Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Angga Mahardika, dapat Berkah dari Budidaya Leopard Gecko

Choirurrozaq • Selasa, 16 Maret 2021 | 16:15 WIB
angga-mahardika-dapat-berkah-dari-budidaya-leopard-gecko
angga-mahardika-dapat-berkah-dari-budidaya-leopard-gecko

Memang sebagian orang melihat leopard gecko akan lasung geli, namun tidak sedikit akan langsung terpikat. Sebab dengan melihat keunikannya bisa membuat orang bisa jatuh hati. Inilah yang membuat Angga Mahardika terus membudidayakannya, hingga bisa memghasilkan jutaan rupiah setiap bulan.


ZAKI JAZAI/ Durenan, Radar Trenggalek


"Silahkan masuk, maaf ya sedikit berantakan," ucapan seperti itulah yang diucapkan oleh Angga Mahardika ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini mengunjungi rumahnya yang berada di kawasan Desa/ Kecamatan Durenan. Namun jangan salah, berantakan bukan soal rumah yang kumuh atau berbagai peralatan rumah tangga berserakan, namun karena ada beberapa kotak plastik mika di beberapa sudut rumah. Itu terjadi karena dia baru saja mengangkat sebagian kotak-kotak tersebut dari kamar. Sebab kamarnya saat itu tengah dibersihkan.


Setelah dilihat lebih lanjut, ternyata kotak tersebut bukan sembarangan kotak melainkan ada seekor, atau sepasang hewan mirip tokek di dalamnya. Ternyata hewan tersebut bukan tokek melainkan leopard gecko alias gecko. Memang tokek dan leopard gecko sama-sama berasal dari satu keluarga, tapi spesiesnya berbeda. Tokek rumahan yang berbunyi otok-otok-otok tekek itu adalah tokay gecko. Warnanya cenderung abu-abu dengan totol-totol hitam, oranye, atau warna lain. Hewan tersebut liar dan galak, jika diganggu, bisa menggigit.


Sementara itu, leopard gecko punya warna dan motif lebih cantik, dan beragam. Kulitnya kasar, ada semacam benjolan kecil merata di atas tubuhnya, ekornya sedikit menggembung, dan lebih jinak. Buktinya kalau dipegang, hewan tersebut pasrah. "Makanya, banyak yang suka leopard gecko sebagai hewan peliharaan," ujar Angga Mahardika.


Sebab pada habitat aslinya, kawasan negara Pakistan, India, atau Iran, leopard gecko hidup di bawah bebatuan. Pemalu dan cenderung takut saat melihat orang. Sehingga ketika bertemu orang hewan tersebut pasti akan kabur."Memang dialam liar seperti itu, namun jika sering dipegang, ya akan jinak," kata pria yang akrab disapa angga ini.


Sehingga hewan tersebut menjadi pilihan hewan peliharaan yang sedang digandrungi. Sebab, selain warnanya bercorak dan cantik, perawatannya mudah, karena tidak perlu bikin kandang bagus. Dengan memiliki bok plastik yang diberi lubang untuk ventilasi di beberapa sisi sudah cukup. Dari situ Angga biasa menempatkan bok-bok berisi leopard gecko tersebut didalam kamarnya. Tujuannya agar setiap saat mudah diamati, khususnya bagi masa perjodohan dan proses bertelur.


Namun yang menjadi perbedaanya adalah alas kotak tersebut diberi bubuk kalsium. Bubuk kalsium tersebut bisa didapat dari toko-toko peralatan bangunan saja. Pemberian bubuk kalsium itu untuk meredam bau kotoran, juga aman jika termakan gecko. Sedangkan untuk makanan sendiri cukup mudah, yaitu serangga berupa jangkrit atau ulat kecil yang mudah didapat di toko pakan burung. Untuk pemberian makan sendiri tidak setiap hari. Bahkan, tanpa makan dan minum, seekor gecko bisa bertahan hingga dua bulan. Karena itu, gecko bisa menjadi pilihan bagus bagi orang yang merawat hewan peliharaan sesempatnya.


Sehingga dengan perawatan yang cukup mudah tersebut, gecko banyak digandrungi. Buktinya sebelum pandemi Covid-19 dulu dirinya bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah minimal Rp 10 juta per bulan. Namun kini berada dikisaran Rp 5 juta, maksimal Rp 8 juta. Untuk pelanggannya sendiri kebanyakan dari luar pulau seperti Kalimatan, Sumatra dan Sulawesi. "Jadi saat ini setiap bulannya saya bisa menjual sekitar 15 ekor setiap bulan, jika dulu lebih," ucap pria 25 tahun ini.(*)

Editor : Choirurrozaq