Hiphop memang bukan asli dari Indonesia. Tapi, budaya dari negeri Paman Sam ini punya banyak penggemar. Termasuk di Blitar. Budaya tersebut punya banyak turunan. Mulai dari rap, breakdance, gravity, disc jockey (DJ) dan beatbox.
ADITYA YUDA SETYA PUTRA, Kepanjenkidul, Radar Blitar
Salah seorang yang tertarik dengan hiphop yakni Gema Gangga. Dia menjadi seorang pegiat beatbox dan pendiri komunitas tersebut di Blitar.
Jarum jam menunjukkan pukul 16.45 saat wartawan Jawa Pos Radar Blitar bertemu Gema. Pria ramah itu sesekali berdehem saat mulai menceritakan tentang beatbox. Sebagai pegiat beatbox, suara memang dianggap cukup penting. Terlebih saat berinteraksi dengan orang lain.
Dia mengaku suka dunia hiphop sejak duduk di bangku sekolah. Tepatnya pada 2013 lalu. Kala itu Gema tergabung dalam komunitas rap yang ada di Kota Blitar. Lambat laun, Gema makin banyak belajar tentang hiphop. Dia pun mengenal beatbox. Merasa lebih tertarik, Gema memilih beralih dari rap, ke beatbox. Dia juga membentuk komunitas "musik dari mulut" itu.
"Dulu pas sekolah awalnya saya ikut komunitas rap. Dari situ saya kenal orang-orang beatbox. Saya tertarik, akhirnya belajar dan membentuk komunitas sendiri,” ujarnya.
Kala itu, komunitas yang dibentuk Gema termasuk pioneer. Sebab, belum ada komunitas beatbox sebelumnya. Seiring berjalannya waktu, komunitas diprakarsainya makin berkembang.
Awalnya anggota komunitas hanya lima orang. Kini, mencapai belasan orang. Itu baru anggota aktif yang terdata secara administratif.
Banyak panggung kompetisi yang sudah dicobanya bersama kolega. Tak jarang, Gema pulang dari kompetisi membawa sertifikat juara dan trofi. "2014 lalu juara dua di Kediri. Pernah juga komunitas kami juara dua saat kompetisi di Tulungagung. Itu kompetisi antar kota. Pesertanya ada dari Jakarta, Ambon, juga Papua," kata warga Kelurahan/Kecamatan Kepanjenkidul itu.
Ditanya terkait dampak pandemi Covid-19, Gema mengaku terhambat. Banyak urusan terkendala. Komunitasnya jarang kumpul untuk latihan bareng. Padahal, dulu komunitas ini punya jadwal latihan dua kali dalam sepekan. Kondisi tersebut membuat beberapa anggota menjadi kurang aktif berlatih. "Dulu latihan kami di amphitheater Makam Bung Karno. Kalau selama pandemi, sudah hampir tidak pernah bertemu untuk latihan bareng lagi," keluhnya.
Tak mau komunitasnya redup, Gema berinisiatif tetap berlatih bersama rekan-rekannya. Namun kali ini tanpa tatap muka, melainkan melalui media sosial. Yakni melalui voice chat di aplikasi whatsapp. “Jadi nanti tetap bisa latihan karena kami sama-sama saling beri masukan dan kritik agar tetap semangat latihan dan berkembang," ujar pria kelahiran 1995 itu.
Gema juga berencana kembali menggelar kompetisi antar komunitas begitu pandemi usai. Dia menyebut, hal ini perlu dilakukan untuk tetap menjaga hubungan antar anggota yang sempat renggang selama pandemi. "Kompetisi Kecil-kecilan juga tidak masalah. Yang penting bisa kembali merekatkan hubungan dengan sesama komunitas beatbox," imbuhnya. (*)
Editor : Choirurrozaq