Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita di Balik Penemuan Sumur Tua

Choirurrozaq • Rabu, 2 Juni 2021 | 16:25 WIB
cerita-di-balik-penemuan-sumur-tua
cerita-di-balik-penemuan-sumur-tua

Siapa pun pasti akan penasaran dengan peninggalan sejarah yang sudah berumur ratusan tahun. Seperti penemuan sumur tua yang diduga peninggalan Kerajaan Majapahit di Desa Wajak Lor, Kecamatan Boyolangu yang sempat menggegerkan warga setempat Jumat lalu (28/5). Rencananya kawasan tersebut hendak dijadikan musala, tapi malah menemukan benda bersejarah.


 


MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Boyolangu, Radar Tulungagung


 


Ketika itu, di Desa Wajak Lor, Kecamatan Boyolangu, tidak jauh dari jalan utama, yakni sekitar 30 meter (m). Dari kejauhan terdengar orang-orang yang sedang membicarakan


penumuan benda peninggalan sejarah. Setelah dilihat dari dekat, ternyata benda bersejarah itu adalah sumur tua yang diduga peninggalan Kerajaan Majapahit. Sontak hal itu menyedot animo warga sekitar.


Kepala Desa Wajak Lor, Aries Febrianto mengungkapkan, penemuan sumur tua itu di dekat persawahan, tanah milik Subiantoro yang sudah dilakukan tukar guling tanah dengan pemerintah desa (pemdes). Kawan tersebut memiliki luas sekitar 30 ru. Dulunya di kawasan tersebut memang digunakan untuk menanam beberapa tanaman sepeti empon-empon. “Selain itu, di kawasan penemuan sumur tua itu juga dulunya digunakan untuk membuat batu bata. Nah, ketika hendak dibersihkan, ditemukanlah sumur tua itu,” ungkapnya.


Sumur tua yang ditemukan itu diduga merupakan bekas peninggalan Kerajaan Majapahit jika dilihat dari bentuknya. Diketahui bahwa sumur tua itu memiliki diameter sekitar 60 sentimeter (cm), dengan kedalaman sekitar 1,8 m. “Setiap buisnya memiliki panjang 30 cm. Diperkirakan sumur tua itu memiliki tujuh hingga delapan buis,” terangnya.


Pria 35 tahun itu menjelaskan, memang rencananya kawasan penemuan sumur tua itu akan dijadikan sebagai musala. Hal itu agar masyarakat yang bekerja di sawah bisa beristirahat dan memudahkan masyarakat beribadah ketika bekerja di sawah. “Jadi banyak masyarakat yang bekerja di sawah. Karena jarak antara sawah dengan tempat ibadah sangat jauh, makanya dibuatkan musala,” jelasnya.


Dengan penemuan sumur tua yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit itu, pihaknya akan tetap menjalankan rencana membuat musala. Namun, bukan berarti menghilangkan sumur tua tersebut. Malah, pihaknya akan menjadikan sumur tua itu sebagai cagar budaya dengan menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah. “Kami akan melestarikan dan menjaga sumur tua itu sebagai cagar budaya. Khususnya menggandeng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) untuk mengawasi keberadaan sumur tua. Dan rencana pembangunan musala akan tetap dilakukan dengan tetap menjaga keaslian daripada sumur tersebut,” paparnya.


Saat disinggung mengenai ada beberapa sesajen di sekitar sumur tua tersebut, Aries -sapaan akrabnya- mengatakan bahwa tidak mengetahui betul maksud dan tujuannya. Namun, setelah ditemukan sumur tua peninggalan Kerajaan Majapahit itu, memang sering ditemukan benda seperti bunga, kopi, telur dan sebagainya. “Semenjak ditemukan sumur tua itu, memang ada yang memberikan barang-barang semacam itu, yang kemudian dikaitkan dengan hal-hal mistis,” pungkasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq