Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Meski Sebagai Petani, Bolo Ingin Terus Lestarikan Karawitan

Choirurrozaq • Senin, 5 April 2021 | 17:22 WIB
meski-sebagai-petani-bolo-ingin-terus-lestarikan-karawitan
meski-sebagai-petani-bolo-ingin-terus-lestarikan-karawitan

Kecintaan Bolo pada musik gamelan sudah tidak diragukan lagi. Pasalnya, sudah lebih dari 20 tahun dia dengan gigih memperkenalkan gamelan pada generasi muda. Selain manggung, dia juga berkeliling melakukan pelatihan gamelan.


 


ZAKI JAZAI, Kota, Radar Trenggalek


 


Seperangkat alat musik gamelan terdiri dari satu set alat musik serupa drum yang disebut kendang, bonang, kenong, saron, peking, rebab dan celempung, gambang, kempul , serta seruling bambu, terlihat di salah satu ruangan rumah di Desa Dawuhan, Kecamatan Trenggalek. Ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini berkunjung kemarin (4/3) terlihat dua orang pria sedang memainkan musik gamelan tersebut. Terlihat keduanya begitu nyambung dalam memadukan irama alat musik yang dimainkan.


Ternyata saat itu mereka sedang mengisi waktu luang karena mayoritas anggota lain yang akan berlatih gamelan tidak jadi datang karena ada suatu kepentingan. Daripada waktu terbuang sia-sia, mereka memilih sharing tentang cara bermain gamelan. "Daripada tidur sore-sore, tidak ada salahnya berlatih gamelan karena peralatannya sudah ada," ungkap Bolo, pelatih gamelan kepada Koran ini.


Itu dilakukan karena jarang ada generasi muda yang mau berlatih cara bermain gamelan. Namun yang lebih mencengangkan, generasi muda dari luar negeri malah semangat untuk mempelajarinya. Sehingga jika ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin generasi akan datang tidak memiliki keterampilan untuk bermain gamelan. Sehingga harus pergi ke luar negeri untuk mempelajarinya. "Dengan kondisi seperti ini, bukan tidak mungkin tradisi lokal akan subur di luar negeri dan masyarakat pemilik tradisi harus pergi untuk mempelajari tradisinya sendiri," katanya.


Sehingga saat ini jika ada yang ingin berlatih, di sela pekerjaannya sebagai petani, dirinya selalu meluangkan waktu untuk melatih. Bahkan, dirinya tidak mengharapkan imbalan untuk melatih. Itu dilakukan karena melatih gamelan bukan tujuan untuk komersial, melainkan rasa kecintaannya terhadap musik gamelan dan ingin musik warisan nenek moyang tersebut ingin tetap lestari. Bahkan selain musik gamelan, dirinya juga aktif melatih seni tari jaranan. Untuk itu, guna menarik simpatisan anak muda, dirinya selalu memperbarui lagu-lagu gamelan. Selain itu, juga mengombinasikan anggota paguyuban antara orang tua dan anak-anak. Bahkan juga di beberapa kesempatan juga melatih para ibu rumah tangga (IRT). Tujuannya biar semangat berlatih tetap terjaga. "Setidaknya dibutuhkan 10 orang untuk berlatih gamelan agar tiap jenis alat ada yang pegang. Makanya dengan begitu saya kerap melakukan kombinasi antara pemain tua dan muda," imbuh pria 59 tahun ini.


Itu dilakukan karena dirinya ingin melakukan regenerasi para pemain gamelan yang sudah berumur. Sebab, yang terpenting dalam bermain gamelan ini adalah menyelaraskan nada. Untuk itu, perlu beberapa kali latihan. Namun setiap kali sudah terbentuk, latihan harus dimulai dari awal karena ada beberapa anggota yang meninggal sehingga tempatnya diganti anggota lain. Dengan menyisipkan beberapa anggota yang masih berusia muda, jika ada pergantian anggota lain, dia bisa ikut membantu memberi bimbingan berlatih. "Sudah banyak paguyuban dari luar yang saya bina. Makanya kini pembinaan difokuskan pada para generasi muda, khususnya dari daerah dekat agar musik gamelan tetap lestari dan tak kalah dengan orang di luar sana," jelasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq