Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kiat Yuli Wulandari Bertahan Menekuni Kerajinan Decoupage

Choirurrozaq • Kamis, 25 Februari 2021 | 17:00 WIB
kiat-yuli-wulandari-bertahan-menekuni-kerajinan-decoupage
kiat-yuli-wulandari-bertahan-menekuni-kerajinan-decoupage

Decoupage memang bukan kerajinan baru. Namun, mengombinasikan decoupage dengan berbagai kerajinan lain seperti goni dan anyaman mampu menambah nilai jual. Seperti yang dilakukan Yuli Wulandari. Dengan sedikit kreativitas, dia pun berusaha bertahan di masa pandemi ini.


ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Boyolangu, Radar Tulungagung


 


 


 TAK sulit menemukan kediaman Yuli Wulandari di Desa Beji, Kecamatan Boyolangu. Di rumah yang tampak asri karena tanaman-tanaman hidroponik miliknya ini, dia sedang sibuk membuat kerajinan decoupage. Yakni seni menghias benda dengan cara menempelkan potongan-potongan kertas bergambar yang dipadukan dengan efek cat khusus maupun unsur dekoratif lainnya.


Melihat kedatangan Koran ini, Yuli seketika menghentikan aktivitasnya dan memamerkan karya decoupage yang baru dibuatnya. “Mangga, ini tadi sedang iseng saja menyelesaikan guntingan decoupage,” jelasnya seraya mempersilakan Koran ini masuk.


 


 Istri dari Sigit Wicaksono ini mengatakan, kerajinan decoupage telah dia tekuni sejak 2018 silam. Bermula dari keikutsertaannya pada grup dan komunitas parenting. Saat itu, dalam komunitas tersebut diadakan sebuah pelatihan keterampilan bagi ibu-ibu. Salah satunya pelatihan seni decoupage.


Dari situ, dia pun mengeksplorasi mengenai seni decoupage. Mulai dari bahan baku yang baik hingga media apa saja yang cocok untuk dijadikan decoupage. “Dari yang awalnya hanya coba-coba karena iseng ikut pelatihan, rupanya saya ketagihan sendiri untuk terus membuat decoupage,” terangnya.


Wanita 46 tahun ini lantas mulai memanfaatkan benda-benda yang ada di rumahnya untuk dibuat decoupage. Terutama yang berbahan anyaman. Seperti tempat tisu hingga tas tangan. Tak disangka, decoupage buatannya mendapat respons positif dari teman-temannya. Lantas dia pun mulai memberanikan diri untuk mengeksplorasi kemampuan. Hingga dia pun terpikir untuk mengombinasikan decoupage dengan kerajinan berbahan goni dan anyaman. “Hasilnya rupanya lebih ramai lagi karena kerajinan berbahan goni dan anyaman itu sangat cocok dengan decoupage,” urainya.


Namun, disinggung kondisi saat ini, wanita kelahiran 14 Juli 1974 ini mengaku terdapat penurunan drastis selama pandemi Covid-19. Bahkan omzet yang dicapai anjlok sekitar 50 persen dari sebelum pandemi. Ini lantaran orang-orang mengutamakan untuk membeli kebutuhan lain seperti masker dan kebutuhan pangan. Selain itu, beberapa pagelaran pameran juga dibatalkan. Hal ini tentu berimbas pada pendapatannya.


Untuk menyiasati hal tersebut, Yuli pun berusaha mencari cara untuk tetap dapat menarik minat pembeli. Salah satunya dengan menambah koleksi gambar decoupage. Tak hanya itu, dia pun menonjolkan desain bernuansa bunga dan dedaunan untuk dekoratif. Ini sebagai ciri khas decoupage buatannya. Selain menambah desain, dia pun berusaha memanfaatkan peluang seperti membuat dompet berbahan goni dan dicampur dengan anyaman dan decoupage untuk tempat menyimpan tisu dan masker. “Ini namanya memanfaatkan peluang karena sebenarnya decoupage bisa dimanfaatkan di media apa pun. Bahkan bisa menambah kesan estetik,” tandasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq
#kiat