Pandemi Covid-19 bagi Dhiya Filda Mufarrihati justru momentum para generasi muda untuk terus berkreasi. Pasalnya, sejak pemberlakuan pembelajaran dalam jaringan (daring), membuat dirinya lebih intens di dunia literasi. Pernah juga dia meraih peringkat II lomba esai tingkat Jatim.
HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Kota, Radar Trenggalek,
PERKENALAN Dhiya Filda Mufarrihati dengan dunia literasi belumlah lama, sekitar setahun lalu. Gairah literasi Filda itu muncul setelah mengikuti Bimtek literasi. Di sana, dia bertemu dengan para senior di dunia literasi. Dari situ, anak pertama ini menjadi terinspirasi terjun ke dunia pena di atas kertas.
Gairah literasi Filda dimulai dengan perubahan kebiasaan, dari yang semula tidak memandang membaca adalah passion. Namun sejak Bimtek itu, dirinya tak dapat lepas dengan kebiasaan membaca. Sebab, membaca adalah modal pertama sebelum seseorang terjun dalam dunia literasi.
Genre buku yang biasa dibaca Filda bervariasi, mulai dari fiksi hingga non fiksi. Tak sedikit juga buku-buku tentang kesehatan, karena dia memiliki latar pendidikan kesehatan. “Buku yang memiliki isi non fiksi, tapi dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami,” ungkap pelajar kelas XI, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kesehatan Wijaya Husada Kabupaten Trenggalek itu.
Diakui Filda, membaca buku saja belum cukup untuk terjun di dunia literasi. Perlu jam terbang yang tidak bisa didapatkan hanya dalam sehari atau dua hari. Melainkan perlu proses panjang sampai lihai untuk menulis. Kesimpulan itu Filda rasakan ketika membuat esai pertamanya berjudul peningkatan pelayanan kesehatan untuk kesejahteraan sosial.
Selama menyusun esai, Filda kerap kali merasa kesulitan saat menuangkan ide ke dalam bentuk tulisan, pemilihan diksi-diksi misalnya. Tak ayal, dalam menyusun satu esai yang berisi tiga bab (pendahuluan, rumusan masalah, dan pembahasan, Red) itu membutuhkan waktu sekitar seminggu lamanya. “Kira-kira sehari itu sekitar 5 jam mengerjakan, setelah selesai mengerjakan PR,” ungkap pemudi yang suka makan capcay tersebut.
Filda mengatakan, garis besar esai itu berisi mengenai bagaimana pelayanan kesehatan dapat mensejahterakan masyarakat. Menurut dia, esai itu sebagai bentuk refleksi antara fenomena sekarang dengan fenomena yang diimpikan masyarakat. “Kesehatan bagian dari hak masyarakat, mereka layak mendapat pelayanan yang optimal dan tidak antri berkepanjangan,” ujarnya wanita kelahiran 2004 ini.
Lebih lanjut, kata Filda, ketika mendalami pokok masalah mengenai pelayanan kesehatan itu ternyata kompleks. Mengantisipasi pembuatan esai yang melebar, maka perlu pembatasan ruang lingkup, yaitu kesiapan peralatan maupun latar profesi yang memerlukan sertifikat. “Apa yang membuat layanan kesehatan antri, ternyata dipengaruhi oleh ketersediaan alat. Ketika jumlah alat itu tak sebanding, tentu akan menimbulkan antri,” ujarnya.
Perjuangan Filda selama seminggu membuat karya ilmiah tentang kesehatan itu pun berbuah manis. Esai itu terpilih menjadi terbaik kedua dari lomba yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang. “Bersyukur, mengawali karir di dunia literasi,” ucapnya.
Selama pandemi, wanita berhijab itu rajin menulis cerpen. Filda berencana ketika cerpen-cerpennya sudah selesai, akan diterbitkan dalam bentuk buku. “Sembari menunggu ajang lomba esai lagi, aktivitas membaca-menulis tak pernah lepas,” tutupnya. (*)
Editor : Choirurrozaq