Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bermodal Majalah Bekas, Salsabila Dhita Nurani Getol Buat Collage Art

Choirurrozaq • Senin, 22 Februari 2021 | 17:00 WIB
bermodal-majalah-bekas-salsabila-dhita-nurani-getol-buat-collage-art
bermodal-majalah-bekas-salsabila-dhita-nurani-getol-buat-collage-art

Bermodal majalah bekas dan sedikit kreativitas, Salsabila Dhita Nurani mampu menghasilkan karya seni collage art. Melalui karya ini, dia ingin menjadi wadah untuk menyuarakan kritikan sosial, tapi tetap bernilai seni tinggi.


 


ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Boyolangu, Radar Tulungagung


 


Tak sulit menemukan kediaman pasangan suami istri (pasutri) Suyoto dan Supriati yang berlokasi di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu. Memasuki ruang tamu yang bernuansa warna putih dan cokelat, seorang gadis sedang sibuk menggunting potongan gambar dari tumpukan majalah bekas di depannya. Dia adalah Salsabila Dhita Nurani, seorang perajin collage art. Collage art sendiri berarti sebuah karya seni yang menggabungkan berbagai gambar untuk membuat sebuah karya baru. “Ini iseng saja melanjutkan collage art yang kemarin yang sempat tertunda,” sapanya ramah ketika melihat kedatangan Koran ini.


Karya seni yang masuk dalam karya mix material ini telah ditekuni Dhita -sapaan akrab Salsabila Dhita Nurani- sejak Agustus 2019 silam. Dia mengaku tak sengaja membuat karya ini. Bermula dari salah satu teman yang membuat kolase berbagai gambar dari majalah bekas. “Dari situ saya tertarik untuk mencoba. Akhirnya saya mulai berburu majalah-majalah bekas,” jelasnya mengawali cerita.


Dari situ, Dhita menemukan keseruan tersendiri dalam membuat collage art. Baik saat proses berburu majalah bekas, menggunting setiap gambar, hingga menyatukan potongan-potongan gambar tersebut sesuai konsep yang diinginkan. Terlebih di masa pandemi seperti sekarang, segala kegiatan perkuliahan dilakukan secara online. Dia pun memiliki waktu lebih banyak untuk serius menekuni collage art.


Remaja 21 tahun ini mengaku, collage art tergolong karya seni yang masih langka, tapi memiliki daya tarik tersendiri. Terutama bagi penikmat karya seni bernuansa retro dan vintage. Meski proses pembuatan tergolong mudah, Dhita tidak mau sembarangan dalam membuat karya. Dia ingin setiap karya yang dihasilkan mengandung pesan bagi setiap penikmat seni. Entah berupa kritik sosial maupun ajakan untuk membuat sesuatu yang positif. “Seperti ini, saya ingin mengampanyekan untuk mencintai diri sendiri, tidak perlu minder dengan kekurangan yang dimiliki. Semua ini saya tuangkan dalam potongan-potongan gambar yang saya jadikan satu,” urai gadis berjilbab ini.


Selain itu, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini ingin menyampaikan bahwa sesuatu yang dianggap remeh seperti majalah bekas masih mampu menghasilkan sebuah karya yang bagus. Bahkan memiliki nilai seni dan ekonomi tinggi. “Hanya bermodal barang bekas, tapi masih bisa berkarya. Selain untuk bisnis, kerajinan ini dapat dimanfaatkan sebagai wadah menyuarakan kritikan sosial,” terangnya.


Disinggung mengenai kesulitan, remaja kelahiran 4 Oktober 1999 ini mengaku nyaris tidak menemukan kesulitan yang cukup berarti. Namun untuk menekuni kerajinan ini, harus memperbanyak referensi. Baik melalui media sosial seperti Pinterest maupun referensi lain yang relevan. “Karena saya sendiri terkadang merasa kesulitan bagaimana potongan-potongan ini bisa tertata cantik. Konsep ada, tapi begitu eksekusi sering bingung sendiri. Karena kadang harus main feeling ini cocoknya di sebelah sini, ini di bawah, dan sebagainya,” ujarnya seraya tertawa.


Ke depan, Dhita ingin mengembangkan lagi kerajinan yang telah dia tekuni selama dua tahun ini. Seperti memanfaatkan media kanvas dan cat untuk mempermanis karya. Sebab, sampai kini dia hanya memanfaatkan kertas gambar untuk media pembuatan collage art. Sementara untuk pemasaran, dia mengaku masih malu-malu untuk menjual. “Masih ingin coba dikembangkan terus. Insyaallah kalau sudah matang mau coba untuk dijual. Karena sudah banyak tawaran masuk,” tandasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq