Siapa sangka di balik mengilapnya manusia silver Tulungagung, Ahmad Dwi Widodo, ternyata menyimpan cerita pilu. Sekitar dua tahun lalu dia mengalami kecelakaan kerja di perusahaannya yang membuat tangan kanannya cedera parah sehingga dia tidak bisa bekerja seperti dulu lagi. Bukan mendapatkan bantuan, dia malah mendapatkan surat pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak.
MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Kedungwaru, Radar Tulungagung.
Siang itu, di simpang empat Rumah Sakit Lama atau tepatnya di Jalan Pahlawan, Kecamatan Kedungwaru, terlihat seseorang yang hampir sekujur tubuhnya berwarna silver nan mengilap. Ketika lampu jalan berwarna merah, itulah saatnya dia melakukan penampilan layaknya patung. Setiap penampilanya, dia tidak lupa membawa sebuah kotak yang bertuliskan “Ayo pakai masker dan jaga jarak, biar kita semua saling melindungi. Terima kasih.” sebagai bentuk kampanye protokol kesehatan (prokes) untuk mencegah penyebaran Covid-19.
Ahmad Dwi Widodo adalah seorang seniman manusia silver di Tulungagung. Sebelum memutuskan menjadi manusia silver, Ahmad menceritakan, awal mulanya dia adalah seorang karyawan yang bekerja di salah satu perusahaan di Kota Cirebon, Jawa Barat. Pada 2019 lalu, dia mengalami peristiwa yang seketika mengubah kehidupannya. Pada saat itu dia mengalami kecelakaan kerja, yang membuat tangan sebelah kanannya cedera berat sehingga dirinya tidak bisa bekerja seperti sedia kala. “Pada saat saya masih bekerja di perusahaan, saya adalah teknisi bagian mesin dorpel. Waktu itu saya mengalami kecelakaan kerja dan membuat saya ter-PHK oleh perusahaan,” ujarnya.
Pria asli Kediri itu mengungkapkan, ketika mendapatkan surat PHK, dia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menerima keadaan itu dengan pasrah. Dari situ, dia kembali ke kota asalnya dan bingung mau memulai pekerjaan apa, melihat kondisi fisiknya tidak seperti dulu. Akhirnya dia memutuskan untuk bekerja di jalan, membersihkan kaca mobil yang berhenti di setiap persimpangan kota. Tapi, tidak lama kemudian, dia bertemu dengan salah satu temannya yang juga bergabung dalam komunitas manusia silver yang ada di Jogjakarta. Dari situlah dia memulai karirnya menjadi manusia silver. “Dengan kondisi saya kini, untuk memegang sendok saja saya sudah tidak bisa. Hal ini membuat saya bingung harus bekerja apa dengan kondisi fisik saat ini. Akhirnya memutuskan untuk menjadi manusia silver setelah bertemu dengan teman saya yang juga menjadi manusia silver di Jogja,” ungkapnya.
Pria yang belum berkeluarga itu mengatakan, biasanya dia memulai aktivitasnya dari pagi hingga sore hari, bertempat di simpang empat Rumah Sakit Lama. Konsep yang dia gunakan adalah menjadi patung manusia silver. Selain menampilkan seni tersebut, dia juga mengampanyekan agar pengendara tetap mematuhi prokes saat berkendara di jalan. Hal itu dia ungkapkan dalam bentuk tulisan yang ditempelkan pada kotak yang selalu dia bawa. “Saya ini bukan pengemis, tetapi saya mencoba menampilkan sebuah seni. Jadi pengendara berhak memberi saya uang atau tidak dengan seni yang saya tampilkan. Biasanya kalau rame bisa mendapat Rp 150 ribu, tapi itu tidak setiap hari,” paparnya.
Berdasarkan pengalamanyna tiga bulan menjadi manusia silver, ternyata banyak pengendara yang terhibur. Untungnya tidak pernah ada orang yang mencemoohnya melakoni hal itu. Dia juga menjelaskan, untuk melapisi warna silver di hampir sekujur tubuhnya, dia menggunakan cat lukis pasta perak. “Banyak orang yang senang dan terhibur ketika saya menjadi manusia silver. Tetapi mewarnai sekujur tubuh dengan cat lukis bukan berarti tidak ada efek samping meski tidak berbahaya. Biasanya kalau terlambat membersihkan, cat silver tidak bisa dihilangkan dari tubuh,” terang pria ramah itu.
Ahmad menuturkan, dari hasil menjadi manusia silver, 10 persennya digunakan untuk disumbangkan ke masjid dan panti asuhan. Jadi melakoni manusia silver bukan semata-mata hanya mencari uang saja, melainkan juga berbagai dan beribadah secara sosial. “Biasanya hasil kerja, 10 persennya saya berikan ke masjid dan anak yatim,” pungkasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq