Persiapan untuk menyambut bulan suci Ramadan mulai dilakukan. Salah satunya dengan mengirimkan parsel atau hampers Ramadan. Peluang inilah yang ditangkap oleh Indrawati, salah seorang perajin anyaman bambu. Dengan kreativitas dia membuat wadah hampers Ramadan.
ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Gondang, Radar Tulungagung
Berbagai keranjang dari anyaman bambu tampak menutupi sebagian lantai teras kediaman Indrawati yang beralamat di Dusun Mbareng, Desa Dukuh, Kecamatan Gondang. Di sudut teras, seorang wanita dengan rambut dikuncir ekor kuda tampak sibuk dengan keranjang-keranjang yang ada di depannya. Melihat kedatangan Koran ini, dengan sigap dia pun membereskan beberapa keranjang anyaman yang menutupi sebagian lantai teras rumahnya. “Mangga-mangga. Maaf, kalau sudah menyelesaikan orderan teras pasti berantakan begini,” sambutnya seraya merapikan beberapa keranjang anyaman.
Wanita yang akrab disapa Iin ini merupakan seorang perajin aneka anyaman bambu. Mulai dari tas belanja, wadah minum, hingga terbaru keranjang untuk wadah parsel atau hampers Lebaran. Dia mengaku, seni anyaman bukan hal baru lagi. Sebab sedari kecil, lingkungan sekitar tempat tinggalnya merupakan salah satu sentra kerajinan anyaman di Tulungagung. “Saat saya muda dulu banyak warga sini yang membuat besek (wadah nasi dari anyaman), termasuk ibu saya. Namanya tinggal di desa, ya mau tidak mau saya pasti akan diminta untuk membantu membuat besek ini,” jelasnya mengawali cerita.
Dari keterampilan masa mudanya inilah, ibu dua anak ini memberanikan diri untuk mengembangkan bisnis anyaman bambu. Saat itu dia hanya terpikir untuk melanjutkan usaha orang tua membuat besek cantik untuk hantaran pernikahan. Namun karena pesanan untuk membuat besek sudah mulai menurun, dia pun memutuskan mencari berbagai referensi. Sebab, pada dasarnya anyaman bambu dapat digunakan untuk berbagai jenis kerajinan unik.
Sekitar awal 2018, dia pun mencoba membuat keranjang belanja berbahan anyaman bambu. Tak disangka, inovasinya mendapat apresiasi positif dari para pelanggan. Terlebih karena keranjang belanja produksinya tergolong kuat. Bahkan, dapat diisi aneka bahan pangan seperti minyak goreng kemasan, gula kiloan, hingga beras. “Banyak yang menggunakan keranjang ini untuk wadah zakat atau bahan belanjaan ke pasar. Dari situ saya tertarik untuk mengembangkan lagi membuat berbagai kerajinan berbahan bambu,” terangnya.
Terbaru, wanita kelahiran 1983 ini membuat tas belanja yang dapat digunakan sebagai wadah parsel atau hampers. Terlebih mendekati momen bulan suci Ramadan semacam ini, dia pun mulai banjir orderan. Bahkan, dia mengaku sempat kewalahan sehingga harus membatasi orderan. Ini karena proses produksi hanya dikerjakan sendiri di rumah. Sehingga dia harus membagi waktu antara menjadi ibu rumah tangga dan perajin anyaman. “Kalau keranjang anyaman untuk parsel sudah biasa, ini saya coba membuat yang bentuknya mirip tas belanja. Jadi lebih unik dan bisa digunakan untuk belanja di pasar,” urainya sembari memamerkan produk yang dimaksud.
Tak hanya membuat tas belanja untuk wadah parsel, dia pun membuat wadah anyaman berbentuk tabung untuk botol sirup maupun minuman kemasan lainnya. Selain lebih unik, juga menjaga agar botol-botol dari kaca ini tidak mudah pecah ketika sedang dikemas. Kini, dia sedang mencoba membuat wadah untuk toples dalam ukuran kecil. Sehingga cocok untuk wadah kue ataupun permen di ruang tamu. “Apalagi ketika Lebaran, tradisi orang-orang itu selalu menyajikan aneka jajanan. Saya mencoba menjemput peluang itu,” tuturnya.
Disinggung mengenai kesulitan, Iin mengaku bahan baku menjadi salah satu kendala untuk proses produksi. Ini lantaran jenis bambu apus mulai jarang ditemui di daerah perkotaan. Sehingga dia harus mendatangkan dari luar kota untuk mendapatkan bambu. Dia mengatakan, meskipun pada dasarnya hampir semua bambu dapat dimanfaatkan untuk bahan membuat anyaman, jenis bambu apus adalah yang paling ideal. Selain bertekstur lentur, jenis ini juga tergolong kuat dan tidak mudah berjamur ataupun berubah warna. Sehingga tergolong lebih awet.
Tak hanya itu, karena dikerjakan secara manual dengan tangan, untuk jumlah produksi per hari terbilang terbatas. Terlebih jika yang dibuat merupakan anyaman berukuran kecil. Sebab, diperlukan ketelitian tinggi. “Kadang tangan sampai ngapal, kebeler, atau tertusuk kena serpihan bambu sudah biasa,” imbuhnya seraya tertawa.
Untuk pemasaran, ibu dua anak ini hanya memanfaatkan media sosial WhatsApp untuk promosi. Namun, produksi anyaman miliknya telah melanglang buana hingga luar daerah. Seperti Surabaya, Kediri, Blitar, dan Trenggalek. Ke depan, dia ingin terus mengembangkan kerajinan berbahan dasar bambu tersebut. (*)
Editor : Choirurrozaq