Hampir setiap sudut wilayah Blitar Raya menyimpan memori cerita tentang Bung Karno. Tak heran jika Blitar juga dinamai dengan Bumi Bung Karno. Seperti di perkebunan kopi Karanganyar, Nglegok. Pernah digunakan menjadi tempat istirahat, salah satu ruangan dibuat khusus untuk mengenang presiden pertama republik ini.
AGUS MUHAIMIN, Radar Blitar, Nglegok
Suasana yang sejuk begitu terasa ketika Koran ini menginjakkan kaki di perkebunan kopi Karanganyar di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok. Sepanjang jalan, dari pintu masuk menuju area pabrik kopi peninggalan Belanda itu, ditumbuhi tanaman kopi. Dari gerbang pos jaga setidaknya pengunjung harus menapaki jalan menanjak untuk sampai di bangunan utama pabrik kopi ini.
Bangunan yang digarap di zaman kolonial ini masih berdiri dengan kukuh. Pengelola atau pemilik perkebunan kini juga tidak banyak melakukan perubahan. Jangankan karakteristik gedung, catnya pun dibuat sealami mungkin untuk mempertahankan nilai sejarah.
Kini perkebunan kopi tersebut tidak hanya menjadi tempat pengolahan hasil bumi. Namun, juga menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Kabupaten Blitar. Identitas perkebunan kopi tetap dipertahankan, produksi juga masih berjalan.
Tidak hanya produksi kopi, ada beberapa gedung yang kini disulap menjadi fasilitas kuliner dan kafe. Tentu hal ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama generasi milenial. Meski begitu, karakter sebagai wisata sejarah masih sangat terasa.
Tak hanya itu, beberapa tahun terakhir pihak pengelola terus berusaha memperkuat identitas wisata sejarah. Yakni dengan memperlihatkan kamar khusus Bung Karno. “Jadi sekitar tahun 1957, Bung Karno pernah beristirahat di perkebunan ini. Makanya kamar itu (pernah digunakan istirahat Bung Karno, Red) tidak disediakan untuk tamu, tapi untuk edukasi sejarah,” ujar Direktur Kebun Kopi Karanganyar, Wima Brahmantya.
Kamar ini berada di gedung loji, tepatnya di gedung utama yang ada di perkebunan. Seperti umumnya ruang tidur, kamar ini berukuran sekitar 4x4 meter. Meski pintunya terbuka, tedapat tali pembatas sebagai tanda agar pengunjung tidak masuk ruangan. Dengan kata lain, hanya bisa menikmatinya dari luar kamar.
Pandangan pertama pengunjung yang melihat ruangan ini pasti tertuju pada lukisan presiden pertama yang menghadap pintu kamar. Tepat di bawahnya terdapat dipan berukuran sekitar 2x2 meter dengan sprei berwarna merah dan putih.
Sejumlah perabot lawas melengkapi ruangan tersebut. Begitu juga dua buah lampu meja di samping kanan kiri tempat tidur yang selalu menyala meski siang hari. Konon jarang yang berani bermalam di kamar tersebut. "Sejuah ini hanya saya yang berani tidur kamar ini. Sebenarnya pernah nawarin beberapa orang untuk nginep. Cuma gak ada yang berani," tutur Wima.
Hal ini cukup wajar. Sebab, suasana kamar memang sedikit unik. Apalagi berbagai furniture, mulai dari foto dan sejumlah barang yang ada di kamar ini merupakan barang-barang dari kamar nomor 806 Hotel Indonesia (HI) yang menjadi kamar khusus Bung Karno. Perpaduan barang antik serta penataan yang pas memicu kesan klasik yang cukup kuat. Terlebih aroma bunga segar yang memang setiap hari diganti oleh petugas di lokasi ini. “Jadi pada 2004 silam itu ada lelang barang-barang Hotel Indonesia, saat itu yang ikut lelang om saya,” ceritanya.
Bagi Wima, keberadaan kamar Bung Karno ini tidak hanya sebagai pelengkap wisata sejarah perkebunan Karanganyar. Selain fakta Bung Karno pernah beristirahat di kamar tersebut, sejatinya dia ingin lebih membumikan lagi Bung Karno kepada masyarakat luas. Terutama pengunjung yang kebetulan datang ke perkebunan tersebut. “Jadi spirit Bung Karno itu memang harus terus dimunculkan agar generasi tidak lupa dengan sejarah dan perjuangan para pendahulu,” bebernya. (*)
Editor : Choirurrozaq