Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Geliat Pembudi Daya Ikan Koi Kohaku, Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok

Choirurrozaq • Rabu, 3 Maret 2021 | 16:20 WIB
geliat-pembudi-daya-ikan-koi-kohaku-desa-kemloko-kecamatan-nglegok
geliat-pembudi-daya-ikan-koi-kohaku-desa-kemloko-kecamatan-nglegok

Meski tidak seramai tahun lalu, ikan koi asal Bumi Penataran masih menjadi incaran para penghobi ikan hias. Bahkan, kini mulai merambah pasar ekspor. Sebelum dikirim, ikan koi tidak diberi makan agar tidak mengeluarkan kotoran.


 


AGUS MUHAIMIN, Nglegok, Radar Blitar


 


Setahun terakhir, para pembudi daya ikan koi di Bumi Penataran boleh dikatakan sedang panen. Ada banyak permintaan barang sebagai pengganti aktivitas masyarakat yang jenuh dengan pendemi korona. “Tapi kalau dibandingkan tahun lalu, penjualan kini mulai menurun,” ujar Yulia Hinamatul Iza sembari memeriksa ikan koi di akuarium. 


Untungnya, ada beberapa jenis koi yang menjadi unggulan dari Kabupaten Blitar. Misalnya, jenis kohaku asal Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok. Sehingga masih ada harapan untuk terus mengembangkan budi daya perikanan ini.


Yulia dan para pembudi daya koi di desa ini juga tidak tahu penyebab jenis kohaku asal desanya tersebut berbeda dari daerah lain. Warna merah dan putih pada ikan jenis ini diminati karena lebih terang dan tajam jika berasal dari desa tersebut. “Mungkin karena letak geografisnya di bawah perbukitan sehingga cocok untuk habitat jenis ini,” tuturnya.


Biasanya, para pembudi daya ikan koi melakukan panen secara berkala. Setidaknya tiga bulan pertama pascapemijahan dan aktivitas penjualan ini dimulai. Pada saat itu penangkar tidak menjual semua ikan. Sebagian yang berwarna bagus atau berpotensi memiliki nilai ekonomi akan disimpan. Dijual beberapa bulan berikutnya dengan nilai yang lebih mahal.


Media sosial kini menjadi salah satu andalan dalam pemasaran. Tidak hanya mememuhi kebutan lokal dan regional, ada beberapa jenis ikan yang kini juga memenuhi pasar ekspor, yakni Filipina dan Malaysia. Di Desa Kemloko ini, yang menjadi langganan untuk ekspor adalah jenis kohaku. “Jadi kalau dari Kemloko itu yang paling banter lakunya ya jenis kohaku,” akunya.


Sebagian besar penangkar sudah paham perlakuan ikan dalam pengiriman produk keluar daerah. Semua ikan dikarantina. Mereka tahu bahwa perubahan habitat dari kolam penangkaran ke tempat yang baru berpengaruh besar terhadap ikan. Tidak hanya kualitas, tapi juga kesehatan dan ketahanan ikan.


Karantina ini minimal dilakukan lima hari dalam akuarium kecil. Air dalam akuarium tersebut diatur sedimikian rupa agar ikan mudah beradaptasi. Sejalan dengan itu, para pembudi daya juga mulai memasarkan barang mereka melalu media sosial. “Kami pakai heater, garam, dan beberapa bahan untuk perawatan saat karantina,” ucap Imron, pembudidaya koi lain.


Saat proses karantina ini, ikan harus berpuasa alias tidak diberi pakan. Tujuannya agar ikan tidak mengeluarkan kotoran saat proses pengiriman. Sebab, lamanya proses pengiriman tidak bisa dipastikan. Jika ikan tersebut makan kotoran sendiri, akibatnya sangat fatal. “Kan air dalam wadah saat pengiriman sangat terbatas. Kalau ikan makan kotorannya sendiri bisa bahaya,” ungkap bapak dua anak ini.


Dengan proses karantina ini, Imron memastikan bahwa kualitas ikan terjamin. Bahkan, para penangkar juga berani pasang garansi jika kualitas produk berbeda dari yang dipasarkan di media sosial. “Ini soal kelangsungan usaha. Kalau ikan yang diterima tidak baik, otomatis membunuh pasar sendiri,” ujarnya.


Nyaris tak ada kendala dalam budidaya ikan. Hanya faktor alam, semisal pergantian musim yang kadang membuat waswas para pembudi daya ikan. Selain itu, angin kencang beberapa hari terakhir juga membuat pembudi daya galau. “Kalau angin kencang, muka air kolam itu bergelombang. Jadi, kolam seperti diobok-obok, ikannya juga banyak yang mati karena mabuk,” imbuhnya.


Dulu, masyarakat memanfaatkan aliran sungai yang melintas di desa tersebut untuk budi daya ikan hias koi. Namun seiring berjalannya waktu, kualitas air sungai sudah berubah. Meski masih terlihat jernih, masyarakat memilih sumur bor untuk pembesaran ataupun penangkaran ikan.


Aktivitas pengolahan lahan pertanian disebut-sebut sebagai penyebabnya. Karena sungai tersebut juga digunakan oleh para petani. Sayang, penggunaan pestisida dan pupuk kimia malah berdampak pada habitat sungai dan memengaruhi kualitas budi daya ikan koi. “Ada saja penyakit yang menyerang sehingga kini pakai sumur bor untuk meminimalisasi risiko gagal panen,” katanya. (*)

Editor : Choirurrozaq