Anta Sultoni, seorang pengusaha STMJ (susu, telur, madu, jahe) yang memiliki empat outlet di Kabupaten Trenggalek. Dia merintis usaha itu sejak 2014, bermodalkan Rp 2 juta. Jatuh bangun pun pernah dialaminya. Kini omzetnya menyentuh Rp 27 juta per bulan.
HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Panggul, Radar Trenggalek
SUDAH bukan hal yang asing lagi bagi masyarakat tentang STMJ, sebuah minuman yang mencampurkan susu, telur, madu, dan jahe di dalam satu gelas. Minuman itu pun dinilai dapat menambah imun tubuh. Anta Sultoni, salah satu pria kelahiran Desa Nglebeng, Kecamatan Panggul, sukses menjalankan usaha STMJ di Kabupaten Trenggalek.
Sulton, panggilan akrabnya, memulai usaha STMJ sejak 2014. Yang dimulai dari satu outlet. Jatuh bangun menjalani usaha pun pernah dialaminya. Karena tahun itu adalah tahun rintisan, racikan STMJ Sulton belum sempurna sehingga konsumennya sepi, yang membuat usahanya sempat gulung tikar. Namun, Sulton bukan orang yang mudah menyerah. Pada 2017, Sulton memberanikan diri untuk membuka STMJ-nya lagi. Usaha itu pun bertahan hingga kini. "Modal awal itu Rp 2 juta," ujar warga Desa Nglebeng, Kecamatan Panggul itu.
Merintis STMJ, kata Sulton, berbeda dengan berjualan kopi. Dari segi keuntungan, penjual kopi dapat meraup untung lebih tinggi hingga 60 persen. Sementara dari sisi rasa, menurut dia, pembuatan STMJ lebih njelimet karena perlu memadukan bahan dengan kadar yang seimbang agar menghasilkan rasa yang pas. "Sampai sekarang saya masih belajar (meracik STMJ). Tapi saya ingin menghilangkan doktrin di masyarakat kalau STMJ itu selalu amis," ujarnya.
Ayah satu putri itu ingat butuh waktu lama untuk berlatih membuat STMJ yang tidak menghasilkan aroma dan rasa amis. Sulton tak menyebutkan rinci bahan-bahannya. Namun, kata dia, aroma amis telur bebek itu bisa minim. "Mengurangi rasa amis ini menjadi karakter STMJ saya," ucapnya.
Perjalanan usaha pada 2019 menjadi titik awal perkembangan usaha STMJ milik Sulton. Minuman penambah kebugaran tubuh itu terjual hingga 7 liter sehari. Penjualan itu terus berkembang hingga sekarang yang dapat menjual hingga 25 liter dalam sehari. Kenaikan penjualan itu pun berdampak pada omzetnya. "Awal buka itu Rp 8 ribu. Tapi kini naik Rp 12 ribu per gelas karena bahan-bahannya naik. Sekarang omzet rata-rata Rp 900 ribu per harinya," ungkapnya.
Selama pandemi Covid-19, Sulton mengaku daya beli masyarakat mengalami penurunan. Baginya, kondisi itu tak membuatnya putus asa meski usahanya pernah tak seberapa menguntungkan. "Pernah juga pak puk (pengeluaran dan pendapatan sama, Red), tapi tetap dijalani," ujarnya.
Dari hasil usahanya, pria kelahiran 1992 itu mengatakan, tak sedikit penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dia bersyukur hasil jerih payahnya selama ini dapat menjadi tulang punggung keluarga. Dia juga memiliki enam karyawan. Mayoritas lulusan sekolah. "Yang penting anak-anak tidak sampai menganggur," ucapnya.
Kendati Sulton tak lagi aktif berjualan, tapi mengelola manajemen. Dia berharap agar usahanya dapat lebih berkembang. Sehingga bisa memberdayakan pada remaja dan pemuda yang tak memiliki pekerjaan. "Saya menargetkan bisa sampai 16 outlet," ungkapnya. (*)
Editor : Choirurrozaq