Mengukir kayu mungkin hal yang biasa dilakukan. Namun bagaimana jika mengukir dengan menggunakan media buah atau carving fruit? Triyono, salah satu chef berbakat yang menguasai teknik tersebut. Bahkan, hasil karyanya sering digunakan untuk menghiasi berbagai event besar.
ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Kauman, Radar Tulungagung
Di salah satu sudut kafe, seorang laki-laki berkaus hitam tampak sibuk memegang sebuah pisau dan melon segar di tangannya. Bukannya dibelah, melon yang sedari tadi dipegangnya justru diukir membentuk sebuah ukiran bunga mawar. Dalam sekejap, buah melon tersebut telah berubah bentuk menyerupai sebuah kuntum bunga mawar merekah. “Ini coba-coba untuk melatih skill carving,” jelasnya seraya meletakkan pisau yang sedari tadi digunakan untuk memahat.
Dia adalah Triyono, seorang chef di Arunika Coffee and Eats. Kemampuannya carving fruit atau seni mengukir pada buah segar memang tak diragukan. Ini juga seiring dengan hobinya menggambar sejak kecil. Kepada Koran ini, pria yang sering dijuluki Trek ini menceritakan pengalamannya dalam menekuni seni carving. “Dari kecil saya memang hobi sekali menggambar, tapi tidak pernah saya tekuni. Hanya sebatas hobi saja, baru tahu mengenai carving ya ketika masuk di bidang perhotelan,” jelasnya mengawali cerita.
Saat itu sekitar 2012 silam, ketika dia bekerja di salah satu hotel di Tulungagung, dia melihat salah seorang teman memiliki kemampuan carving. Dari situ dia pun tertarik untuk mencoba. Menurutnya, carving mirip dengan melukis ataupun menggambar. Hanya berbeda media dan alat yang digunakan. Untuk itu, selama tiga hari penuh dia pun belajar carving bersama dengan temannya. “Tiga hari tiga malam saya latihan terus, dari yang awalnya hanya melihat sampai praktik dan bisa membuat dengan bentuk yang sangat sederhana,” terangnya.
Mengetahui carving memiliki sisi menarik untuk digali dan dikembangkan, pria kelahiran 1982 ini pun mencari banyak referensi dan informasi terkait teknik carving. Dengan memanfaatkan media sosial YouTube, dia pun lantas belajar secara otodidak untuk mengembangkan teknik carving. “Dasarnya saya belajar dengan teman, kemudian saya kembangkan lagi secara otodidak. Karena carving ini masih banyak sekali yang bisa digali,” urainya.
Bapak dua anak ini mengaku meskipun terbilang mudah, carving memiliki tantangan sendiri baginya. Salah satunya ketika harus melakukan carving pada media yang kecil, seperti buah stroberi. Dia menjelaskan pada dasarnya semua buah maupun sayur dapat dibuat sebagai media carving. Namun buah dan sayur yang memiliki tekstur padat yang paling ideal untuk digunakan. Seperti semangka, melon, apel, pir, wortel, dan timun.
Kini, meskipun tidak lagi menjadi chef di sebuah hotel, kesibukannya mengelola sebuah kafe tetap memanfaatkan teknik carving. Selain itu, warga Desa Pucangan, Kecamatan Kauman ini mengungkapkan carving ibarat sebuah seni melukis. Sehingga membutuhkan latihan rutin setiap hari. “Kalau tidak dilatih bisa-bisa lupa. Untuk itu, sebisa mungkin makanan yang saya sajikan untuk pelanggan juga ada teknik carving-nya meskipun kecil. Bisa untuk garnish (hiasan) pada menu,” urainya.
Sementara disinggung rencana ke depan, Trek mengaku ingin mengeksplorasi lagi kemampuannya dalam teknik carving. Salah satunya dengan carving siluet wajah. Ini merupakan salah satu teknik yang cukup sulit dilakukan. Sebab, membuat gambar agar tampak lebih hidup dan menyerupai aslinya. Selain itu, dia pun bercita-cita untuk membagikan kemampuannya dalam carving fruit. Salah satunya dengan membuka pelatihan pada siswa di sekolah. Khususnya bagi siswa jurusan tata boga maupun perhotelan. “Ada rencana untuk melatih, itung-itung ini upaya saya dalam berbagi ilmu dengan sesama. Karena ini sesuatu yang bisa dikembangkan bersama,” tandasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq