Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mengenal Fajar Suwandi, Pelukis Aliran Kejawen

Choirurrozaq • Rabu, 16 Juni 2021 | 01:00 WIB
mengenal-fajar-suwandi-pelukis-aliran-kejawen
mengenal-fajar-suwandi-pelukis-aliran-kejawen

Tak melulu aliran realistis atau abstrak, nampaknya lukisan beraliran kejawen juga harus diperhitungkan. Sebab, bukan cuma unik, tapi juga ada unsur magis dan filosofi Jawa yang mendalam di aliran seni lukis ini. Adalah Fajar Suwandi yang getol melukis aliran kejawen sejak 2000 silam.


ADITYA YUDA SETYA PUTRA, Kepanjenkidul, Radar Blitar


Wajah pria itu tampak serius. Dia mengenakan udeng (ikat kepala, Red) warna hitam. Dia tampak sedang konsentrasi, kemudian menggoreskan kuas ke permukaan kanvas yang ada di hadapannya. Uniknya, aroma dupa tercium begitu kuat di samping pria itu. Dia adalah Fajar Suwandi, pelukis beraliran kejawen yang sedang asyik membuat sebuah lukisan.


Fajar mengungkapkan, bahwa jiwa seni dalam dirinya muncul sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Kala itu, Fajar sudah aktif menggambar, kebetulan dikenalkan kepada dunia seni oleh kakeknya. "Dari kelas II SD memang sudah suka melukis dan menggambar," tuturnya.


Waktu berlalu, begitu lulus dari bangku sekolah, Fajar memutuskan untuk pergi merantau ke Jakarta hingga Lampung demi memperdalam ilmu melukisnya. Di Lampung, dia mulai menerima pesanan dari beberapa klien untuk keperluan lukisan kanvas hingga lukisan dinding. "Lulus sekolah saya merantau ke Lampung. Makanya banyak juga peninggalan karya saya disana," ujar pria asli Semarang ini.


Merasa puas, Fajar lantas pulang ke kampung. Barulah dia berani membuka diri untuk bekerja sebagai pelukis. Tapi, ada satu hal yang unik. Fajar lebih berfokus pada seni lukis beraliran kejawen. Bukan tanpa alasan, dia menilai bahwa aliran kejawen itu lebih ekspresif. Sebab, sang pelukis dituntut untuk memahami filosofi Jawa dimana hal ini merupakan ketenangan baginya.


"Dalam hal kejawen itu bisa menenteramkan jiwa saya, dan bisa menyatu dengan alam sekitar. Karena di dalam seni lukis, apa yang digoreskan di kanvas itu adalah manifestasi dari rasa si pelukis," terang pria yang tinggal di Desa Pojok, Kecamatan Garum ini.


Pria kelahiran 14 Agustus 1977 ini mengaku, ada hal unik yang dilakukan sebelum memulai melukis. Yaitu, dia harus bermeditasi untuk memperoleh inspirasi. "Iya karena meditasi itu untuk mencari wening atau keheningan. Jadi, saya selalu lakukan itu sebelum melukis," terang ayah satu anak ini.


Tak cuma itu, jelas Fajar, juga menyiapkan sejumlah dupa. Alasannya, lebih tenang dan merasa lebih produktif tatkala berkawan dengan aroma dupa saat sedang berkegiatan melukis. "Karena saya tidal bisa lepas dari dupa. Aroma dupa itu membuat tenang. Makanya setiap melukis saya selalu nyalakan dupa," bebernya.


Dibalik itu semua, ada kisah unik yang tak luput diungkapkan kemarin. Yaitu, dia kerap ditipu oleh beberapa orang tak bertanggung jawab. "Pernah juga saya ditipu. Lukisan dibawa lari orang. Kalau saya hitung ada sekitar 60 lukisan lah. Tapi ya tidak apa-apa, saya enjoy saja," ungkapnya. (*)

Editor : Choirurrozaq