Melukis pada kanvas mungkin sudah biasa. Namun melukis pada media keramik mungkin tergolong hal unik. Seperti Ani Nurhaliza, seorang pelukis dan illustrator muda yang menghasilkan lukisan keramik. Dengan menonjolkan budaya Bali, karyanya dapat menjadi pemanis hunian.
ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Pucanglaban, Radar Tulungagung
Mempertahankan daerah asal menjadi prinsip yang dipegang Ani Nurhaliza dalam menghasilkan setiap karya. Memiliki darah keturunan Bali dari sang Ayah, remaja yang memiliki nama asli Kadek Anindya Asmita Kala ini merupakan seorang pelukis dan illustrator muda. Terbaru, goresan-goresan tangannya tidak hanya pada media kanvas, tapi juga pada media keramik dan kaca. Sehingga dapat menjadi unsur dekoratif pada hunian bertemakan Bali (Balinese).
Kepada Koran ini, remaja yang akrab disapa Anin ini menceritakan bagaimana ketertarikannya pada segala pernak-pernik dan budaya Bali. Kecintaannya pada budaya Bali menjadi inspirasinya dalam menghasilkan setiap karya lukis. Termasuk membuat inovasi karya dekoratif bertema Bali. “Saya ingin menantang diri saya sendiri bahwa melukis itu tidak hanya pada kanvas, tapi juga bisa di media lain. Saya pun mencobanya pada media keramik dan rupanya bisa,” jelasnya mengawali cerita.
Dari ide sepelenya itu, putri dari pasangan suami istri (pasutri) I Ketut Ade Wisang dan Triyani ini lantas memanfaatkan piring-piring polos di rumahnya, kemudian dia lukis sesuai dengan karakternya. Karena mendapat respons positif, dia pun memberanikan diri untuk mengembangkan kemampuan untuk melukis pada media keramik. Seperti pada piring, mangkuk, dan dekoratif lain berbahan keramik. Selain menjadi media seni baru, juga dapat sebagai pilihan untuk mempermanis hunian dengan berbagai hiasan dekoratif bernuansa Bali.
Tak hanya dapat menjadi seni dekoratif baru, dara 21 tahun ini ingin melalui setiap karyanya dapat mengenalkan budaya Bali kepada setiap penikmat seni. Sehingga upaya ini juga sebagai salah satu cara untuk turut melestarikan budaya lokal. “Melalui karya-karya ini saya juga ingin mengenalkan kepada banyak orang bahwa budaya Bali itu unik dan sangat khas,” terangnya.
Meskipun sudah tidak asing dengan seni lukis, melukis pada media keramik menjadi tantangan tersendiri baginya. Salah satunya karena media keramik yang licin menyulitkannya dalam melukis. Sebab, hanya dapat dilukis dengan teknik sekali gores sehingga tidak boleh ada kesalahan sedikit pun.
Perbedaan lain yang dirasakannya ketika melukis pada media keramik adalah karena memiliki permukaan yang licin membuat cat yang digunakan relatif cepat menyebar dan sulit untuk kering. Sehingga diperlukan proses cukup lama dibandingkan dengan melukis pada kanvas. “Bisa dibilang lebih rumit dan detail kalau di media keramik. Namun ketika sudah jadi, hasilnya tidak kalah dengan kanvas,” urainya.
Meski demikian, melihat respons dari penikmat seni yang cukup bagus membuatnya kian semangat untuk terus mengembangkan diri. Bahkan, ke depan dia ingin mencoba berbagai media lain untuk menghasilkan karya. Seperti jaket maupun tote bag. Ini lantaran dia ingin dapat menjangkau pasar yang lebih luas. “Kalau seperti jaket nanti rencananya ingin untuk kalangan anak muda. Jadi bisa mengenalkan budaya Bali pada anak muda,” imbuhnya.
Disinggung mengenai imbas pandemi Covid-19, remaja kelahiran Denpasar, 28 Desember 2000 ini tak menampik wabah yang telah berlangsung selama setahun ini juga berdampak pada pekerja seni seperti dirinya. Bahkan, dia terpaksa harus membatalkan sejumlah pameran seni yang telah direncanakan beberapa waktu lalu. Namun, dia yakin dengan berbagai inovasi yang dibuatnya dirinya akan mampu bertahan melewati pandemi. “Saya rasa semua seniman dan pelaku seni merasakannya. Bisa tetap berkarya sudah lebih dari cukup untuk saat ini,” tandasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq