Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Nanang Kurniawan yang Sukses Beternak Sugar Glider

Choirurrozaq • Senin, 15 Februari 2021 | 16:30 WIB
cerita-nanang-kurniawan-yang-sukses-beternak-sugar-glider
cerita-nanang-kurniawan-yang-sukses-beternak-sugar-glider


Alangkah senangnya jika hobi bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah seperti yang dilakukan Nanang Kurniawan. Pasalnya, dengan hobi memelihara hewan, dia memutuskan menjadi breeding sugar glider. Bahkan, anakan hasil budi dayanya selalu laris dibeli para pencinta hewan eksotis.


 


ZAKI JAZAI, Gandusari, Radar Trenggalek


 


Dalam dunia persugarglideran ada yang namanya breeding. Sebuah proses yang diawali dengan memilih indukan berkualitas untuk dikawinkan agar melahirkan keturunan yang baik. Hal ini bisa diambil istilah membudidayakan dan membiakkan seekor hewan. Pastinya semua pencinta hewan ingin melakukannya. Namun, hal itu tidak semudah yang dibanyangkan seperti menjadi seorang breeding sugar glider seperti yang dilakukan Nanang Kurniawan.


Ditemui Jawa Pos Radar Trenggalek di rumahnya yang berada di Desa/Kecamatan Gandusari, kemarin (12/2), terlihat Nanang Kurniawan sedang bermain dengan sepasang sugar glider-nya. Dia begitu asik membelai salah satu hewan mamalia berkantung tersebut. Ternyata setelah dilihat dari dekat, hewan peliharaannya tersebut baru saja beranak. "Setiap kali beranak setidaknya ada 1-3 ekor. Namun untuk saat ini sepasang sugar glider saya ini baru beranak dua ekor, sedangkan untuk pasangan yang lainnya mungkin berjarak sekitar satu mingguan," ungkapnya.


Sebenarnya memelihara dan beternak sugar glider tidak sulit. Sebab, bisa diternak di kandang besi berukuran sekitar 30 sentimeter. Namun, kebersihan kandang menjadi kunci utama keberhasilan beternak. Minimal satu kali dalam sehari kandang harus dibersihkan. "Jika pemeliharan berjalan baik, sugar glider bisa dipanen 2-3 bulan sekali," katanya.


Selain itu, dalam kandang harus ada semacam batang sebagai tempat bertengger. Karena termasuk jenis hewan liar aboreal, pada habitatnya, mereka menghabiskan hidupnya di pepohonan dan aktif berpindah-pindah. Karena itu, sugar glider perlu ruang cukup luas untuk bermain dan berlompatan di kandangnya agar tidak stres.


Pada dasarnya hewan yang tergolong jenis marsupilia tersebut biasa hidup berkoloni. Sehingga penempatan dalam kandang harus layaknya berkoloni. Biasanya menempatkan satu pejantan dan dua betina atau lebih di satu kandang. Jika diketahui ada satu betina yang mengandung, maka betina lainnya harus dipisah agar tidak mengganggu betina yang mengandung tersebut.


Selain itu, pascamelahirkan dengan kondisi bayi yang masih kecil, sebaiknya anakan sugar glider langsung dimasukan dalam kantong sang induk. Masa ini dinamakan in pouch (IP), dengan perkiraan waktu sekitar 2 bulan. Baru setelah dewasa, anakan bisa dipindah dari kantong atau masa out off pouch (OOP) untuk proses menyusui. Setelah menyusui minimal satu bulan, anakan sugar glider bisa dijual. "Untuk harga jual, antara Rp 400 ribu hingga Rp 700 ribu per ekor, tergantung coraknya," imbuh pria yang akrab disapa Kur ini.


Selain itu, agar hewan jinak, setiap hari harus dilakukan interaksi antara pemilik dan hewan dengan cara dipegang atau dibelai. Karena termasuk hewan liar, jika jarang dilakukan interaksi, pasti sifat liarnya akan muncul sehingga tidak bisa diajak bernain. Selain itu juga untuk mengetajui jika indukan hamil. Biasanya bisa diprediksi bahwa telah hamil jika indukan sering menjilati perutnya.


Tak ayal, selain sukses beternak, hewannya jinak dan banyak yang suka, khususnya kaum wanita. Dari situ, banyak sekali pesanan akan hewan peliharaannya tersebut. "Banyak pesanan hingga kewalahan untuk memenuhinya. Saya pun mengajak tiga teman untuk beternak," tandasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq