Bekas gudang yang berada di Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru, disulap menjadi galeri pameran puluhan lukisan dari tangan kreatif seniman Tulungagung yang tergabung dalam Kolektif Gulung Tukar. Kali ini mereka menampilkan pameran seni Multidisiplin Layar Berkembang, Kemudi Diputar. Tujuannya memperkuat ekosistem dan membangkitkan kembali seniman di Tulungagung yang terdampak Covid-19.
MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Kedungwaru, Radar Tulungagung.
Puluhan lukisan dengan model unik dan kreatif memenuhi ruang bekas gudang itu. Beberapa lukisan juga menginterpretasikan isu-isu yang kini berkembang. Seperti isu perempuan, lingkungan, dan sebagainya. Karena pandemi Covid-19, pameran tersebut diselenggarakan secara terbatas.
Salah satu guide pameran seni multidisiplin layar kembang, kemudi diputar, Diah Rizki mengatakan, pameran ini menampilkan 25 lukisan yang merupakan karya seniman dari Tulungagung dan luar kota. Dengan harapan, bisa merespons Tulungagung menjadi sebuah ruang spasial dan sosial melalui seni. “Kami mengangkat tema sadar atau conscious,” tuturnya.
Perempuan berkerudung itu mengungkapkan, selama 2020 lalu, banyak seniman yang terdampak akibat pandemi Covid-19, membuat semua hal serba terbatas. Maka dari itu, pihaknya tergerak untuk membangkitkan seniman Tulungagung dari pandemi Covid-19 pada 2021. “Kami berupaya melalui pameran ini bisa membangkitkan kembali seniman, khususnya di Tulungagung,” ungkapnya.
Selain itu, perempuan asal Desa Kepuh, Kecamatan Boyolangu itu menjelaskan, tidak hanya sekedar menampilkan karya lukisan semata, karya lukis tersebut juga mengangkat berbagai isu yang terjadi di masyarakat. “Ini juga mengangkat isu perempuan, lingkungan, budaya, serta sosial yang direspons melalui sebuah karya lukisan,” jelas perempuan yang tergabung dalam Kolektif Gulung Tukar itu.
Dengan adanya hal semacam ini, juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat. Sebab, masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa seni itu hanya bisa diakes oleh segelintir orang saja. Maka dari itu, pihaknya membuat kegiatan guna membuka ruang bagi masyarakat untuk menambah wawasan tentang adanya budaya dan kesinan di eks-Karesidenan Kediri, khususnya Tulungagung. “Acara ini kami gelar hingga 11 April 2021 mendatang,” pungkasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq