Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Kirani dalam Mengembalikan Eksistensi Kebaya di Tulungagung

Choirurrozaq • Sabtu, 1 Mei 2021 | 22:03 WIB
cerita-kirani-dalam-mengembalikan-eksistensi-kebaya-di-tulungagung
cerita-kirani-dalam-mengembalikan-eksistensi-kebaya-di-tulungagung

Berawal dari kecintaannya terhadap kebudayaan, Kirani, perempuan asal Kelurahan Kutoanyar, Kecamatan Tulungagung memutuskan untuk fokus mengembalikan eksistensi kebaya di Tulungagung. Khususnya bagi anak muda yang kini masih melihat kebaya hanya sekedar busana dan melupakan arti pentingnya busana tersebut. Yakni simbol perjuangan dan kewibawaan perempuan.


 


MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Kota, Radar Tulungagung


 


Cara unik dilakukan oleh Kirani, seorang perempuan yang konsen dalam melestarikan budaya berkebaya di Tulungagung. Yakni dengan menggunakan kebaya dalam keseharianya di mana pun tempatnya. Bahkan, tak jarang orang yang melihatnya merasa aneh dengannya. Namun, dari situlah dia mulai menyadarkan kembali makna kebaya dalam kehidupan perempuan. “Jadi setiap kegiatan apa pun atau aktivitas di luar rumah, saya bersama dengan teman-teman berkomitmen untuk menggunakan kebaya. Ini merupakan salah satu cara untuk mengenalkan budaya berkebaya,” tuturnya.


Perempuan yang tumbuh dewasa di Pulau Dewata itu mengungkapkan, kebaya itu bukan hanya sekadar busana semata. Menurut dia, kebaya itu memiliki makna filosofi. Hal itu menjadi sebuah simbol perjuangan perempuan Indonesia serta mengingatkan kembali mengenai asa dan perilaku bangsa. “Kenapa saya memutuskan untuk melestarikan kebaya karena itu muncul dalam diri saya. Yakni cinta terhadap budaya bangsa,” ungkapnya.


Kini banyak kalangan muda yang sudah melupakan kebaya. Bahkan mereka lebih bangga mengenakan baju yang berasal dari budaya barat ketimbang dengan baju kebaya yang menjadi warisan leluhur bangsa. Tentu ini menjadi sebuah tantangan bagi dirinya dan teman-temanya yang juga ikut melestarikan kebaya di Tulungagung. “Berkebaya untuk sekarang bukanlah perkara mudah. Kadang banyak anak muda yang menganggap berkebaya itu ribet. Merespons hal semacam itu, saya akan memberikan edukasi kepada mereka agar muncul kesadaran dan cinta kepada budaya sendiri. Setidaknya mengenalkan bahwa berkebaya itu mengasyikkan,” terangnya.


Perempuan yang sudah 10 tahun menggeluti pelestarian budaya kebaya itu menjelaskan, berdasarkan pengalamannya, sebenarnya untuk mencipatakan remaja untuk mencintai kebaya itu harus dimulai dari ruang lingkup kecil dahulu, seperti dari keluarga. Hal ini juga dia terapkan dalam keluarganya. Dan menjadi hal yang sangat efektif menciptakan kesadaran berkebaya. “Memang kuncinya adalah pemahaman. Dan tidak perlu khawatir karena sekarang sudah banyak kebaya modern, meski tidak meninggalkan pakem budaya berkebaya. Jadi menyesuaikan dengan zaman kini, yang tentunya sudah banyak anak muda mulai tertarik dengan berkebaya,” jelasnya.


Tak hanya itu, perempuan anak satu itu mengatakan, hampir di mana pun dia singgah, pasti dirinya akan membeli kebaya khas dari daerah tersebut. Bahkan, sering kali dia membeli kain dan mendesain sendiri kebayanya.


Kirani berpesan, sudah menjadi tugas bersama untuk menjaga dan melestarikan budaya, khususnya berkebaya. “Karena kita semua adalah pewaris bangsa, maka sudah menjadi tugas kita melestarikan kebudayaan. Kalau bukan kita, lantas siapa lagi,” pungkasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq