Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Melihat Vigor Wahyu Setiawan dalam Breeding Ikan Predator Channa

Choirurrozaq • Rabu, 24 Februari 2021 | 17:00 WIB
melihat-vigor-wahyu-setiawan-dalam-breeding-ikan-predator-channa
melihat-vigor-wahyu-setiawan-dalam-breeding-ikan-predator-channa

Ikan channa (gabus) pasti telah akrab dimasak untuk dijadikan obat atau lauk. Namun, pasti tidak semua orang menyangka ikan tersebut bisa dipelihara sebagai ikan hias, bahkan dikembangbiakan. Seperti yang dilakukan Vigor Wahyu Setiawan. Pastinya dengan ketelatenannya, dia berhasil melakukan breeding pada ikan tersebut khusus untuk hias. Jutaan rupiah pun didapat setiap bulan.


 


ZAKI JAZAI, Kota, Radar Trenggalek


 


Gurih, enak, dan lezat. Pastinya itu yang diungkapkan mayoritas orang setelah menyantap hidangan berupa ikan channa atau gabus. Namun, pasti akan berpikir ulang jika ingin memasak ikan channa milik Vigor Wahyu Setiawan. Sebab, harga satu ekor ikan channa miliknya tidak bisa dibilang murah jika untuk dikonsumsi. Yaitu termurah sekitar Rp 100 ribu per ekor. Itu pun ikan masih berukuran sekitar jari kelingking dan tidak layak untuk konsumsi.


Seperti yang dilihat Jawa Pos Radar Trenggalek ketika melihat ikan channa di puluhan akuarium di rumah Vigor Wahyu Setiawan, kemarin (23/2). Saat itu terlihat Vigor terlihat sedang mengamati beberapa pasang ikan channa peliharaannya. Sesekali dirinya mengetukan jemarinya pada dinding akuarium. Ternyata itu dilakukan untuk melihat respons ikan channa peliharaannya sambil melihat anak ikan yang ukurannya masih sangat kecil. "Ukuran anak ikan setelah menetas ini sangatlah kecil sehingga perlu pengamatan secara cermat untuk mengetahuinya," ungkap Vigor.


Sebenarnya untuk memulai breeding ikan channa tersebut tidaklah sulit asal tetap konsisten. Sebab, setiap jenis ikan channa memiliki karakteristik yang berbeda. Seperti jenis ikan channa yang dia kembangbiakkan, di antaranya jenis pulchra, andrao, dan asiatica. "Jadi harus paham karakteristik setiap jenis channa, kendati secara konsep proses breeding semuanya sama," katanya.


Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah menjodohkan tiap jenis ikan. Sebab, dalam hal ini, tidak boleh sembarangan dilakukan, melainkan harus berhati-hati. Sebab jika tidak berhati-hati dalam proses menjodohkan ini, bukannya ikan bisa kawin, malah saling bertarung hingga ada satu ekor yang mati. Dari situ, diperlukan konsep yang tepat dalam proses menjodohkan ini.


Pertama, dengan menaruh puluhan ekor channa satu jenis usia siap breeding, yaitu antara 9 bulan hingga 1 tahun dalam akuarium ukuran besar yang sesuai. Setelah itu, beberapa hari harus diamati gera-gerik tiap ekor ikan channa tersebut. Jika ada dua ikan yang selalu berjalan beriringan, hampir dipastikan jika itu satu pasang ikan jantan dan betina sehingga tinggal diambil untuk ditempatkan dalam satu akuarium. Jika setelah dicek benar bahwa itu ikan jantan dan betina, maka konsep breeding bisa dimulai.


Untuk cara berikutnya, terlebih dahulu memilih satu ekor pejantan dan betina. Setelah itu, dilakukan penjodohan dengan memasukkannya dalam satu akuarium. Namun, dalam proses ini tidak boleh asal memasukkan saja. Namun, antara satu sisi dalam akuarium harus ada sekat yang transparan. Tujuannya, jika ikan tidak cocok, tidak bisa langsung bertarung. Sehingga jika setiap saat ikan tersebut saling berhimpitan, berarti penjodohan bisa lasung dilakukan. "Untuk melihat mana pejantan dan betina, tiap jenis channa memiliki karakteristik yang berbeda. Sebab, bisa dilihat dari bentuk kepala, ekor, hingga corak. Pastinya dalam proses ini betina tidak boleh lebih besar dari pejantan," imbuh Vigor.


Itu dilakukan karena ketika masa birahi, channa betina lebih agresif daripada jantan. Sehingga ditakutkan bukan proses kawin yang dilakukan, malah yang betina menghajar yang jantan hingga mati. Sedangkan untuk hasil proses perkawinan, baru bisa dilihat antara 1 minggu hingga 1 bulan ke depan. Sebab, lama singkatnya proses perkawinan dilihat dari kecocokan tiap pasangan.


Dalam proses perkawinan, ikan tidak boleh stress. Untuk mencegah hal itu, salah satu dinding akuarium harus ditutup dengan semacam kertas karton. Tujuannya, agar pada proses perkawinan ikan tidak melihat orang mondar-mandir. Sebab, itu akan membuatnya stres hingga proses perkawinan tidak berhasil. Selain itu, untuk tempat telur dalam akuarium diberi semacam ikatan dari tali rafia.


Dikatakan berhasil jika pada air tersebut seperti ada gelembung-gelombung kecil, yang artinya telur ikan sudah menetas. Setelah itu, jika telah berumur satu minggu, ketika ikan kecil bisa dilihat dengan jelas baru bisa dikasih pakan berupa tutu air.


Setelah beranjak dewasa, anak ikan channa tersebut bisa diberi pakan berupa ulat atau ikan kecil dan pelet. Barulah jika ukurannya minimal 2 sentimeter (cm), berarti ikan telah siap jual.


Harga jual bervariasi, tergantung jenisnya. Dengan ukuran tersebut, termurah biasanya dijual seharga Rp 100 ribu per ekor. "Pastinya ikan channa yang saya jual tidak sembarangan. Dipastikan kualitas dan kesehatannya. Saya tidak mau mengecewakan pelanggan dari berbagai daerah, seperti Jakarta dan sekitarnya," jelas pria 40 tahun ini. (*) 

Editor : Choirurrozaq