Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mengenal Irfan Nur Fajar Nazarudin, Pehobi Motor Klasik

Choirurrozaq • Sabtu, 3 April 2021 | 16:30 WIB
mengenal-irfan-nur-fajar-nazarudin-pehobi-motor-klasik
mengenal-irfan-nur-fajar-nazarudin-pehobi-motor-klasik

Dari hobi, ternyata malah bisa menjadi ladang pundi-pundi dirasakan oleh Irfan Nur Fajar Nazarudin. Dari kesenangan mengoleksi beberapa motor jadul, kini warga Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, itu sudah memiliki puluhan sepeda motor koleksi.


 


MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH, Sananwetan, Radar Blitar


 


Sejumlah sepeda motor lawas berjejer rapi di gudang belakang rumahnya. Kondisinya tampak kurang terawat. Debu menempel di mana-mana, bahkan ada yang sudah berkarat.


Sebagian sepeda motor itu onderdilnya juga ada yang sudah tidak utuh. Motor-motor lawas itu keluaran tajun 1990-an dan tahun-tahun sebelumnya. Semua pabrikan Jepang. Di antaranya ada Suzuki RC, Suzuki Bravo, Yamaha V 75, Yamaha Alfa, hingga Honda C 70 dan masih banyak lagi.


Namun, jangan sangka mesin sepeda motor itu sudah tidak tak berfungsi lagi. "Semua mesinnya masih baik. Masih bisa hidup kok," ujar Irfan Nur Fajar Nazarudin saat ditemui Koran ini di rumahnya beberapa waktu lalu.


Sejumlah sepeda motor lawas itu adalah koleksinya. Irfan adalah empunya sepeda motor yang telah dikumpulkan sejak 2016 silam itu. Sedikitnya kini ada 40 unit motor yang dikoleksinya.


Puluhan sepeda motor itu diklaim masih bisa menyala. Pemuda 26 tahun itu awal mengoleksi sejumlah motor klasik itu berangkat dari sekadar hobi. "Dulu saya itu hobi Vespa sudah sejak 2012. Kemudian, tahun 2016 saya mencoba beralih ke motor klasik jenis lain, ya seperti ini," terangnya.


Dari sekadar hobi hingga mengoleksi beberapa unit, Irfan pun memutuskan untuk mencoba hal baru. Yakni merambah ke dunia bisnis jual beli sepeda motor klasik. Semua itu diawali pada 2016. Dia menjual koleksinya secara bertahap. Satu demi satu unit berhasil laku. Usahanya itu mendapat respons positif.


Hingga akhirnya, koleksi unit sepeda motor lawas itu kian bertambah. Semua dibeli dari hasil penjualan unit sebelumnya. "Kebanyakan ini saya dapat dari luar daerah secara online. Kalau ada barang (motor lawas, Red) yang cocok, langsung saya beli," ujar pria lulusan SMK jurusan otomotif ini.


Untuk membeli motor lawas juga tidak sembarangan. Ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan. "Minimal mesin motor masih hidup atau menyala. Yang paling penting lagi surat-suratnya lengkap meski sudah mati," tuturnya.


Selain itu, jelas Irfan, harga unit juga sangat menentukan. Menurut dia, harga yang ditawarkan harus masih dalam batas kewajaran. "Kalau harga tinggi, tapi surat sudah tidak lengkap saya pikir-pikir lagi. Soalnya itu yang penting," ujarnya.


Tak ketinggalan, kondisi sepeda motor masih utuh atau origsinal. "Kalaupun ada beberapa spare part yang sudah rusak atau hilang tidak masalah. Toh, nanti kan saya restorasi lagi," terangnya.


Irfan memang tidak sekadar menjual motor-motor lawas itu begitu saja. Namun, dia akan merestorasi unitnya terlebih dahulu sebelum dijual. "Saya restorasi sendiri. Rata-rata pelanggan meminta direstorasi mirip dengan orisinalnya," ungkap pemuda yang sudah memiliki bengkel restorasi itu.


Selama ini, unit motor lawas itu diperoleh dari luar daerah. Di antaranya Malang, Surabaya, dan Kediri. Dia berburu motor lawas itu di media sosial. "Rata-rata saya dapat dari perorangan. Kalau dapat dari sesama komunitas itu biasanya harganya bersaing," akunya.


Karena dipasarkan secara online, konsumen Irfan datang dari berbagai daerah. Selain dari luar daerah, ada juga dari luar Jawa. Untuk mengirimnya, Irfan memanfaatkan jasa ekspedisi maupun kargo.


Untuk harga per unit motor hasil restorasi cukup bervariasi. Mulai dari harga Rp 2 jutaan hingga Rp 7 jutaan. Tergantung kondisi dan jenis unitnya. "Honda C 70 misalnya, itu harganya mencapai Rp 7 jutaan," sebutnya.


Meski kini fokus berbisnis jual beli sepeda motor klasik, kecintaannya terhadap Vespa tidak luntur. Buktinya, sejumlah koleksi Vespa berbagai jenis masih tersimpan rapi di rumahnya. “Masih ada tujuh unit untuk Vespa,” bebernya.


Dia tidak berniat untuk menjualnya. Dia mengaku, masih belum rela melepas koleksi Vespanya yang ada kini. "Sayang kalau dijual. Masih belum ada keinginan," ujarnya lantas tersenyum. (*)

Editor : Choirurrozaq