Budi daya ikan koi untuk kontes punya tantangan tersendiri bagi M. Fahmi Aulia. Dia sadar betul harus merogoh kocek cukup dalam untuk memaksimalkan perawatan. Namun, hal itu berbanding lurus dengan segudang prestasi yang berhasil diraih.
FIMA PURWANTI, Kanigoro, Radar Blitar
Suara gemericik air terdengar nyaring saat memasuki ruangan khusus berisi kolam yang dihuni ratusan ekor ikan koi. Di dalam ruangan itu terdapat sekitar enam kolam berbagai ukuran. Selain itu, dikelilingi puluhan akuarium kaca yang cukup besar. Jelas terlihat ruangan itu didesain khusus sebagai tempat menampung ikan koi untuk beragam kebutuhan.
M. Fahmi Aulia merupakan pemilik ikan-ikan itu. Sore kemarin (10/5), pria ramah itu nampak memberi pakan ikan koi miliknya. Dia jongkok di pinggir salah satu kolam. Kemudian menaburkan pakan sesuai takaran. Dia juga terlihat beberapa kali mengganti pakan.
Pria yang kerap disapa Fahmi itu mengaku mulai tertarik dengan ikan koi saat menggarap pekerjaan yang mengharuskannya paham betul dengan tempat penampungan ikan. Kala itu ada seorang klien yang meminta dibuatkan kolam ikan koi di rumah. Meski awam tentang hal tersebut, dia harus tetap profesional dalam melakukan pekerjaannya. Untuk itu, dirinya mulai mempelajari seluk beluk bangunan khusus untuk kolam ikan koi.
"Awal mula tertarik dengan koi itu justru karena kerjaan mengharuskan saya tahu banyak dengan kebutuhan perawatan ikan koi. Dari situ saya mulai beli ikan koi untuk dipelihara," ungkapnya.
Memelihara ikan koi menjadi kegiatan baru bagi warga Kelurahan/Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar itu. Tepatnya sekitar pertengahan 2016. Merawat ikan koi menjadi kegiatannya untuk melepas penat dari pekerjaan. Seiring berjalannya waktu, dia mulai tertarik dengan kontes ikan koi berkat ajakan rekannya.
"Awalnya pelihara untuk pribadi, tapi ternyata pemilik koi yang saya beli itu bilang kalau ikan itu bisa ikut kontes. Karena penasaran dan tertarik, coba ikutan dan ternyata benar. Koi yang saya bawa menang," ujarnya.
Membawa pulang piagam pertama melalui koi kontes membuat Fahmi termotivasi. Dia makin bersemangat melirik dunia koi. Alhasil, hampir setiap waktu senggangnya digunakan berburu ikan koi untuk diikutkan kontes. Bahkan tak sedikit pendapatannya disisihkan untuk menyalurkan hobinya itu.
"Awal-awal ya kaget dengan harga koi kontes yang cukup tinggi. Tapi kelamaan ya biasa karena memang ikannya ada kelebihan," tuturnya.
Pemahaman mengenai koi makin melekat pada dirinya. Sampai akhirnya berusia 37 tahun, dirinya mulai menjajal pemijahan koi untuk kali pertama. Ikan koi yang pertama dibelinya digunakan sebagai indukan.
"Sepertinya karena faktor keberuntungan juga. Ikan yang saya pijahkan itu berhasil. Walaupun enggak semua masuk kriteria ikan kontes, hasilnya lumayan," imbuhnya.
Selang waktu berjalan, tepat sekitar dua tahun lalu pria yang juga berprofesi sebagai arsitek itu makin serius menggeluti pemijahan ikan koi kontes. Terbukti, halaman belakang rumahnya disulap menjadi ruangan khusus sebagai kolam ikan koi. Tak tanggung-tanggung, interiornya dibuat sedetail mungkin agar tampak menarik.
"Di ruangan utama ini, untuk kolam filter ikan dan karantina ikan dasaran kontes. Kemudian untuk pemijahan pake ruang khusus yang dulunya itu tak pakai gudang perkakas kerjaan," akunya.
Nyatanya, proses pemijahan maupun perawatan ikan koi kontes tak melulu mulus dan berhasil. Sebab, hanya sekitar 1 persen hasil pemijahan yang masuk dalam kategori layak kontes. Selain itu, perhatian khusus harus dilakukan untuk bisa menghasilkan dan menjaga koi kontes yang berkualitas super.
"Harus benar-benar kasih perhatian khusus. Perawatannya harus maksimal. Termasuk saat ikut kontes. Saya pernah rugi hampir senilai satu unit motor karena ikannya mati semua pas perjalanan pulang," katanya pria berkaus hitam itu.
Fahmi mengakui memang harus merogoh kantong cukup dalam untuk merawat ikan koi kontes miliknya. Tak main-main, sekitar Rp 10 juta dipakai untuk membeli pakan ikan per bulannya. Katanya, setiap ikan koi miliknya memiliki kebutuhan yang berbeda-beda sehingga tak bisa sembarangan memilih pakan. Seperti misalnya, ikan koi dengan warna merah kurang pekat akan diberi pakan khusus agar warnanya lebih menarik.
"Kalau untuk biaya listrik ya hampir sekitar dua juta per bulan karena memang listrik itu penting untuk pelihara ikan. Ini saya juga sedia genset karena sering ada pemadaman listrik," bebernya.
Kendati harus ekstra dalam melakukan budi daya ikan koi kontes, Fahmi tak kapok. Sebab, dengan berhasil membuat ikan koi kualitas super, kerap mengantarkannya membawa segudang prestasi pada kontes ikan koi. Tak jarang ikan koi miliknya menyabet juara pada ajang kontes ikan koi tingkat nasional.
"Yang paling berkesan ya pas kontes koi se-Asia tahun 2018 lalu. Alhamdulillah dari delapan ekor ikan yang kami bawa, lima ekor bawa pulang juara semua," tuturnya.
Fahmi mengaku masih akan terus menggeluti dunia ikan koi kontes. Sebab, antusiasme dan pontesi ikan koi di Blitar akan semakin eksis. Bahkan tidak kalah dengan ikan koi impor dari negara lain.
"Sebenarnya kualitas ikan koi dari petani kita enggak kalah sama koi impor. Bahkan lebih bagus dan tinggi harga. Cuma kadang orang masih tergiur sama label impor. Jadi kami, petani ikan, harus tetap bisa jaga kualitas biar enggak kalah saing," pungkasnya. (*)
Editor : Choirurrozaq