Menciptakan suatu usaha, selain bisa menguntungkan diri-sendiri, juga harus bisa meningkatkan perekonomian warga sekitar. Inilah yang dilakukan oleh Meigik Sugiharto yang selama 20 tahun ini membuat kopi luwak. Pasalnya, dia melibatkan petani kopi lokal dalam menyetok biji kopi yang digunakan.
ZAKI JAZAI, Kota, Radar Trenggalek
Tidak ada yang mengelak jika kopi luwak merupakan kopi mewah yang memiliki harga tinggi. Itu terjadi karena berkat cita rasanya yang lembut dan bersahabat dengan jantung maupun lambung. Sehingga kopi jenis ini sudah banyak diekspor ke berbagai negara. Namun, siapa sangka jika di Kota Keripik Tempe ada seorang yang menjadi salah satu penghasil kopi luwak tersebut. Ya, dia adalah Meigik Sugiharto, pria yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di lingkup Pemkab Trenggalek.
Ditemui Jawa Pos Radar Trenggalek di rumahnya yang berada di Desa Dawuhan, Kecamatan Trenggalek, terlihat Meigik tengah sibuk mengambil kotoran luwak peliharaan. Setelah itu, dia memberi makan luwak peliharaan tersebut dengan berbagai macam buah-buahan. Tidak ada yang aneh dari aktivitas tersebut. Namun jika dilihat secara saksama, kotoran yang diambil bukan sembarang kotoran. Melainkan kotoran yang menghasilkan kopi luwak. Untuk itu, dia menempatkan kotoran tersebut dalam suatu wadah untuk proses penjemuran. "Memang agak menjijikkan. Namun setelah dijemur sekitar tiga hari dan benar-benar kering 1 kilo kotoran ini harganya bisa Rp 1,5 juta bahkan lebih," ungkap Meigik kepada Koran ini.
Namun, jangan salah kaprah. Sebab untuk memperoleh harga sebesar itu, butuh proses panjang yang harus dilalui. Bermula dari pemberian makan biji kopi yang benar-benar matang di pohon dengan warna merah cerah kepada luwak. Sebab, dalam proses ini hewan luwak memiliki naluri sendiri untuk memakan biji kopi yang benar-benar matang. Sehingga untuk biji kopi yang kurang matang ditinggalkan begitu saja. Setelah itu, ditunggu sekitar tiga jam, luwak akan menghasilkan feses atau kotoran yang di dalamnya terdapat biji kopi yang sudah mengelupas dari kulitnya. Sebab, pencernaan luwak tidak bisa memproses biji kopi tersebut sehingga keluar masih dalam bentuk utuh. "Karena itu, biasanya sore hari sekitar pukul 15.00 saya memberi makan luwak dengan biji kopi dan magribnya kopi luwak telah jadi," katanya.
Setelah itu, barulah kotoran luwak yang terdapat biji kopi dijemur. Untuk waktu penjemuran tergantung cuaca. Biasanya jika tidak mendung, proses penjemuran memakan waktu sekitar tiga jam agar benar-benar kering. Selanjutnya, kotoran luwak yang telah kering tersebut disimpan dalam wadah dan siap ditunjukkan jika ada yang ingin membelinya dalam bentuk masih kotoran. Ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan para konsumen. Sebab, jika dijual dalam bentuk sudah menjadi bubuk, para konsumen akan meragukan keasliannya.
Setelah itu, jika ada pembeli, barulah kotoran tersebut diambil hanya biji kopi luwak untuk dibersihkan. Sedangkan untuk pembersihan, bisa dikatakan najis luwak dilakukan sesuai dengan syariat Islam selama proses pembuatan kopi. Barulah biji kopi yang sudah dibersihkan dijemur hingga kelembapannya mencapai 12 persen. Setelah kering, biji dikupas menggunakan alat pengupas. Biji yang sudah lepas dari kulit arinya dipilah berdasarkan bentuk dan juga ukuran yang selanjutnya digoreng dengan sistem sangrai. Proses penggorengan tidak boleh asal-asalan. Sebab, biji kopi tidak boleh terlalu gosong, hanya cukup berwarna kekuningan atau aroma harum keluar. Agar cita rasa kopi semakin sempurna, proses pembakaran menggunakan arang dari batok kelapa. Setelah itu, barulah kopi ditumbuk.
Dengan proses seperti itu, konsumen tak ragu membeli kopi luwak buatannya karena dipastikan keasliannya. Bahkan, konsumen dari berbagai negara seperti Denmark, Makau, dan sebagainya tak canggung untuk datang langsung guna membeli kopi luwak buatannya. Untuk harga, dirinya mematok harga pasar, sekitar Rp 1,5 juta per kg dalam bentuk bubuk. Kendati demikian, juga ada beberapa konsumen yang memilih membeli kopi luwak masih dalam bentuk kotoran. "Selain menjualnya, saya juga mengonsumsinya sendiri. Sebab, kopi ini menyehatkan," jelas pria yang saat ini menjabat sebagai kasi fasilitasi dan permodalan dinas koperasi, usaha mikro, dan perdagangan (diskomidag) ini.
Selain itu, dengan sebagai pembuat kopi luwak, dirinya juga ingin menciptakan ekosistem bisnis di wilayahnya. Itu terbukti selain kopi yang didapat dari para petani lokal, dirinya juga menanam berbagai tanaman seperti pisang dan pepaya untuk makanan luwak. Sebab, selain kopi merupakan tumbuhan musiman, jika satu hari saja hanya diberi makan kopi luwak bisa keracunan. "Karena itu, setelah memberi makan kopi, saya langsung memberinya makan buah-buahan agar gizinya tercukupi," tandasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq