya selalu ada anak yang tertarik untuk bergabung. Maka, selalu ada regenerasi pemain kendati tak sedikit pemain lama yang memutuskan untuk berhenti bermain barongsai dengan alasan pendidikan atau pekerjaan. "Untungnya tiap tahun ada yang berminat," lanjutnya.
Setelah melatih barongsai selama kurang lebih 12 tahun, Daniel mengaku ada hal menarik yang dialaminya. Yaitu ketika melihat tingginya antusias anak-anak etnis asli Jawa yang tertarik untuk gabung. Padahal, tentu kita semua paham jika barongsai lebih identik dengan etnis Cina. Bahkan, kesenian ini juga merupakan adaptasi dari Negeri Panda dan bukan budaya lokal. Terkait hal itu, Daniel mengaku sangat bersyukur karena hal ini menunjukkan bahwa barongsai dapat menjadi simbol kerukunan antaretnis.
"Jumlah terakhir sekitar 20 anak. Paling banyak etnis Jawa-nya. Yang etnis Cina mungkin cuma lima anak. Ini menunjukkan kita sama teman-teman etnis Jawa dengan agama yang berbeda bisa rukun. Kalau saya pribadi, ya monggo yang mau belajar (barongsai, Red) walaupun kita berbeda," ujar pria 40 tahun ini.
Namun, bisa dipastikan jika tahun ini warga Kota Blitar tak akan bisa menikmati lenggak-lenggok tarian barongsai dengan musik pengiringnya yang begitu khas pada perayaan Imlek pada pekan depan. Alasannya, si Covid-19 yang belum mau beranjak dari Blitar disebutnya menjadi kendala utama. Bahkan, Daniel mengaku jika kegiatan barongsai Poo An Kiong terpaksa mandek sejak Maret tahun 2020 lalu. "Setelah Maret kemarin pas 17-an (Agustus, Red) juga tidak ada pertunjukan. Dari pemerintah kan ada pembatasan. Kita benar-benar tidak ada show. Terakhir ya pas Imlek 2019, itu yang paling ramai," imbuh ayah dua orang anak ini.
Bukan apa-apa. Daniel hanya ingin agar jangan sampai pandemi ini kian membuat barongsai semakin dilupakan masyarakat karena tidak adanya gelaran pertunjukan barongsai. Sebab, melalui barongsai ada banyak hal yang dapat dipelajari. "Kita bisa tahu kerja sama, kekompakan, kerukunan dan nilai-nilai sosial dengan etnis-etnis lain," kata Daniel seraya tersenyum. (*)
Editor : Choirurrozaq