Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dari Kolektor Alat Pembuat Kopi, Farid Rifai Tekuni Roastery

Choirurrozaq • Kamis, 20 Mei 2021 | 20:08 WIB
dari-kolektor-alat-pembuat-kopi-farid-rifai-tekuni-roastery
dari-kolektor-alat-pembuat-kopi-farid-rifai-tekuni-roastery


Bisa raih juara III Manual Brewing Kabupaten Trenggalek adalah hal yang tak terbayangkan sebelumnya bagi Farid Rifai. Namun, prestasi itu membuat Farid yakin memutuskan menjadi seorang roastery. Dia bercita-cita bisa menemukan olahan kopi yang dapat dinikmati bukan hanya kaum Adam, melainkan juga Hawa. 





HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Kota, Radar Trenggalek, 


 


NGABUBURIT ala Farid Rifai pada Ramadan lalu berbeda dengan kebanyakan orang. Dia memilih berada di bengkel kopinya yang berada tepat di depan rumahnya, Desa Dawuhan, Kecamatan Trenggalek. Farid menyebut bengkel kopinya Coffee Roastery, sebuah ruangan yang khusus untuk mengolah kopi dari mentah sampai menjadi bubuk. 


Coffee Roastery milik Farid cukup luas, memiliki ukuran sekitar 7x4 meter. Hampir di tiap sudut ruangan, dipenuhi dengan bubuk-bubuk kopi. Namun, dari semua kopi yang berada di bengkel Farid, itu memiliki jenis kopi arabika.


Kopi jenis itu diambil dari luar Trenggalek karena tanaman kopi Arabika bisa tumbuh maksimal apabila ditanam dengan ketinggian 1.200-1.900 mdpl. Hanya daerah-daerah tertentu yang memiliki ketinggian seperti itu sehingga untuk mendapatkan kopi tersebut, biasanya Farid membelinya hingga ke Malang.  


Perjalanan Farid sampai menjadi roasting bermula dari hobinya sejak 2017 yang suka mengoleksi alat-alat pengolah kopi. Hobi itu muncul ketika Farid kepincut dengan rasa kopi filter karena rasa kopinya yang benar-benar asli. Sejak saat itu, Farid mulai mengoleksi alat pengolah kopi. "Dulu awalnya cuma suka mengoleksi saja," ungkap pria ramah tersebut. 


Farid tak menyangka, pada 2020 dia terpilih sebagai pemuda yang berkesempatan untuk sekolah roastery di Jember dari program Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Kabupaten Trenggalek. Kesempatan itu pun tak disia-siakannya sehingga Farid mulai memperdalam profesi roastery.


Dari sekolah itu, anak pertama dari dua bersaudara itu mengaku belajar tentang cita rasa dasar kopi. Misal tingkat kepahitan, keasaman, kemanisan, keasinan, hingga ketebalan kopi saat diseduh. Materi-materi itu Farid dapatkan hanya dalam lima hari saja saat sekolah roastery. Dan selebihnya, Farid mengembangkan materi itu melalui bengkel Coffee Roastery-nya. "Setiap kopi memiliki keunikannya sendiri dan itu ciri khas kopi," ujarnya. 


Rostering, kata Farid, adalah sebuah tantangan untuk bisa memunculkan cita rasa kopi yang orisinal. Secara teknis, proses memunculkan cita rasa kopi itu kompleks, mulai dari grade kopi, pengaturan suhu, hingga tingkat kehalusan kopi. "Semakin halus kopi, itu rasanya makin tebal dan makin pahit," cetusnya. 


Pemuda kelahiran 1997 itu mengakui bahwa ada yang menganggap kopi itu memicu asam lambung. Menurut dia, yang memperkuat asam lambung pada kopi sebenarnya bukan kopinya saja, melainkan juga campuran dari kopi. Khususnya kopi Arabika, kata Farid, memang dikenal dengan low caffein sehingga intensitas memicu asam lambung itu minim. "Kopi tubruk seperti robusta itu dikenal lebih kuat rasanya," ucapnya. 


Bereksperimen dengan kopi selama hampir setahun ternyata berbuah manis. Tepat pada 16 Desember 2020, Farid meraih juara III kontes Manual Brewing atau pengolah kopi tanpa menggunakan mesin espresso. Kopi jenis ini dikenal dengan kopi tanpa ampas, yang memungkinkan penikmat kopi original tidak mencampurkan kopi dengan susu atau gula untuk mempertahankan cita rasa kopi yang sesungguhnya. 


Setelah meraih juara III, Farid makin konsisten menekuni profesi sebagai pengolah kopi arabika. Dia memiliki cita-cita dapat mengubah mindset bahwa cita rasa kopi tidak hanya kuat, yang dinikmati kalangan pria. Tapi kopi juga ada yang punya rasa halus sehingga memungkinkan untuk dinikmati kaum wanita. "Untuk itu, saya fokus pada light roast, mengolah kopi dengan rasa enteng, tidak pahit, tapi kopi original," ucapnya. 


Di sisi lain, produksi kopi original milik Farid kini mencapai 11 varian kopi. Tiap pack kopinya dibanderol dengan harga Rp 50 ribu hingga Rp 125 ribu. "Permintaan selama ini kebanyakan dari Tulungagung, Kediri, Jakarta, dan Makasar, selain dari Trenggalek," tutupnya. (*

Editor : Choirurrozaq