Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sehari Tiga Kilogram Cabai, Jujugan yang Doyan Pedas

Choirurrozaq • Kamis, 20 Mei 2021 | 18:34 WIB
sehari-tiga-kilogram-cabai-jujugan-yang-doyan-pedas
sehari-tiga-kilogram-cabai-jujugan-yang-doyan-pedas

Kuliner malam juga tidak kalah eksisnya. Banyak diburu orang terutama kalangan muda-mudi. Terutama yang bercita rasa pedas. Seperti kuliner Nasi Mercon milik Riyanah yang mangkal di depan Pasar Wlingi tiap malam.


 


MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH, Wlingi, Radar Blitar


 


Uap putih terlihat mengepul di bawah temaram lampu malam itu. Aroma sedap langsung tercium seketika. Menusuk hidung.


 


Berbagai macam lauk tersaji di meja berukuran 1x2 meter. Lauk ayam mendominasi. Termasuk jeroannya. Ada yang berkuah dan ada yang tidak. Tinggal pilih sesuai selera.


 


Yang pasti, semua lauk itu berbumbu pedas. Tidak ada yang tidak pedas. Hhmmm...


Namanya saja Nasi Mercon. Pasti bikin mulut dan lidah kepanasan kena "ledakan" pedasnya. Heheee


 


Ya, Nasi Mercon, salah satu kuliner malam yang ada di Wlingi. Kuliner makanan pedas itu bisa jadi pilihan teman-teman yang ingin menikmati makan malam hari. Khusus bagi pecinta makanan pedas lho yaa, kalau yang tak suka pedas, minggir dulu.. Hihii.


 


Kuliner nasi Mercon ini bisa ditemui di depan Pasar Wlingi. Lokasi persisnya berada di sebelah selatan pintu utama pasar. Penjualnya adalah Bu Riyanah. Kuliner pedas itu diklaim yang pertama di Wlingi.


 


Namanya kuliner malam, bukanya ya malam hari. Di Pasar Wlingi, warung Nasi Mercon itu buka mulai pukul 22.00 sampai habis. "Kalau di rumah, saya juga buka. Yakni mulai pukul 6 malam hingga pukul 10 malam. Setelah itu, baru pindah jualan ke pasar," ungkap Riyanah yang mulai berjualan Nasi Mercon sejak 2012.


 


Saat berkunjung ke warungnya di Pasar Wlingi, kondisi sudah ramai dengan pembeli. Sebagian ada yang makan di lokasi dan sebagian lain duduk mengantre giliran dilayani. Warung nasi mercon tersebut memanfaatkan lahar parkir pasar.


 


Satu per satu pembeli yang mengantre dilayani. "Mau apa ini mas," tanya Bu Riyanah dengan cepat kepada seorang pembeli. Dengan cepat pembeli langsung menjawab dan memilih lauk.


 


Bu Riyanah yang sudah siap dengan kertas bungkus berisi nasi di tangannya langsung mengambil lauk demi lauk yang diminta pembeli. Usai melayani bungkusan, giliran melayani pembeli yang makan di warung.


 


Tak lama kemudian, koran ini mendapat giliran. Ada sejumlah menu makanan yang dijual. Di antaranya, selain nasi mercon, ada krengsengan, ayam kare, ayam pedas, ayam panggang, kikil pedas, sayur lodeh hingga pecel.


 


Karena baru pertama berkunjung, saya mencoba nasi mercon. Mercon sendiri ternyata sejenis olahan ati dan ampela ayam yang dimasak dengan bumbu pedas. Tak cukup hanya nasi mercon, saya minta tambahkan krengsengan, dan telur ceplok.


 


Untuk minum, cukup teh hangat meski ada pilihan lain. Mulai kopi, jeruk hangat dan lain sebagainya.


 


Tiba waktunya menyantap racikan nasi mercon tersebut. Suapan pertama nasi mercon meluncur masuk ke mulut. Namun, belum terasa sensasi pedasnya.


 


Lanjut suapan kedua, ketiga dan seterusnya, barulah terasa sensasi merconnya. Mulut langsung terasa panas. Sedikit demi sedikit keringat mulai bercucuran di wajah. Ledakan merconnya benar-benar nendang di mulut.


 


Bagi saya tingkat kepedasan nasi Mercon tersebut sudah cukup. Selain sensasi pedasnya, cita rasa makanannya juga tak kalah mantab. Kaya akan bumbu rempah-rempah.


 


Riyanah mengungkapkan, dinamai nasi mercon karena rasanya yang pedas. Seolah pedasnya "meledak" di dalam mulut. "Karena pedasnya poll," ujarnya lantas tertawa.


 


Untuk menciptakan rasa tentunya Riyanah membutuhkan sambal yang tidak sedikit. Dalam sekali masak menu Mercon, dia membutuhkan sedikitnya tiga kilogram cabe rawit.


 


Tak cukup itu, dia juga menambahkan cabe besar. "Untuk cabe besar cukup 1,5 kilogram," ungkapnya.


 


Riyanah mengaku, tak begitu mempermasalahkan harga cabe yang fluktuatif. Apalagi ketika harga cabe sedang melonjak tinggi-tingginya. Tak ada siasat untuk mengurangi porsi cabe atau mengganti dengan alternatif rasa pedas yang lain.


 


Dia tidak ingin cita rasa masakannya berubah gara-gara mengurangi porsi. Dia tetap mempertahankan kualitas rasa pedasnya. "Mau untung atau rugi nggak masalah. Yang penting cita rasa tetap dijaga agar pelanggan tak kecewa," ungkapnya.


 


Selama ini, pelanggan nasi Mercon Bu Riyanah bukan hanya warga Wlingi dan sekitarnya. Melainkan juga datang dari berbagai penjuru di Blitar Raya. "Bahkan sampai orang Kota Blitar datang ke sini beli. Pastinya datang dari mana saja kok," akunya.


 


Kebanyakan pelanggan yang menikmati kuliner Nasi Mercon Bu Riyanah berasal dari kalangan anak muda. Sebagian mereka ada yang dimakan langsung di tempat, ada juga yang dibungkus untuk di bawa pulang.


 


Nah, untuk harga nasi Mercon cukup ramah di kantong kok. Satu porsi nasi Mercon berkisar Rp 8-10 ribu. Belum ditambah dengan lauk lainnya. Tentu harga akan bertambah.


 


Warung Nasi Mercon Bu Riyanah ini buka  setiap hari. Warung mulai buka pukul 17.00-22.00 khusus jualan di rumah depan SMPN 2 Wlingi dan buka lagi di halaman parkir depan Pasar Wlingi pukul 22.00 hingga habis. (*)

Editor : Choirurrozaq