Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Ramuji, Seorang Pejuang Pemberontakan PETA Blitar

Choirurrozaq • Kamis, 18 Februari 2021 | 17:00 WIB
cerita-ramuji-seorang-pejuang-pemberontakan-peta-blitar
cerita-ramuji-seorang-pejuang-pemberontakan-peta-blitar

Pemberontakan pembela tanah air (PETA) menjadi salah satu momen bersejarah di Blitar dan juga bakal diingat secara nasional. Para pejuang rela mengorbankan nyawa untuk menjaga wilayah dari jajahan Jepang. Hal itu yang dilakoni oleh Ramuji, salah satu pejuang PETA yang sempat ditangkap dan dikembalikan lagi ke Blitar.


 


FIMA PURWANTI, Sananwetan, Radar Blitar


 


Usianya tak lagi muda. Kini usianya telah menginjak hampir seabad. Namun ingatan tentang peristiwa pemberontakan PETA pada 1945 masih tajam. Sepertinya memori tentang pemberontakan para tentara muda Blitar ini masih sangat jelas melekat di kepalanya. Termasuk sosok pimpinan pemberontakan saat itu, yakni Sudanco Supriyadi.


Ramuji, salah satu dari beberapa tentara pejuang pemberontakan PETA yang masih hidup. Meski ditinggal gugur oleh banyak teman seperjuangan, dia mengaku ada dua temannya juga yang masih hidup sehat di kediamannya masing-masing.


Warga asli Desa Kalitengah, Kecamatan Panggungrejo, itu turut dalam pemberontakan PETA pada saat berusia 23 tahun. Namun, di usianya yang kini telah mencapai 99 tahun, masih mengingat jelas suasana ataupun kondisi saat pemberontakan yang terjadi sekitar 76 tahun silam itu.


"Dulu dipimpin Supriyadi, ikut pemberontakan melawan Jepang. Di sini, di Blitar tahun 1945. Saya ikut perang di situ," tuturnya.


Di usia yang tak lagi muda, Ramuji sangat bersemangat menuturkan kisahnya ikut andil dalam pemberontakan sebelum kemerdekaan itu. Dia juga ikut melakukan perlawanan terhadap para tentara Jepang. Kala itu, dirinya juga diberikan senjata untuk melawan musuh.


"Bawa senjata laras panjang. Berat sekali. Sekitar 5 kilogram (kg) lebih berat satu senjata panjang itu," paparnya.


Kendati senjata yang dibawa lumayan berar, semangat para pejuang dalam mengibarkan perlawanan benar-benar membara. Senjata tersebut juga dilengkapi dengan peluru besi. Bahkan peluru tersebut bisa mencapai target hingga sejauh 1 km.


"Suara pas perang itu seperti mercon (petasan, Red) Lebaran, rame sekali. Tapi karena pelurunya habis, saya kembali ke timur. Sayangnya saya ditangkap oleh pasukan Jepang," akunya.


Bersama dengan tiga rekan perjuangannya, dia dibawa ke Garut, Jawa Barat. Bacaan doa tahlil dan yasin menjadi pengiringnya saat akan diberangkatkan menggunakan kereta api. Ada sekitar 25 orang yang mengiringi keberangkatannya kala itu.


"Pas budhal arep numpak kereto ditelkim koyo wong mati (saat akan berangkat naik kereta api dibacakan tahlil dan yasin seperti orang meninggal, Red)," ujarnya.


Namun sebelum dibawa ke Jawa Barat, Ramuji beserta rekannya juga sempat ditahan selama 8 hari di kantor tentara Jepang. Selama itu pula dirinya dan rekannya tak pernah berhenti menerima siksaan. "Di kantor itu setiap hari dapat iwak sepat alias hadiah pukulan menggunakan sepatu," terangnya sambil tertawa.


Selanjutnya, dia dan rekannya dibawa menggunakan kereta api dan ditahan selama 40 hari di tahanan tentara Jepang yang berada di Bandung, Jawa Barat. Perlakuan kasar dan pukulan pun masih tetap dirasakannya setiap hari. Meski masih mendapat jatah makan tiga kali sehari, makanan yang diberikan tidak layak.


"Sarapan ya ada, ya dikasih. Tapi seadanya. Pagi nasi grewol, nasi dicampur jagung rebus. Lawuknya gerih (lauknya ikan asin, Red). Enggak layak, tapi harus makan," ujar pria yang rambutnya telah berubah putih ini.


Tepat setelah 40 hari ditahan, dirinya kemudian dibebaskan oleh gubernur Bandung pada saat itu. Bersama dengan ketiga temannya, pulang ke Blitar menggunakan kereta api. Setelah sampai, mereka disambut oleh para sersan dan jajaran personel tentara PETA lainnya.


"Pas pulang ya senang. Sampai di Blitar ya ditanyai segala macam pertanyaan selama di tahanan. Ya kami ceritakan semuanya," terangnya.


Kini, Ramuji memilih menghabiskan masa tuanya di rumah bersama satu cucunya setelah ditinggal mati istrinya pada 2013 silam. Beraktivitas seperti halnya orang tua yang lainnya. Menjaga kesehatan dan menerapkan pola hidup sehat dilakukannya agar tetap sehat meski telah berusia hampir seabad. Dia menghindari suntikan obat kimia.


"Saya pesan, semoga anak sekarang bisa melakukan apa yang dulu kami lakukan. Meskipun beda jaman, menjaga persatuan dan perdamaian harus tetap dilakukan agar kita utuh seterusnya," tutupnya. (*)

Editor : Choirurrozaq
#blitar