Kebudayaan ada bukan untuk diperdebatkan, melainkan harus digunakan sebagai identitas suatu daerah. Inilah yang ada dalam benak sekelompok orang yang tergabung dalam Kabul Cultural Space (KCS). Pasalnya, berbagai kegiatan dilakukan mereka demi memajukan kota asal Trenggalek
ZAKI JAZAI, Karangan, Radar Trenggalek
Pertunjukan tari pada Senin (1/3) lalu, mungkin akan selalu diingat oleh pengguna jalan Karangan- Nglongsor, atau sebagian masyarakat Bumi Menak Sopal. Sebab, pada sore hari menjelang Magrib, ada sekelompok seniman, yang manfaatkan momen genangan air pada jalan untuk atraksi teatrikal. Mulai dari seni tari, memancing di jalanan, hingga berenang di kubangan jalan rusak. Sontak atraksi ini menjadi perhatian warga sekitar dan pengguna jalan yang melintas.
Itu dilakukan karena di sepanjang jalan Karangan-Nglongsor yang kondisinya rusak parah, ada beberapa titik yang kondisinya dipenuhi lubang yang cukup dalam. Akibatnya, tidak jarang pengguna jalan yang melintas di lokasi ini mengalami kecelakaan. Sehingga atraksi teartrikal tersebut suatu bentuk kepedulian dari para seniman yang tergabung dalam KCS terhadap pengguna jalan. "Sebenarnya kami tidak memiliki niatan apa-apa sih tentang hal itu, murni hanya ingin menghibur pengguna jalan saja," ungkap salah satu perwakilan KCS, Resa Jaya ketika ditemui Jawa Pos Radar Trenggalek, kemarin (5/3).
Kendati demikian, kegiatan tersebut sukses menarik animo masyarakat maupun netizen. Banyak komentar yang menghampiri mereka, baik yang positif maupun negatif. Namun mereka memilih untuk mengacuhkan. Karena hal tersebut merupakan hak setiap orang dan sebagai apresiasi yang diberikan masyarakat. Namun yang pasti, kegiatan tersebut dilakukan agar pengguna jalan tidak tegang. Sebab jika tegang, justru bakal membuyarkan konsentrasinya hingga berisiko terjadi kecelakaan ketika melintas. "Pastinya dengan penampilan kami itu mereka terhibur dan tidak jadi marah ketika melintas. Atraksi kami itu juga sebagai penanda jika ada lubang besar di jalan dan bahaya dilewati," tuturnya.
Sebab, pascaatraksinya tersebut justru muncul beberapa isu yang berkembang. Beberapa di antaranya ada yang menyebut bahwa aksi mereka mewakili kegeraman warga akibat jalan yang belum juga diperbaiki. Ada juga yang menyebut sebagai filosofi celeng yang turun ke kubangan. Selain itu, ada juga yang menganggap bahwa seniman butuh panggung. Sehingga hal tersebut nantinya akan dijadikan motivasi guna melaksanakan kegiatan lainnya untuk menghibur masyarakat. Tidak hanya sebagai seorang seniman, tapi para pencinta budaya. Selain antraksi treatrikal, KCS juga sering melakukan berbagai kegiatan lainnya di Trenggalek.
Sebab, KCS sebetulnya bukan suatu komunitas, melainkan semacam ruang atau wadah bagi para pencinta budaya. Sehingga selain seniman, juga ada berbagai pencinta budaya yang sering bergabung untuk berdiskusi soal kebudayaan, terutama yang ada di Trenggalek. KCS memfasilitasi ide teman-teman yang positif untuk memajukan Trenggalek lewat bidang kebudayaan.
Seperti peragaan atraksi tari celeng yang di Jalan Karangan-Nglongsor. Tarian tersebut biasanya digunakan untuk selingan tari jaranan di Trenggalek. Selain merepresentasikan kebudayaan Trenggalek, hewan celeng atau babi hutan suka bermain di kubangan. "Jadi kegiatan yang kami lakukan tidak terpaku di seni, ya bisa sejarah, bahasa, dan semua tentang identitas daerah," ujar pria bertubuh sedikit tambun ini. (*)
Editor : Choirurrozaq