Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dari Sopir Angkutan, Samirin Beralih Jadi Pengrajin Kuda Lumping

Choirurrozaq • Selasa, 2 Maret 2021 | 16:20 WIB
dari-sopir-angkutan-samirin-beralih-jadi-pengrajin-kuda-lumping
dari-sopir-angkutan-samirin-beralih-jadi-pengrajin-kuda-lumping

Pandemi Covid-19 membuat usaha Samirin lesu. Namun tidak menyurutkan semangat warga Lingkungan 10 Desa/Kecamatan Ngunut ini menciptakan properti pentas seni jaranan. Itu karena kecintaannya terhadap seni budaya yang tinggi.


SITI NURUL LAILIL MA’RIFAH, Ngunut, Radar Tulungagung


UNTUK menemukan rumah Samirin tidaklah mudah. Karena berada di daerah yang padat penduduk. Selain itu, harus melewati gang-gang kecil. Namun demikian, warga sekitar akan menunjukkan lokasi rumahnya. Karena namanya cukup dikenal.


Seperti koran ini, setelah dua kali bertanya warga, sampailah di rumahnya di RT 03 RW 04. Di rumah itu, terdapat ruang yang dipenuhi berbagai anyaman berbentuk kuda. Ini menjadi ciri khas rumah Samirin yang memang berprofesi sebagai pengrajin kuda lumping, properti dari pentas seni jaranan.


Samirin saat dikunjungi tampak sibuk. Mengenakan kaos berwarna merah serta celana jins, pria berusia 53 tahun ini fokus mengecat kuda lumping buatannya. “Mangga, maaf berantakan. Ini bengkel saya,” ucap Samirin sembari mempersilakan koran ini.


Bengkel yang dimaksud bukan bengkel otomotif, melainkan bengkel tempatnya bekerja membuat kerajinan kuda lumping. Ada berbagai model kuda lumping buatannya. Di antaranya Pegon, Senterewe, Kedirian, dan Jawa yang memiliki ukuran cukup besar seperti ukuran kuda aslinya. “Yang tersedia di sini hanya stok apabila ada teman-teman seniman yang membutuhkan cepat,” terangnya.


Diakui bapak satu anak ini, usahanya terbilang terdampak pandemi Covid-19. Bahkan hampir mati suri. Hal ini menyusul regulasi pemerintah yang tidak memperbolehkan adanya pertunjukkan seni dalam upaya memutus sebaran Covid-19. “Lumayan. Bahkan dua bulan belum tentu laku sama sekali. Mengingat tidak ada pertunjukan,” jelas pria yang sebelumnya berprofesi sebagai sopir ini.


Padahal normalnya, dia bisa menjual dua set dalam satu bulan. Satu setnya berisi 6 kuda lumping. Tingginya permintaan ini, karena banyak masyarakat yang suka dengan pertunjukan seni jaranan itu. “Meski demikian, saya tetap bertahan. Itu karena saya suka dengan seni dan ingin melestarikan budaya ini,” tuturnya.


Samirin cukup bangga dengan karyanya. Bahkan pemasarannya sudah tembus hingga luar Jawa. Seperti Kalimantan, Riau dan kota/kabupaten di Jawa Timur. Rata-rata pemesan merupakan sesama seniman. “Belum merambah ke online. Masih gethok tular dari seniman-seniman gitu. Karena pengrajinnya hanya saya sendiri, terkadang dibantu anggota saya untuk nge cat,” jelas Ketua Satria Krida Taruno ini.


Tentu dengan sepinya orderan ini, maka pendapatannya menurun. Namun demikian, ia tetap menyediakan stok kuda lumping di rumahnya. Dia berharap stok tersebut segera habis sehingga dapat mengembalikan pendapatannya yang sempat tertunda setelah pemerintah memberikan relaksasi dengan memperbolehkan digelarnya seni pertunjukan. “Kami berharap pandemi segera mereda dan pemerintah mau memperhatikan kami sebagai seniman agar seni tradisi ini tidak punah,” tandasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq