Momen pada 14 Februari kemarin begitu spesial bagi Grantika Pujianto. Sebab, pada tanggal itulah terjadi pemberontakan tentara Pembela Tanah Air (PETA) tahun 1945 yang dipimpin tokoh perjuangan asli wong Blitar, Soedanco Supriyadi. Tak mau kehilangan momen, dia melakukan napak tilas pemberontakan PETA.
ADITYA YUDA SETYA PUTRA, Panggungrejo, Radar Blitar
Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Begitu kata Bapak Proklamator, Ir Soekarno. Nampaknya kata-kata itu tertanam kuat di dalam benak Grantika Pujianto sehingga dirinya berinisiatif untuk napak tilas guna memperingati pemberontakan PETA Minggu kemarin (14/2). Dengan ramah Grantika berbagi kisahnya dengan Koran ini.
Grantika mengaku, hal ini dilakukannya bukan tanpa tujuan. Dia ingin agar hal ini menjadi pelecut bagi pemuda-pemudi Blitar untuk tetap mengenang jasa para pahlawan Blitar dalam melawan kolonialisme pasukan Jepang. "Untuk merefleksikan segala bentuk perjuangan pahlawan-pahlawan PETA Blitar," ucapnya.
Kegiatan ini dimulainya sekitar pukul 02.00. Tak perlu modal besar. Cukup satu lonjor bambu kuning, kemeja hitam, sarung dan tentu yang tak boleh ketinggalan adalah Sang Saka Merah Putih gagah terikat di ujung bambu yang dipegangnya. Start di Monumen Potlot di dekat Taman Makam Pahlawan (TMP) Raden Wijaya, Grantika mantap jalan seorang diri menuju ke Gunung Gedang.
Dia menyebut, hal ini untuk mengenang perjuangan Supriyadi yang menghindari kejaran tentara penjajah dengan rute yang sama. "Sekarang jalannya sudah enak. Tidak terbayang dulu seperti apa perjalanan Supriyadi dan kawan-kawan perjuangannya melewati akses yang masih berupa hutan menuju ke Gunung Gedang," kata pria yang tinggal di Desa Margomulyo, Kecamatan Panggungrejo ini.
Sekitar pukul 07.00, Grantika sampai di Gunung Gedang. Tak kurang 23 kilometer (Km) dia tempuh dengan berjalan kaki demi napak tilas perjuangan tentara PETA Blitar. "Kurang lebih 23 kilometer lah. Sekitar pukul 07.00 saya akhirnya sampai," lanjutnya.
Pria kelahiran 11 November 1991 ini mengaku, ada pengalaman menarik yang dialaminya selama perjalan napak tilas. Salah satu yang hangat di dalam benaknya adalah banyaknya warga yang memandang Grantika keheranan. "Banyak warga yang heran karena lihat orang gondrong pagi-pagi jalan bawa bambu, bendera merah putih dan pakai sarung," tandasnya lantas tertawa.
Selain itu, adanya anggota TNI yang ikut mengawal perjalannya sejak dari Garum begitu melihat pria berambut gondrong ini sedang napak tilas. "Dari Garum ketemu aparat TNI lalu dia tanya saya. Saya jelaskan. Lalu dia mengawal saya hingga sampai ke Gunung Gedang," ucap Grantika.
Grantika mengaku, puas dengan apa yang dilakukannya. Namun, dia masih ingin ada hal lain yang ingin dicapai. Yaitu, berharap agar 14 Februari dicanangkan sebagai Hari Cinta Tanah Air. Untuk itu, menerangkan bahwa dirinya dan juga tokoh-tokoh pemuda Blitar bakal melakukan pembicaraan dengan pihak-pihak terkait guna mewujudkan harapannya itu. "Ini tahun kedua (napak tilas, Red). Teman-teman generasi muda Blitar di lintas komunitas berharap sekali agar 14 Februari jadi Hari Cinta Tanah Air. Karena kita masyarakat Blitar kan sudah punya bulan Bung Karno. Kita berharap nanti ada peringatan hari besar lain di samping peringatan pemberontakan PETA," bebernya.
Dia berharap agar para pemuda Blitar tak melupakan sejarah bangsa ini yang banyak dimulai dari tokoh-tokoh Blitar. Sebab, dirinya menilai kini sebagian masyarakat masih abai akan sejarah bangsa dan juga sejarah Blitar itu sendiri. "Saya berharap agar pemuda Blitar tidak melupakan sejarah. Bisa juga nanti tahun depan ikut napak tilas lagi bersama-sama. Kita ini bangsa besar. Kita harus bangga sebagai warga Blitar karena Blitar adalah bumi para raja merdeka," katanya dengan penuh semangat. (*)
Editor : Choirurrozaq