Zero limbah, begitulah kira-kira tujuan utama Etik Tri Wahyuni dalam memanfaatkan limbah kain perca. Di tangan dinginnya, limbah kain ini dikombinasikan menjadi kerajinan sospeso yang menarik dan bernilai ekonomi tinggi.
ANANIAS AYUNDA PRIMASTUTI, Gondang, Radar Tulungagung
Tak sulit menemukan kediaman Etik Tri Wahyuni yang berada di Desa Tiudan, Kecamatan Gondang. Hunian berdesain modern minimalis bernuansa kalem ini menjadi tempatnya untuk mencari pundi-pundi rupiah. Maklum, profesinya sebagai tukang rias pengantin membuatnya dikenal ramah di mata para tetangganya. “Mangga-mangga silakan masuk, maaf kalau tempatnya sedikit berantakan,” sapanya ketika melihat kedatangan Koran ini.
Selain berprofesi sebagai tukang rias, Etik juga seorang pembuat aneka kerajinan tangan (crafter). Salah satunya terampil membuat kerajinan sospeso. Yakni sebuah kerajinan yang memanfaatkan teknik memotong dan menempel kain atau kertas bermotif dengan menekankan dimensi. Sehingga gambar yang dihasilkan terlihat 3 dimensi (3D).
Karena tergolong unik dan belum banyak yang menekuni, wanita 43 tahun ini pun lantas mengambil peluang tersebut. Kepada Koran ini, dia pun menceritakan bagaiamana awal mula dapat menekuni kerajinan yang berasal dari Italia ini. Saat itu sekitar 2018 silam, saat asyik bermain gawai, dia mengetahui kerajinan tersebut. Lantas tak lama kemudian, dia pun mengikuti pelatihan kerajinan di Surabaya. “Saat itu ada kesempatan ikut pelatihan kerajinan. Dari situ saya belajar banyak mengenai kerajinan sospeso ini,” jelasnya mengawali cerita.
Modal pelatihan tersebutlah yang kemudian dikembangkan oleh Etik sebagai cikal bakal menekuni sospeso. Selain karena unik, menurutnya kerajinan ini menjadi upayanya dalam mengurangi dan menanggulangi limbah kain. Sebab, limbah kain menjadi salah satu permasalahan lingkungan. Ini karena sifat kain yang tidak dapat diurai.
Untuk itu, wanita cantik ini kerap luru limbah kain dari teman-teman penjahit yang menjadi langganannya. Kain bermotif atau batik menjadi incarannya dalam membuat kerajinan sospeso. “Paling suka kalau dapat kain batik yang memiliki motif bunga atau daun yang cukup banyak. Karena akan sangat bisa dimanfaatkan kembali,” bebernya.
Disinggung mengenai proses pembuatan, Etik menjelaskan, langkah awal yang dilakukan yakni memilah dan memilih motif kain yang akan digunakan. Jika sudah, gunting kain sesuai motif yang diinginkan. Misalkan motif bunga, hewan, atau daun. Selanjutnya, dengan memanfaatkan lembaran plastik mika dengan ketebalan 0,25 milimeter (mm), motif-motif yang telah digunting ditempel ke dalam mika menggunakan lem kayu atau lem khusus sospeso.
Jika sudah, gunting gambar sesuai kebutuhan dengan rapi. Selanjutnya, masuk proses pemanasan. Proses ini terbilang poin dari seluruh proses. Dengan menggunakan nyala api pada lilin, bagian mika dipanaskan dan ditekan menggunakan alat khusus untuk memperoleh bentuk sesuai dengan gambar yang diinginkan. “Fungsi pemanasan di sini untuk membentuk agar gambar-gambar yang sudah digunting terlihat lebih hidup. Suatu misal kelopak bunga ini kita bentuk seperti menjuntai ke luar atau dalam untuk menghasilkan bentuk 3D,” urainya.
Usai dipanaskan dan dibentuk, lantas gambar-gambar ini dapat ditempel pada tas tangan (clutch), dompet, tas jinjing, hingga dimanfaatkan untuk menjadi bros. Terbaru, Etik mengombinasikan kerajinan sospeso kreasinya ini dengan tas belanja dari limbah plastik. Tas belanja yang dianggap murah karena hanya digunakan untuk belanja ke pasar dapat terlihat lebih cantik dengan hiasan dari sospeso. Bahkan, dapat dimanfaatkan sebagai tas parsel atau hampers. “Dengan begini kan tas atau barang yang dianggap remeh bisa terlihat lebih cantik. Bahkan, bisa untuk oleh-oleh pada orang terkasih,” terangnya.
Untuk proses produksi, Etik hanya dibantu sang buah hati. Namun secara keseluruhan, proses dikerjakan sendiri. Terutama pada saat proses pemanasan. Untuk itu, dalam satu hari dia mampu menghasilkan 2 hingga 4 tas belanja sospeso sekaligus. Sementara untuk promosi dan pemasaran, dia pun hanya memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan WhatsApp. Namun, pelanggannya telah datang dari berbagai kota. Seperti Trenggalek, Kediri, dan Blitar. “Puji Tuhan ternyata banyak yang berminat dengan kreasi saya. Ini membuat saya semakin semangat untuk membuat kreasi baru,” imbuhnya.
Untuk itu, dalam beberapa waktu ke depan, warga Desa Tiudan, Kecamatan Gondang ini ingin mengembangkan kerajinan sospeso miliknya. Bahkan jika memungkinkan, ingin menggelar pelatihan khusus kerajinan sospeso. Sebab, kerajinan sospeso masih dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk berbagai barang agar terlihat lebih cantik. (*)
Editor : Choirurrozaq