Dorongan hati nurani menjadi motivasi utama bagi Titim Fatmawati memperjuangkan hak kaum perempuan. Dia tak hanya mendirikan komunitas yang fokus pada perempuan dan anak. Sekolah perempuan sebagai sarana edukasi juga digagasnya untuk membantu para perempuan yang juga penyintas dan korban kekerasan agar kembali tersenyum.
FIMA PURWANTI, Sukorejo, Radar Blitar
Salah seorang perempuan tampak bersantai dengan mambaca buku di area ruang tamu rumahnya, kemarin siang (20/4). Rumah itu tak begitu besar. Namun terlihat nyaman karena semua perabotnya ditata rapi. Puluhan buku berbagai judul juga tertata rapi di sudut rumah itu.
Perempuan itu adalah Titim Fatmawati. Rumahnya berada di Jalan Kawi Nomor 88 Kelurahan/Kecamatan Sukorejo Kota Blitar. Perempuan itu beri sambutan hangat saat wartawan Koran ini mengunjunginya.
Titim merupakan pendiri komunitas Sahabat Perempuan dan Anak atau yang kerap dikenal dengan SAPUAN. Dia sudah lama mengabdikan diri sebagai aktivis perempuan.
"Karena memang dorongan dari hati dan diri sendiri. Intinya dulu saya termotivasi mau membantu para perempuan ini untuk mencari jati dirinya supaya memiliki kehidupan yang lebih layak," tuturnya.
Ibu dua anak itu mengaku, kawasan lokalisasi menjadi tempat pertama memulai kegiatannya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Berbekal keyakinan dan niat yang kuat, dia pergi seorang diri ke tempat lokalisasi, pada 2000 silam. Kala itu, meski tak mudah dan kerap dipandang aneh, tekadnya bulat. Yakni membatu memberdayakan perempuan di sana.
"Ya pasti dianggap aneh dan banyak omong. Saya berkerudung terus ke sana (lokalisasi, Red) pasti dilihat aneh. Tapi karena saya mau memberdayakan mereka, ya saya jalani pendekatan ke mereka," katanya.
Upaya pendekatan itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Titim hampir sekitar 10 tahun pendekatan secara one by one di lokalisasi. Dirinya menghampiri satu per satu perempuan yang bersedia untuk diajak berbincang.
Titim meceritakan, dia tak pernah memaksa penghuni lokalisasi untuk berhenti dan sebagainya. Sebab, seperti diketahui, mereka di sana juga belum tentu keinginan sendiri. “Untuk itu saya ke sana itu semata karena kita sama-sama perempuan, saya membantu mereka mendapat pengetahuan yang bisa memulihkan mereka," beber perempuan yang kini berusia 42 tahun itu.
Pasca ditutupnya lokalisasi, Titim mengaku tak sedikit perempuan dari sana yang datang untuk dibantu memperoleh kehidupan yang layak. Melalui saran dari rekannya yang juga organisasi ataupun komunitas khusus perempuan dan anak, dia pun dapat membantu para perempuan tersebut.
"Dulu medsos belum gencar seperti sekarang. Ya, cuma telepon saja dengan teman di luar kota untuk membantu saya mencari jalan keluar bagi perempuan-perempuan eks lokalisasi itu. Dan alhamdulillah mereka terbantu," terangnya.
Perempuan ramah itu lantas memutuskan mendirikan komunitas sahabat perempuan dan anak (SAPUAN) sekitar 2015 lalu. Sebab, kala itu belum ada pergerakan ataupun wadah khusus bagi perempuan dan anak untuk memperoleh perlindungan.
"Meskipun saya pas itu tidak kuliah, bersama dengan rekan yang mau menemani. Saya yakin bisa memberikan tempat bagi perempuan yang merupakan penyintas atau korban kekerasan dan sebagainya," tuturnya.
Usai mendirikan komunitas itulah Titim mulai menjajal bangku perkuliahan. Katanya, dia tak ragu meski usianya tak lagi muda untuk menjadi seorang mahasiswa. Selain itu, dirinya ingin ilmu yang diperolehnya dapat mempermudah dalam membantu para perempuan untuk mendapatkan haknya.
Tak sampai di situ, Titim juga turut mengagas berdirinya sekolah perempuan. Sekolah perempuan tersebut dibuat khusus bagi perempuan untuk mendapatkan edukasi. Tak hanya remaja perempuan, tapi juga menyasar ibu-ibu untuk saling terbuka dalam menyampaikan pengalamannya.
"Kami mau mereka dapat ilmu, kewirausahaan, parenting, reproduksi, dan sebagainya. Ini sebagai wadah untuk kita saling sharing pengalaman. Jadi kami sisipkan edukasi di samping mereka terbantu ekonominya," tandasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq