Bagi Tony Widianto terrarium adalah miniatur lanskap menyerupai aquascape. Bedanya, terrarium punya ciri khas dari pemilihan tumbuh-tumbuhannya. Tony mengaku, pembuat terrarium ini sulit ditemui di Kabupaten Trenggalek, meski berpotensi menghasilkan pundi-pundi rupiah.
HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Tugu, Radar Trenggalek
KESAN seseorang melihat terrarium tentu keindahan dan keunikannya. Betapa tidak, ada tumbuh-tumbuhan yang sengaja diselipkan ke dalam toples atau botol, padahal tumbuhan itu asli dan bisa tumbuh secara alami. Tak sebatas itu, keindahan terarium ini juga terletak pada desain penataan sesuai imajinasi si pembuat, dialah Tony Widanto.
Tony belum lama ini memiliki hobi membuat terrarium. Ide itu muncul, karena ingin membuat kegiatan untuk mengembangkan kawasan wisata Hutan Kota (Huko), sehingga diharapkannya melalui terrarium itu ada dua sisi yang bermanfaat. Yakni menambah pengetahuan dan finansial. "Mulanya dari membuat kegiatan untuk warga Huko, saya pikir-pikir yang masih jarang terrarium ini," ungkapnya.
Menurut dia, nilai positif dari terrarium secara ekologi itu dapat melestarikan tumbuh-tumbuhan, karena ada beberapa tumbuhan yang mati ketika ada perubahan musim. Di sisi lain, terrarium ini juga bisa dijual dengan harga yang bervariasi. Selama ini, kata Tony, dia pernah menjual terrarium sekitar Rp 50 - 100 ribu. Variasi harga itu dipengaruhi tingkat kesulitan. "Kesulitan itu ketika membuat terrarium di dalam botol yang berukuran kecil, apalagi botol yang memiliki leher panjang," ujarnya.
Alat-alat yang diperlukan sebelum membuat terrarium itu adalah pinset dan perekat. Pinset berfungsi untuk menyusun bahan-bahan terrarium ke dalam botol, sedangkan lem untuk merekatkan batu atau ranting, agar tidak bergerak. "Tumbuhan yang paling sering saya pakai itu lumut, paku-pakuan, krokot. Tumbuhan-tumbuhan itu saya ambil dari lingkungan Huko," ujarnya.
Ayah dua anak itu mengatakan, tiap tumbuhan memiliki ciri khas tersendiri. Hal itu membuat para penghobi terrarium dibuat belajar untuk memahami karakter-karakter tumbuhan. Dan, proses belajar itu menambah kepuasan bagi pembuat terrarium. "Ada tumbuhan yang butuh kelembaban tinggi, juga ada yang tidak. Jadi, membuat terrarium juga bereksperimen," kata pria kelahiran 1980 tersebut.
Tony mengaku, ada dua metode untuk pembuatan terrarium, yaitu terbuka dan tertutup. Menimbang kelebihan dan kekurangannya, Tony lebih memilih metode tertutup karena menyimpan seni alaminya sendiri. Seni itu terletak pada siklus hidup tumbuhan yang alamiah, tanpa perlu membantu memberikan air secara berkala. "Kalau terbuka itu kadang perlu disiram air, tapi kalau tertutup itu ada siklus air alamiah, berupa embun," jelasnya. Dia menambahkan, semua orang dapat membuat terrarium, asalkan punya ketelatenan.
Biarpun Tony belum lama punya hobi membuat terrarium untuk mengisi waktu luang di malam hari. Ternyata, dia sudah memproduksi sampai 25 botol atau toples. Bahkan, ada beberapa terrariumnya yang terjual sampai ke Jawa Tengah. Dia pun berharap, akan semakin banyak orang yang mengembangkan terrarium khususnya di Kabupaten Trenggalek, karena berpotensi menghasilkan pundi-pundi rupiah, apalagi di tengah pandemi Covid-19. "Karena masih belum saya temui pembuat terrarium di Trenggalek, kalau aquascape itu sudah banyak," ungkapnya. (*)
Editor : Choirurrozaq