Musim giling tebu telah tiba. Ritual manten tebu pun digelar. Sebuah tradisi yang dipercaya dan telah dilakukan oleh warga setempat sejak zaman penjajahan. Prosesi ritual dilakukan sesuai adat Jawa.
MOCHAMMAD SUBCHAN ABDULLAH, Binangun, Radar Blitar
Alunan musik gamelan itu menggema di halaman pabrik penggilingan tebu di Desa Rejoso, Kecamatan Binangun, kemarin (15/6). Nuansa musik Jawa begitu kental.
Pagi itu, prosesi temu manten pun dilakukan. Salah satu bagian dari serangkaian prosesi upacara perkawinan adat Jawa. Namun, prosesi temu manten yang dilakukan kemarin sangatlah berbeda. Manten atau pengantin yang dipertemukan bukanlah manusia, melainkan tebu.
Jenis tanaman untuk bahan baku gula itu dikirab seolah bagaikan sepasang pengantin yang hendak dipertemukan. Pada tradisi manten tebu itu juga sama. Ada dua batang tebu. Yakni tebu jantan yang diberi nama Bagus Anggoro dan tebu betina bernama Nimas Jenar.
Kedua batang tebu itu dinikahkan. Seperti prosesi temu manten, dua batang tebu itu lebih dulu dikirab untuk dipertemukan. Dengan diiringi musik gamelan, dua batang tebu dikirab dari dua tempat untuk dinikahkan. Prosesi upacara adat Jawa pun dilakukan.
Setelah dilakukan temu tebu, lanjut dilakukan midak tigan atau pecah telur. Kemudian, wijikan atau mencuci bonggol tebu. "Agar tebu yang akan dimasukkan ke mesin penggiling suci. Mewakili tebu-tebu lainnya, diharapkan hasil tebu bisa berlipat ganda," terang Susianto, pemandu ritual manten tebu, kepada Koran ini kemarin.
Selanjutnya, manten tebu itu dikirab menuju mesin penggilingan. Setelah dilakukan ritual doa-doa, manten tebu itu langsung dimasukkan ke mesin giling. "Ritual ini sudah menjadi tradisi turun-temurun sejak zaman Belanda. Setiap kali musim giling tebu tiba, selalu dilakukan oleh pabrik," ungkap warga Desa/Kecamatan Selopuro ini.
Khusus di Jawa, menurut dia, tradisi menyambut musim giling tebu ini tidak hanya digelar manten tebu, tapi juga beberapa rangkaian acara lainnya. "Bahkan, dulu acaranya malah tambah besar. Ada yang sampai gelar wayang kulit dan sebagainya," ujar pria ramah ini.
Ritual temu manten tebu itu dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas musim panen tahun ini, sekaligus awal proses penggilingan tebu. Di samping itu, tradisi tersebut diharapkan bisa menjadi budaya lokal dan objek wisata di Kabupaten Blitar. “Ini sudah menjadi ritual tahunan. Saya berharap ritual budaya ini bisa menjadi ajang wisata yang khas di Kabupaten Blitar,” harapnya. (*)
Editor : Choirurrozaq