Keterbatasan fisik dan usia tidak menjadi penghalang bagi Ani Dewi Astuti untuk unjuk prestasi. Tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Blitar, baru-baru ini dia mampu membawa pulang tiga medali dari tiga cabang olahraga (cabor) berbeda pada Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) Jatim 2021.
FIMA PURWANTI, Talun, Radar Blitar
Perawakannya tak sempurna. Satu kakinya cacat sejak lahir. Tumbuh dan besar hanya dengan satu kaki, tidak membuatnya minder dan putus asa. Justru kekurangan itu menjadikannya sosok perempuan yang mandiri dan tangguh. Semangat pantang menyerah selalu ditanamkan pada diri sendiri sebagai motivasi.
Ani Dewi Astuti namanya. Warga Dukuh Sumberasri, Desa Jeblog, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar ini menyandang tunadaksa atau cacat tubuh sejak lahir. Meski hanya dengan satu kaki, dia tak menyerah untuk terus meraih harapan dan potensi olahraga yang dimilikinya.
Wanita ramah ini menuturkan, mulai tergabung dengan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Blitar sejak 2018. Kala itu dirinya menerima tawaran untuk menjadi atlet paralimpik. Setelah bergabung, dirinya merasa menjadi sosok yang lebih tangguh dari sebelumnya.
"Saya gabung ke NPCI itu sekitar tiga tahun lalu karena ditawari dan tertarik, ya sudah mau ikut gabung. Karena saya mau menjadi orang yang bermanfaat meskipun saya punya kekurangan," ujarnya.
Latihan rutin pun dijalani oleh perempuan yang juga ibu dari dua anak itu. Hebatnya, tak hanya satu cabang olahraga (cabor) yang digelutinya. Tapi ada tiga cabor sekaligus. Di antaranya yakni tolak peluru, lempar cakram, dan lempar lembing.
"Pertamanya ya lihat -lihat saja dan diajarin semua cabor. Tapi enggak tahu kenapa saya malah bisa dan cocok di tiga cabor itu. Dari situ saya tekuni ketiganya," tuturnya.
Semenjak rajin berlatih sebagai seorang atlet, kedua tangannya menjadi aset yang paling berharga. Sebab, dengan kedua tangannya, menjadi tumpuan dan kekuatan terbesar dalam mengikuti latihan. Untuk itu, dia selalu melakukan peregangan sederhana setiap pagi.
Rupanya perempuan yang kini berusia 40 tahun itu sempat merasa berkecil hati karena tak mendapatkan podium saat mengikuti perlombaan paralimpik. Sejak saat itu keinginan untuk naik ke podium seperti rekannya selalu ditanamkan dalam dirinya. Kerap memotivasi diri untuk tak mudah menyerah juga dilakukannya.
"Saya dulu pernah sedih banget pas ikut lomba terus enggak naik ke podium seperti teman-teman saya. Dari situ, saya terus berusaha untuk bisa naik podium seperti mereka," akunya.
Buah dari semangat pantang menyerah serta tak pernah menganggap remeh latihan rutin dipetiknya. Tahun ini, untuk kali pertama perempuan berjilbab itu bisa membawa pulang medali emas dari ajang Pekan Paralimpik Provinsi (Peparprov) Jatim 2021.
"Alhamdulillah kemarin bisa bawa pulang tiga medali. Juara satu tolak peluru, juara dua lempar cakram, sama juara tiga lempar lembing," bebernya semringah.
Kini, jadwal latihan semakin padat. Sebab, dirinya dipastikan bakal mengikuti ajang setara dengan Pekan Olahraga Nasional (PON), yakni Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) yang kabarnya bakal digelar pada akhir tahun ini. Untuk itu, dia mulai menyiapkan fisik dan mental.
"Semoga saja saya dan teman NPCI lainnya bisa membawa nama Kabupaten Blitar. Jadi ke depannya pemerintah daerah bisa melihat dan mendampingi potensi kami. Karena saya yakin masih banyak orang seperti saya yang berpotensi untuk menjadi kebanggaan orang banyak," ungkapnya. (*)
Editor : Choirurrozaq