Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Elis Zulva Mastuti, Ibu Rumah Tangga yang Tekuni Kerajinan Kimekomi

Choirurrozaq • Kamis, 1 April 2021 | 22:28 WIB
elis-zulva-mastuti-ibu-rumah-tangga-yang-tekuni-kerajinan-kimekomi
elis-zulva-mastuti-ibu-rumah-tangga-yang-tekuni-kerajinan-kimekomi

Kain sisa baju atau perca memang menjadi limbah baru yang tidak dapat diuraikan. Di tangan Elis Zulva Mastuti, justru kain-kain sisa itu diubah menjadi kerajinan kimekomi untuk hiasan dinding. Selain mengurangi limbah, juga dapat mempermanis hunian.


 


ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Sumbergempol, Radar Tulungagung


 


Udara sejuk dan pepohonan yang rindang menyambut kedatangan Koran ini ketika bertandang ke kediaman Elis Zulva Mastuti di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbergempol. Di rumah dengan arsitektur joglo khas Jawa ini terdapat sebuah ruang khusus di bagian tengah yang difungsikan sebagai galeri. Di ruangan tersebut, berbagai tumpukan kain perca dengan aneka motif dan warna tampak berserakan di sebuah meja panjang.


Rupanya kain-kain perca sisa menjahit baju ini akan dimanfaatkan oleh Elis untuk membuat kerajinan kimekomi. Yakni teknik menyelipkan kain pada sebuah pola atau gambar pada media tertentu. Seni yang berasal dari Jepang ini cocok digunakan untuk mempermanis hunian karena dapat digunakan untuk hiasan dinding. “Monggo masuk, ini sedang menyelesaikan kimekomi yang kemarin sudah dibuat pola,” sapanya ramah seraya mempersilakan Koran ini melihat kegiatannya.


Wanita 47 tahun ini mengaku, baru sekitar satu hingga dua tahun terakhir menekuni kerajinan yang berasal dari negeri Sakura ini. Ide tersebut bermula karena pekerjaan sebagai penjahit dan produsen kain shibori serta ecoprint menghasilkan banyak kain perca. Potongan-potongan kain tak terpakai ini hanya menumpuk di sudut galeri miliknya. Dari situ, dirinya pun lantas berpikir untuk memanfaatkan kembali kain-kain tersebut untuk barang yang lebih berguna. “Mulanya kain perca ini saya buat masker kain karena masa pandemi begini masker jadi kebutuhan. Ternyata masih ada juga sisa kainnya, akhirnya berpikir membuat kimekomi ini,” jelasnya.


Elis mengatakan, memilih kimekomi bukan tanpa alasan. Ini karena kerajinan ini hanya memanfaatkan bagin terkecil dari kain. Sehingga tidak ada lagi kain perca yang terbuang sia-sia. Ini berkaitan juga dengan tren suitable fashion atau pemanfaatan kain untuk menunjang kebutuhan fashion dari bagian terbesar kain hingga bagian terkecil. “Konsepnya adalah bagaimana sebuah produk fashion itu dapat minim limbah. Karena seperti kita tahu kain tidak dapat diuraikan,” terangnya.


Disinggung mengenai bahan dan cara pembuatan, wanita berkacamata ini mengatakan, untuk membuat sebuah kerajinan kimekomi cukuplah sederhana. Yakni hanya memerlukan polifoam, karton sebagai alas, pen cutter, gunting, busa, lem, pola gambar, kain perca, dan tali ataupun hiasan lain untuk pemanis. Caranya, gunakan pen cutter untuk memberi efek cekung pada setiap garis pola gambar. Jika sudah, siapkan kain yang akan digunakan dan potong sesuai ukuran pola. Selipkan kain menggunakan pen cutter pada setiap pola hingga tertutup rapat. “Kalau sudah, ya tinggal diselipkan begini sampai semua pola tertutup. Jika sudah, tinggal dihias sesuai selera,” urainya seraya mempraktikkan bagaimana cara membuat kimekomi.


Meskipun terbilang sederhana, karena memanfaatkan potongan terkecil kain justru memberi tantangan tersendiri. Ini karena lebih detail dan harus pandai dalam mempadu-padankan warna. Sebab, meskipun menggunakan kain perca, tetap bagaimana cara agar pola yang telah dibuat dapat terlihat lebih hidup atau minimal menyerupai asli.


Sementara untuk pemasaran, Elis memanfaatkan media sosial (medsos) agar jangkauan pasar lebih luas. Tak heran pelanggannya rata-rata berasal dari luar kota. Seperti Semarang, Malang, Magelang, hingga Jakarta. Disinggung mengenai rencana ke depan, dia pun bercita-cita akan menggelar lebih banyak workshop maupun pelatihan dengan basis suitable fashion. Ini sebagai upayanya untuk mengurangi limbah kain di masa mendatang. “Saya harap upaya kecil ini bisa membantu mengurangi limbah kain. Untuk itu, ingin sekali menggelar lebih banyak pelatihan,” tandasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq