Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Eko Yuli Isnanto Tetap Bersemangat Membuat Kerajinan Tangan

Choirurrozaq • Selasa, 25 Mei 2021 | 16:20 WIB
cerita-eko-yuli-isnanto-tetap-bersemangat-membuat-kerajinan-tangan
cerita-eko-yuli-isnanto-tetap-bersemangat-membuat-kerajinan-tangan

Didiagnosis mengalami kelainan metabolisme hingga kelebihan berat badan, tak menjadi halangan Eko Yuli Isnanto untuk terus bekerja. Meskipun untuk berdiri sulit, Eko dengan telaten menekuni pekerjaan sebagai perajin untuk memenuhi kebutuhan hidup.


 


HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Gandusari, Radar Trenggalek


 


AKTIVITAS Eko Yuli Isnanto tak seaktif teman-teman seumurannya. Dia suka beraktivitas di luar. Tapi karena kelebihan berat badan, membuatnya tak mampu berdiri lama-lama. Sehingga hidupnya kini banyak dihabiskan dengan duduk di halaman depan rumahnya.


Eko sudah putus sekolah selepas SD lalu. Di usia 16 tahun yang mestinya sudah di jenjang SMA, dia justru belajar mandiri untuk mencukupi kebutuhan hidup. Untuk itu, aktivitas keseharian Eko disibukkan dengan membuat kerajinan batok kelapa, reyeng, pot bunga, dan servis elektronik. "Apa saja, mengikuti permintaan konsumen," ucap pria yang memiliki bobot lebih dari 139 kilogram tersebut.


Pengetahuan Eko menjadi seorang perajin cangkang kelapa, bermula dari melihat peralatan dapur ibunya yang sudah usang. Mengetahui itu, dia terinspirasi untuk membuat centong sayur atau irus. Melalui YouTube, anak semata wayang itu belajar cara membuat kerajinan cangkang kelapa. "Sering nonton, di situ saya mengamati cara buatnya," ucap pria kelahiran 2005 itu.


Semangat dan ketelatenan yang dimiliki Eko membuat produktivitas kerajinannya cukup banyak. Per hari, dia mampu memproduksi  kerajinan cangkang kelapa hingga 20 buah dan reyeng hingga 200 biji. Produksi itu dilakukan dari mulai pukul 07.00 hingga 12.00 WIB. "Cangkang kelapa dan reyeng ini paling laris, jadi produksi banyak di situ," kata dia.


Dari sisi pemasaran, produk kerajinan Eko dibantu Suyanti (ibunya, Red) karena keterbatasan fisiknya. Sehingga tiap hari ibunya menjualkan kerajinan itu ke Pasar Kampak. "Menjual dengan cara memasarkan ke pasar, tidak diambil pedagang lalu dijualkan," sambung Suyanti. Sementara setiap kerajinan cangkang kelapa dan reyeng milik Eko dijual dihargai Rp 3 ribu.


Suyanti bercerita, kelebihan berat badan yang dialami anaknya atau overweight terjadi sejak duduk di bangku kelas V SD. Menurut dia, anaknya terlahir dengan bobot yang normal. Namun beranjak kelas V, bobotnya bertambah terus. "Sebenarnya makannya normal, tiga kali sehari dengan porsi normal. Cuma minumnya yang agak banyak," kata dia.


Melihat aktivitas Eko, Suyanti bersyukur anaknya bisa memiliki aktivitas yang positif. Dia mengaku Eko pernah hendak memberikan semua penghasilannya untuk membantu ekonomi keluarga, tapi Suyanti menolaknya agar penghasilan itu bisa membantu untuk memenuhi kebutuhannya. "Saya menolak karena penghasilan itu bisa buat beli pulsa dan internet," ujarnya.


Sebagai orang tua, kata Suyanti, memiliki harapan agar anaknya bisa memiliki berat badan yang ideal. Namun, keterbatasan ekonomi membuatnya tak mampu untuk memenuhi biaya perawatan. "Sebenarnya mau dirawat di Malang, tapi kami tak mampu untuk biaya akomodasinya," ujarnya.


Sementara itu, perawat Desa Jajar, Kecamatan Gandusari, Nurma Yulita membenarkan, pendampingan kesehatan Eko sudah sampai pada pengajuan melalui puskesmas sampai rumah sakit daerah. Tanggapan yang bagus, tapi keluarga berkata lain masih terbengkalai dengan faktor ekonomi.


 


"Perawat desa dan pemerintah desa mengawal kesehatan Eko tersebut secara berkala, sampai dengan tingkat rumah sakit daerah. Rumah Sakit Daerah memberi fasilitas rujukan untuk perawatan di Rumah Sakit Malang, tapi keluarga berkata lain karena terbatasnya ekonomi untuk akomodasi keluarga memilih merawat Eko seadanya," tegasnya.


Nurma juga menambahkan, dari segi pola makan Eko, dianggap normal-normal saja. Sehari makan tiga kali, tapi hasil pemeriksaan dari rumah sakit daerah ada indikasi kelainan metabolisme dalam tubuh. (*)

Editor : Choirurrozaq