Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Muhammad Nur Arifin Ubah Pipa Paralon Jadi Lampu Hias

Choirurrozaq • Jumat, 16 April 2021 | 16:15 WIB
muhammad-nur-arifin-ubah-pipa-paralon-jadi-lampu-hias
muhammad-nur-arifin-ubah-pipa-paralon-jadi-lampu-hias

Pipa paralon identik sebagai pembuatan saluran air. Namun ditangan kreatif Muhammad Nur Arifin, 41, pipa berbahan dasar polyvinyl chloride (PVC) itu dapat disulap menjadi lampu hias. Bahkan keberadaannya menjadikan ruangan semakin dekoratif.


SITI NURUL LAILIL MA'RIFAH, Kota, Radar Tulungagung


Sejumlah potongan pipa paralon tampak berserakan di ruang tamu rumah milik Arifin-sapaan akrab-Muhammad Nur Arifin yang beralamat di kawasan perumahan Mutiara Alam Regency, masuk Kelurahan Kutoanyar, Kecamatan Tulungagung. Potongan pipa tersebut kemudian Arifin gambar dengan motif batik. Tujuannya agar motif proposional dan rapi. "Kebanyakan di mal dulu. Karena kebanyakan motif yang dibuat di sesuai custom klien," kata Arifin membuka obrolan dengan koran ini.


Bapak satu anak itu kemudian mengambil alat bor kecil sebagai pemahat. Tangannya tampak cekatan, bahkan terlihat tak ada keraguan saat mengebor paralon tersebut. Kemudian, satu persatu bagian paralon pun terlepas hingga terlihat corak yang cantik. "Ini tahapan yang paling lama lama. Memang saat membuatnya butuh ketelatenan," ucapnya.


Sehari, Arifin bisa menyelesaikan tiga hingga empat buah lampu hias dari pipa paralon. Dengan catatan, semua bahan tersedia semua. Mulai dari lampu, kabel hingga dudukan lampu hias tersebut.  "Namun untuk kini produksi tidak banyak. Karena saya harus menyelesaikan pekerjaan utama saya, yakni menjahit," terangnya.


Arifin mengaku baru menggelutinya sejak pertengahan 2020 lalu. Tepatnya setelah ia pulang merantau dari Bali. Ketika itu, ia melihat pemanfaatan paralon bekas dari media sosial (medsos). Dia melihat prospek usaha kreatif tersebut menjanjikan. Sehingga, dia mencoba mempelajarinya secara otodidak.  "Hasilnya tidak mengecewakan. Lantas saya buat dengan jumlah banyak sebagai display dan alhamdulillah laku," katanya.


Selama pembuatan, dia tak mengalami kesulitan yang berarti. Karena memang saat membuat lampu hias paralon ini tidak membutuhkan keahlian khusus. Namun jiwa seni harus dimiliki agar gambar atau desain lampu tampak proporsional komposisinya. "Harganya Rp 50-80 ribu per lampu. Itu tergantung ukuran dan kerumitan desain," tuturnya.


Soal pemasarannya Arifin dibantu istrinya, Arina Fitriani, 40 melalui media sosial (medsos). Menurut dia, pemasaran tersebut memiliki jangkauan lebih luas. Namun dirinya juga tetap mengandalkan pemasaran konvensional seperti getuk tular dari keluarga, teman bahkan tetangganya. Karena pasar lampu hias dari paralon ini belum terbuka luas sebab belum populer.


"Sebenarnya juga ingin ikut pameran agar produk saya ini bisa dikenal. Tapi kegiatan mengundang banyak massa seperti itukan masih dilarang karena Covid-19 di Kabupaten Tulungagung. Jadi sabar dulu," katanya.


Meski banyak yang menekuni usaha kreatif ini, Arifin mengaku, tidak takut bersaing. Kata dia, selama ini berupaya menjaga kualitas produknya dengan pengerjaan yang rapi. Sehingga nantinya lampu tersebut bukan berfungsi sebagai lampu tidur saja, namun juga dapat menunjang dekorasi rumah.  "Dikit-sedikit bisa tambah ekonomi. Terlebih karena pandemi ini, dampaknya cukup luar biasa. Hingga kami harus memutuskan pulang merantau," tandasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq