Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Pedagang Kolang-kaling pada Ramadan 1442

Choirurrozaq • Jumat, 23 April 2021 | 18:08 WIB
cerita-pedagang-kolang-kaling-pada-ramadan-1442
cerita-pedagang-kolang-kaling-pada-ramadan-1442


Semringah di wajah para pedagang kolang-kaling di Pasar Basah pada Ramadan kali ini hanya hitungan hari. Lonjakan konsumen kolang-kaling cuma bertahan lima hari. Para pedagang menilai karena masih dalam situasi pandemi Covid-19. 


 


HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Kota, Radar Trenggalek



KOLANG-KALING menjadi salah satu bahan campuran aneka minuman segar yang sangat diminati di waktu Ramadan. Tak jarang, buah yang dikenal khas karena saat dikunyah terasa kenyal itu banyak diserbu orang saat momen bulan suci ini. Namun, lonjakan konsumen kolang-kaling tiba-tiba merosot akibat kemunculan pandemi Covid-19 pada Maret 2020. Tak disangka pandemi itu belum sepenuhnya hilang meski sudah berumur satu tahun. 


Kolang-kaling memiliki ciri khas kekenyalannya. Namun, kolang-kaling atau buat atap ini dapat ditandai dengan bentuknya yang oval, lonjong, dan berwarna putih transparan layaknya warna daging kelapa muda.


Pengunjung Pasar Basah bisa menemukan salah satu pedagang di dekat pintu masuk utama pasar. "Ada tiga pedagang kolang-kaling di pasar ini," ungkap pedagang kolang-kaling, Ikhsanuddin. 


Menurut dia, pedagang kolang-kaling sebelum pandemi membeludak, apalagi saat Ramadan, bisa mencapai 10 lebih di pasar. Namun kini jumlah pedagang kolang-kaling semakin berkurang seiring ada pandemi Covid-19. Karena situasi dan kondisi saat pandemi membuat pengunjung pasar sepi sehingga konsumen kolang-kaling pun menjadi sepi. 


Ikhsanuddin mengaku, saat jelang hari pertama puasa Ramadan 1442, konsumen kolang-kaling memang melonjak. Per hari penjualan kolang-kaling habis 5 kilogram (kg). Beranjak puasa hari kedua dan ketiga, daya beli makin meningkat. Namun mulai menurun hari keempat dan stabil di hari kelima. "Sehari bisa jual sampai 10 kg saat banyak pembeli," ucapnya.


Ketika daya beli masyarakat meningkat, harga jual seiring naik. Pada harga normal, kolang-kaling dijual Rp 17 ribu per kg. Sampai dengan kemarin (21/4), harga jual mencapai Rp 22 ribu. "Konsumen mulai turun sekarang, hanya momen awal-awal puasa banyak dan biasanya saat menjelang lebaran nanti," ujarnya. 


Dalam kondisi tersebut, Ikhsan -panggilannya- mengatakan, para pedagang kolang-kaling biasanya mengambil cara membatasi stok barang untuk menekan angka kerugian. Pembatasan itu dilakukan ketika tren konsumen mengalami penurunan. "Jadi biasanya nyetok 7 kg per hari agar aman," kata dia.


Senada seperti diungkapkan Kasini (pedagang kolang-kaling lainnya, Red). Menurutnya, awal memasuki bulan Ramadan, penjualan kolang-kaling meningkat dua kali lipat. Indikasinya, pada hari-hari biasa penjualan bisa sampai 20 kg per hari. Tapi saat Ramadan bisa mencapai 50-60 kg per hari. "Pembelinya tidak hanya masyarakat untuk hidangan berbuka, tapi juga penjual es dawet," ucapnya. 


Selain kolang-kaling, kata Kasini, penjualan janggelan juga mengalami peningkatan daya beli di bulan Ramadan. Kini harga janggelan per potong Rp 3 ribu. "Ini juga banyak warga yang membeli janggelen," tutupnya. (*)

Editor : Choirurrozaq