Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bayu Aji Mariska, Pegawai Dishub yang Gemar Koleksi Hot Wheels

Choirurrozaq • Sabtu, 10 April 2021 | 17:05 WIB
bayu-aji-mariska-pegawai-dishub-yang-gemar-koleksi-hot-wheels
bayu-aji-mariska-pegawai-dishub-yang-gemar-koleksi-hot-wheels

Sejak kecil, Bayu Aji Mariska demen dengan hot wheels. Untuk mendapatkan koleksi terbaru, warga Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo ini rela menambah budget pengeluaraan untuk impor. Bahkan, dulu sempat bisnis sampingan berdagang mainan ini hingga bisa membeli rumah.


 


AGUS MUHAIMIN, Radar Blitar, Sukorejo


 


Ruangan itu tidak begitu luas, hanya berukuran sekitar 3x4 meter. Namun ada yang berbeda. Tak ada dipan maupun lemari pakaian layaknya sebuah ruang keluarga. Sebaliknya, ada ribuan hot wheels dari berbagai seri dipajang di dinding. Usut punya usut, kamar ini memang disediakan khusus memajang mainan jenis diecast tersebut. “Ini bagian perawatan. Kalau penyimpanannya kurang baik, bisa cepat usang,” ujar Bayu Aji Mariska,  aparatur sipil negara (ASN) yang juga pemilik ribuan mobil mini ini.


Bayu sempat gandrung dengan mobil mainan berskala 1/64 ini. Tak hanya sering hunting untuk menambah koleksi, dia juga harus menjelajah toko atau penyedia produk dari luar negeri untuk mendapatkan mainan tersebut. Meskipun, hanya sebatas dari internet. Alasannya sederhana, dia ingin mendapatkan barang yang masih jarang dikoleksi.


Belanja jutaan rupiah sudah menjadi hal lumrah. Terlebih pada 2012 hingga 2015, dia bukan hanya sekadar menjadi penghobi hot wheels, melainkan juga memanfaatkannya sebagai komoditas bisnis.


Risiko mengeluarkan uang lebih banyak tidak menjadi persoalan. Sebab, Bayu sangat yakin hal itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan harga jual atau keuntungan setelah mendapatkan barang tersebut. “Harganya pasti beberapa kali lipat jika mainan impor ini dijual. Tapi itu dulu, sekarang kondisinya sudah beda, banyak pemain,” tuturnya.


Bayu mengenang, saat dia masih menekuni bisnis mainan ini, sering kali impor langsung dari Negeri Paman Sam. Jika dihitung, harganya tidak jauh beda dengan pasaran yang ada di Indonesia. Yang membuat harga jual dalam negeri ini lebih mahal adalah biaya pengiriman.


Dia menganalogikan, satu unit hot wheels seharga Rp 30 ribu bisa menjadi Rp 90 ribu. Karena biaya pengiriman hot wheels dari luar negeri biasanya dua kali lipat dari nilai barang tersebut. Namun karena faktor kelangkaan, nilai jual di dalam negeri bisa mencapai 3 kali lipat dari biaya yang dikeluarkan untuk impor barang tersebut. Dengan begitu, dia tidak pernah rugi. “Sistem penjualannya pakai lelang. Karena barang belum ada, otomatis harganya bagus,” akunya.


Sebenarnya,seri-seri terbaru ini juga bakal beredar di dalam negeri. Bayu memanfaatkan karakter penghobi yang tidak sabaran untuk mendapatkan keuntungan dalam bisnis mainan tersebut. Dalam sebulan, omzet penjualannya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Bahkan beberapa tahun kemudian dia bisa membeli aset bangunan.  “Itu bener, sebulan omzet saya bisa sampai Rp 30 juta lho,” bebernya pria ramah ini.


Hal itu tidak mustahil, karena Bayu memiliki pangsa pasar yang khusus. Dia tidak menjual mainanan tersebut untuk anak-anak, tapi kepada kolektor atau penghobi hot wheels. Dia tidak membuka toko, tapi memanfaatkan sarana media sosial untuk melelang barang.


Sayangnya, bisnis bagus ini tidak bertahan lama. Sekitar tahun 2015, pemerintah mengeluarkan kebijakan khusus terkait standar produk. Aktivitas impor mainan ini pun tidak lagi menjanjikan seperti sebelumnya.


Saat itu juga Bayu beralih profesi. Pegawai Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Blitar ini tidak lagi menjual hot wheels. Sebaliknya, dia berburu koleksi-koleksi baru. Selain karena demen dengan mainan tersebut, menurut dia, hot wheels bisa menjadi barang antik beberapa tahun mendatang. “Mungkin saja kan, semakin lama semakin mahal harganya. Karena kan semakin langka dan terbatas jumlahnya,” jelasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq