Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mendorongnya Jadi Perajin Barongan

Choirurrozaq • Kamis, 3 Juni 2021 | 16:20 WIB
mendorongnya-jadi-perajin-barongan
mendorongnya-jadi-perajin-barongan

Kesabaran para pekerja seni memang diuji sejak ada pandemi Covid-19. Efek pandemi membuat tingkat konsumen barongan lesu karena masih diberlakukan pelarangan pentas seni jaranan. Kendati sepi konsumen, Yayang Novrianto tetap setia memproduksi barongan.


 


HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Gandusari, Radar Trenggalek


 


DI TENGAH keterbatasan pendengaran, Yayang Novrianto bukan orang yang pasrah akan keadaan. Dia tetap gigih menekuni kerajinan barongan. Tak terasa, profesi itu sudah berjalan selama 8 tahun.


Pria kelahiran 1989 ini bercerita, dulu sewaktu kecil pernah jatuh. Ketika itu indera pendengarannya masih berfungsi dengan baik. Namun, dia tak menyangka efek jatuh itu muncul lima tahun belakangan. Mulanya, Yayang menyadari telinga terus-terusan berdengung. Suara itu akan mengeras apabila ada suara yang berisik.


Berbagai pengobatan telah ditempuh bersama keluarganya, tapi kesembuhan belum ditemukan pria yang memiliki julukan Gumbreg ini, "Saya agak tidak kedengaran Mas, karena saat masih kecil pernah jatuh. Dan efeknya 5 tahun ini terasa sekali, rasanya berdengung. Saya pun harus menggunakan alat bantu pendengaran," kata Gumbreg.


Keterbatasan yang dialaminya bukan sebuah halangan untuk bangkit menafkahi keluarga dan anaknya yang masih berumur 1 tahun. Memiliki darah seorang seniman jaranan menginspirasi Gumbreg untuk memproduksi barongan. "Kalau dari keturunan sudah ada darah seniman. Juga tertanam nilai hobi. Di situlah saya beranikan diri untuk membuat kerajinan barongan untuk dijual," terangnya.


Sebelum pandemi Covid-19, barongan karya Gumbreg  sering dikirim ke Sumatera dan Kalimantan. Dalam sebulan, permintaan barongan bisa mencapai 10 pesanan. Tiap barongan memiliki harga yang berbeda, tergantung ukuran dan jenisnya. Namun, estimasi harga sekitar Rp 900 ribu hingga Rp 1,5 juta. "Kalau selama pandemi sepi. Dua pesanan dalam sebulan itu saja sudah beruntung," ungkapnya.


Bahan baku utama dari kayu waru yang dibeli dari perusahaan Somel (tempat penampungan kayu, Red) yang ada di seputaran Gandusari. Karakteristik kerajinan barongan Yayang adalah dari cat dan ukirannya yang lebih mengedepankan kerapian. "Bahannya dari kayu waru. Kalau kuncinya dalam dunia seni ya harus tulus hatinya," jelas mantan pemain jaranan Kridho Budoyo ini.


Pembeda barongan dalam senin jaranan yaitu dari bentuknya dan asal daerah. Kalau untuk daerah Kabupaten Trenggalek identik dengan barongan biasa, tidak begitu rumit. Untuk pembuatan barongan, yang paling lama proses pengukiran "jamang" (dadakan, Red).


Nilai-nilai mistis yang ada di dalam barongan bisa dilihat dari letak ukirannya dan jamangnya. Barongan ternyata juga bisa membuat manusia dirasuki setan ketika ada pementasan. "Barongan itu sebenarnya ada nilai-nilai mistisnya. Itu jika barongan tersebut dimasuki dengan pulung. Bahasa mudahnya, setan," tandasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq