Tidak ada yang tidak mungkin jika seseorang sudah memiliki tekad yang kuat. Seperti Fajar Calvino Samsu Dhuha, pemuda tunanetra asal Kelurahan Kauman, Kecamatan Tulungagung. Di balik kekurangannya, dia bisa menguasai dua alat musik sekaligus dalam waktu singkat.
MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Kota, Radar Tulungagung
Sore itu matahari mulai terselimuti oleh awan. Tidak jauh dari Alun-alun Tulungagung, terlihat sebuah rumah yang berwarna kuning berada di selatan jalan. Di dalam rumah tersebut terlihat seorang pemuda yang sangat murah senyum. Benar, dia adalah Fajar Calvino Samsu Dhuha, seorang seniman musik yang memiliki hambatan penglihatannya.
Calvin, sapaan akrabnya menceritakan bagaimana awal mula dia menggeluti dunia musik. Kecintaannya terhadap musik mulai muncul pada 2008 silam. Pada saat itulah, untuk kali pertama dia mulai belajar bermain keyboard. Meski awalnya sempat merasa kesulitan karena hambatan yang dia miliki, bukan menjadi alasan untuk putus asa. Betul saja, hanya butuh dua bulan saja, dia bisa menguasasi chord dalam keyboard. “Dulu lagu pertama yang bisa saya bawakan adalah lagu anak-anak,” ujarnya
Pemuda 22 tahun itu menjelaskan, tidak hanya keyboard saja, tapi dia juga mahir bernyanyi dan memainkan drum. Meskipun jika dibandingkan dengan bermain keyboard, drum itu lebih sulit baginya. “Karena kalau main drum itu saya kesulitan menghafal letak alat-alatnya,” jelasnya.
Selama hampir 13 tahun menggeluti dunia musik, berbagai panggung sudah pernah dia jajaki. Bahkan tak jarang, dia mendapatkan panggilan untuk bermain dalam sebuah acara pernikahan. Meskipun ketika di beberapa momen dia harus mempelajari lagu-lagu baru yang akan dia bawakan. Untuk menguasai satu lagu, biasanya dia hanya membutuhkan dua hari. “Selama ini paling jauh saya pernah manggung di Kediri. Dan berbagai perlombaan juga sering saya ikuti,” terangnya.
Pemuda dua bersaudara itu mengungkapkan, adanya pandemi Covid-19 membuat jadwal manggung terpaksa banyak ditunda. Tapi kini, panggilan untuk manggung mulai berdatangan kembali. “Awal pandemi Covid-19, jadwal manggung sangat sepi. Akhirnya saya hanya bermain musik untuk mempertajam skill,” ungkap pemuda yang suka dengan instrumen klasik itu.
Tak hanya itu, pemuda lulusan SLB PGRI Kedungwaru 2019 itu juga sering kali mengunggah permainan musiknya ke kanal YouTube miliknya. Tujuannya, untuk mengabadikan setiap momennya ketika bermain musik, di mana dan kapan pun dia bermain musik. “Alasan saya mengunggah di YouTube itu karena ingin berbagi dengan dunia tentang musik yang saya mainkan,” terangnya.
Calvin bercita-cita bisa melanjutkan pendidikan lebih tinggi untuk bisa menyelami lebih dalam dunia seni musik melalui jalur beasiswa. Dan dia berharap bisa mendapatkan apresiasi dari karya musik yang dia mainkan. “Mungkin kini dari Pemkab Tulungagung belum ada pendampingan kepada saya untuk mengembangkan musik. Sedangkan dari keluarga memang ingin mendorong saya untuk mengembangkan bakat musik yang saya miliki. Doakan agar bisa meraih cita-cita saya,” pungkasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq