Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Penambang Pasir Tradisional di Tengah Gempuran Tambang Mekanik

Choirurrozaq • Jumat, 26 Maret 2021 | 16:15 WIB
cerita-penambang-pasir-tradisional-di-tengah-gempuran-tambang-mekanik
cerita-penambang-pasir-tradisional-di-tengah-gempuran-tambang-mekanik

Di tengah gempuran tambang pasir mekanik, masih ada warga yang bertahan menjadi penambang tradisional. Meski risiko bahaya lebih besar dan dapat menjemput kapan saja, terpaksa dilakukan demi asap dapur mengepul.


 


SITI NURUL LAILIL MA'RIFAH, Ngantru, Radar Tulungagung


 


Tampak kepala Choirun timbul tenggelam di aliran Sungai Brantas, masuk Desa/Kecamatan Ngantru. Ini karena warga Desa Banjarsari, Kecamatan Ngantru tersebut tengah berusaha menyelami dasar sungai hanya untuk mengeruk pasir. Meski arus sungai saat itu cukup deras, tidak menyiutkan nyali pria berusia 36 tahun itu untuk menyelam. Bahkan, kulitnya seolah mati rasa terhadap dinginnya air sungai.


Ya, begitulah hari-hari Choirun, salah satu dari sedikit para pencari pasir tradisional yang masih tersisa di Kota Marmer ini. Mereka bertahan di tengah tambang mekanik yang semakin merajalela.


Roni, sapaan akrab Choirun ini menjalani aktivitasnya bersama dua rekannya, Yanto, 43 dan Munawir, 43. Dibantu galah panjang yang ditancapkan pada dasar Sungai Brantas, mereka mulai menambang. Galah tersebut multifungsi. Yaitu untuk menakar kedalaman air, penunjuk keberadaan pasir, serta alat bantu menyelam. Karena kedalaman yang ditambang cukup dalam yakni 6-8 meter. "Ketika menyelam, galah ini untuk pegangan. Kalau nggak, bisa terseret arus," katanya.


Profesi ini diakuinya sangat berbahaya. Bahkan, harus punya fisik yang kuat. Karena ketika berada di dasar, dia harus menahan nafas dan arus sungai sembari mengeruk pasir ke ember besi atau disebut tomblok. Apabila ember tersebut penuh, dia lebih dulu naik ke permukaan. Itu untuk mengatur napas, sebelum mengangkat pasir yang sudah dikumpulkan. Karena beban pasir yang ada di tomblok itu juga lumayan berat, sekitar 50 kilogram. "Banyak yang meninggalkan cara ini karena kurang ekonomis dan butuh fisik kuat," tuturnya.


Bapak dua anak ini mengatakan, pendapatan yang didapat juga tidak mesti. Karena selain faktor fisik penambang, hasil juga dipengaruhi cuaca serta derasnya arus sungai. Biasanya di musim penghujan, lokasi tambang sering kali banjir. Namun dalam kondisi normal, sehari bisa mengumpulkan satu rit atau setara volume satu bak truk. Sedangkan satu ritnya jelas Roni dihargai Rp 500 ribu. "Kalau di kami, kualitas pasir dianggap bagus," jelasnya.


Pria yang sudah menekuni profesi penambang sejak 2000 lalu ini mengaku tak banyak persiapan yang dilakukan untuk menyelam. Hanya saja, sebelum menyelam minum susu jahe agar tubuhnya tetap hangat. "Persiapannya ya banyak-banyak berdoa. Agar selamat," katanya.


Hal senada juga diungkapkan Yanto. Dia bertahan karena tidak punya pilihan pekerjaan lain. Meskipun diakuinya riskan. Namun dengan meningkatkan kewaspadaan dan membaca situasi di lokasi, diharapkan dapat menimalisasi kecelakaan. "Yang bikin waswas itu ketika air sungai tiba-tiba meluap. Selain membuat arus semakin deras, pasir yang sebelumnya terkumpul juga bisa sia-sia karena terbawa arus," jelasnya.


Menurut dia, cara menambang ini dulu banyak dilakukan warga sekitar. Karena tidak ekonomis, jadi ditinggalkan. Padahal, cara ini dianggap legal. Sebab, jumlah yang diambil sangat terkendali dan ramah untuk lingkungan. (*)

Editor : Choirurrozaq