Memelihara burung, selain untuk menyalurkan hobi, juga bisa sebagai pekerjaan sampingan. Hal itulah yang dilakukan Sudianto lebih dari 21 tahun. Di tengah pekerjaannya sebagai pegawai negeri sipil (PNS), dia masih memelihara jenis burung anggungan hingga satu ekor burung ternakannya tersebut ada yang laku jutaan rupiah.
ZAKI JAZAI, Kota, Radar Trenggalek
Suara anggungan burung terdengar nyaring ketika Jawa Pos Radar Trenggalek mengunjungi salah satu rumah di Desa Karangsoko, Kecamatan Trenggalek, kemarin (30/5). Ternyata suara anggungan tersebut berasal dari beberapa burung yang digantang di teras rumah. Sehingga jika dinikmati, suara yang silih bersahutan tersebut semakin indah.
Bersamaan itu, terlihat seorang pria keluar dari halaman belakang rumah. Ya, dialah Sudianto, pemilik rumah tersebut sekaligus peternak burung anggungan tersebut. Saat itu, dirinya sedang melihat anakan burung yang akan dipindahkandangkan karena dinilai sudah dewasa. “Beginilah aktivitas saya ketika akhir pekan dan tidak ada tugas kerja yang kebanyakan dihabiskan untuk melihat burung,” ungkap Sudianto.
Ternyata, aktivitas seperti itulah yang ditekuninya ketika hari libur mulai sekitar tahun 2020 lalu. Kendati demikian, sebelum tahun tersebut, dirinya telah memelihara burung anggungan tersebut. Sebab, sejak kecil dirinya suka memelihara hewan hingga ingin menekuninya. Itu ditunjukkan sebelum menekuni budi daya burung. Terlebih dahulu ketika masih menjadi seorang pegawai swasta. Sambil menjalankan tugas pekerjaannya, dirinya melihat berbagai hewan peliharaan. Dari situ secara tidak disangka, dirinya mulai tertarik memelihara burung anggungan.
”Mulai tekun memelihara burung anggungan pada tahun itu (2002, Red) setelah kembali ke Trenggalek. Sebab, sebelumnya bekerja di luar kota. Jenis burung anggungan yang kali pertama saya pelihara adalah derkuku kelantan,” katanya.
Sebenarnya pria yang akrab disapa Itok oleh teman-temannya ini suka segala jenis burung dan ingin memeliharanya. Namun, dirinya memutuskan untuk menekuni memelihara burung anggungan karena proses perawatannya lebih mudah daripada jenis burung kicau. Sebab, hanya memberi makan jenis biji-bijian. Jika dirinya ada tugas dinas luar dengan waktu lebih dari satu hari, dirinya cukup menyiapkan biji-bijan. Sehingga keluarganya yang berada di rumah yang memberikan pakan burung tersebut. Jika tidak ada orang di rumah, cukup mengganti tempat pakan dan minum dengan ukuran yang lebih besar untuk memberi pakan dengan prosi yang bisa untuk beberapa hari.
Sedangkan untuk proses pembudidayaan sendiri, dilakukan dengan mencari indukan, yaitu pejantan dan betina yang baik. Sehingga jika ada burung yang baru saja memenangkan kontes atau memiliki trah juara, dirinya langsung mendekati pemilik untuk membeli peranakan atau saudara dari burung tersebut dengan indukan yang sama. Dari setelah beberapa pasang indukan yang dimiliki, setiap pasangan mengalami proses perkawinan dengan menyatukannya dalam satu kandang hingga proses bertelur dan menetas.
Setelah menetas, anakan burung harus dipelihara dengan baik. Juga memberikan cincin sebagai penanda di kaki burung tersebut. Khusus untuk burung perkutut, tidak main-main dalam pemberian cicin ini. Seekor burung perkutut dipakai tiga cincin, itu sebagai penanda kandang, merek, dan registrasi nomor burung.
Cara yang dilakukan tersebut terbilang sukses untuk membudidayakan burung yang memiliki suara anggungan berkualitas. Itu dibuktikan ketika burung miliknya diikutkan dalam berbagai kontes di berbagai daerah, seperti Surabaya, Jogjakarta, Tulungagung, dan sebagainya, selalu mendapatkan juara. Tak ayal, hal tersebut membuat burung anggungan budi dayanya tersebut sering diminati para pencinta dari daerah lain. Sehingga dirinya kewalahan menangani permintaan yang terus berdatangan. Tak main-main, permintaan tersebut datang dari pencinta burung anggungan area Jawa-Bali. Kendati banyak pencinta burung dari luar pulau yang berminat, hal itu urung dilakukan karena terkendala masalah pengiriman.
Untuk saat ini, dirinya membudidayakan empat jenis burung anggungan yang semuanya diakui kualitasnya. Empat jenis burung anggungan tersebut seperti derkuku kelantan, derkuku warna, puter pelung, dan perkutut Bangkok. Untuk harganya cukup bervariasi, dilihat dari jenis burung. Untuk jenis biasa, setelah burung dipisahkan dari induknya, termurah adalah puter pelung yang diberi harga minimal Rp 250 ribu. Untuk derkuku kelantan mulai Rp 500 ribu. Sedangkan derkuku warna dan perkutut Bangkok di atas Rp 750 ribu.”Itu untuk burung biasa. Sebab untuk keturunan juara, untuk anakan yang baru dipisahkan dari indukan pastinya di atas Rp 1 juta, kendati itu puter pelung,” jelas pria yang kesehariannya bekerja sebagai PNS di Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Trenggalek ini. (*)
Editor : Choirurrozaq